Tulisan ini terbuat karena saya membaca disuatu website (Indonesia) mengenai semua hal-hal aneh di dunia (bagi website itu).
Dari mengenai kejadian aneh sampai film-film aneh.

Saya membaca suatu tulisan diweb itu berjudul “genre film dewasa yang menjijikkan”, disana mereka membahas film genre xxx ini tidak normal dll…
Tetapi di website itu saya banyak melihat iklan-iklan untuk website lain mengenai perjudian dan film xxx “normal”.

Kenapa kita kadang sempat berkata film ini menjijikkan, film ini bagus, film (porno aneh) ini yang sutradaranya sakit jiwa, atau film porno ini bagus, atau film reality “face of death” sutradaranya sakit jiwa.

Atau disaat kita melihat seseorang wanita dengan memakai celana yang sangat pendek yang hampir tidak ada bedanya dengan celana dalam lalu kita berucap dalam hati wanita itu tidak tahu malu atau tidak punya sopan santun, sedangkan kita sendiri memakai rok mini merasa diterima orang dan tidak merasa ini porno dan masih sopan ?

Kita melihat penyanyi lady gaga berpakaian sexy misalnya normal itu suatu seni, dan kita menghujat dangdut koplo dimana penyanyinya melantunkan lagu seperti orang yang sedang merangsang dan tentu lenggak lenggoknya juga sangat mengundang dan pasti pakaiannyapun lebih dramatis bagi kaum pria dan kita menghujatnya itu sangat salah…

Bahkan saya pernah melihat suatu video 3gp di handphone….dangdut koplo dinyanyikan sampai telanjang disuatu desa…

Karena setiap orang mempunyai Skala penerimaan  atau standard atau limit masing-masing bahwa ini salah dan benar.

Pada tahap ini saya tidak berbicara iman tapi skala mana dalam batas-batas seseorang itu menentukan mana yang masih diterimanya adalah benar dan mana yang tidak diterimanya bagi dia salah, saya berbicara secara general, manusia bisa saja tidak begitu memahami pada agama yang dianutnya…

Kita merasa pas atau benar berdasarkan dimana kita berada, berkelompok, bergaul, bermasyarakat.

Semua ini mempunyai skala atau saya sebut skala…dan skala itu bisa berubah bisa naik dan turun bergantung waktu dan intensitas kita seberapa dalam kita berada pada posisi itu.

Dalam perkumpulan anak-anak muda yang biasa kebut-kebutan di jalan raya, hal ini menjadi hal biasa…tapi sewaktu yang lain mengajak sambil taruhan ada yang menerima dan ada yang tidak dan akhirnya menerima dan sepakat semua berani taruhan…pada hal yang lebih besar ada yang mengajak sambil merampok toko misalnya, eiiitsss tunggu dulu ini saya tidak bisa menerimanya karena ini “Kriminal”.

Anda lihat, mana yang diterima mana yang tidak diterima, dan ada yang berkata tidak menerima karena itu perbuatan kriminal.

Padahal Berjudi itu kriminal juga di negara Indonesia dan kebut-kebutan di jalan raya melanggar undang-undang lalu lintas. Artinya mereka bertindak atau memutuskan mana yang boleh dan tidak berdasarkan skala bergantung dimana dia bergaul dan berdasarkan nilai-nilai yang selama ini dia rasakan.

Sangat sering kita secara sadar atau tidak sadar mengubah suatu skala penilaian…sayapun sering merasa seperti itu.
Skala ini pedoman berdasarkan banyak hal..mulai pergaulan, kejadian sehari-hari, dimana kita berada dll dll.

Skala ini umumnya kita anggap atau terapkan sebagai hasil patokan mana yang benar dan salah berdasar nilai-nilai sosial kemanusiaan kita secara alami.

Misal skala itu dalam bentuk angka 1 s/d 10, maka dalam keseharian kita kadang berlaku pada kita 8 atau bahkan kita lampaui 11 misalnya atau bahkan kita lipat dua-kan menjadi 20.

Kita ambil contoh (anggap saja ini tidak berdasarkan agama, tapi berdasarkan rasionalitas kita pada saat itu) :

Kita sehari-hari menyukai lagu house music, suatu saat teman mengajak ke diskostik dan kita bukan orang yang terbiasa dengan diskotik, pertama kita menolaknya dan karena teman yang mengajak banyak maka jadilah kita ke diskotik dan kenapa tidak menurut kita toh kita menyukai juga house music…kita tidak merasa salah kediskotik tapi kita merasa kurang bermanfaat saja….

Sampai di diskotik, terbawalah kita ke “suasana diskotik”…disana kita mulai ditawarkan minuman ber-alkohol…

Seperti yang kita tahu minuman itu dapat memabukkan (kita tidak tahu itu haram atau tidak), membuat kita kurang berpikir rasional dll, karena skala kita pada saat itu belum sampai untuk bermabuk-mabukan dan kita menolaknya.

Tapi akhirnya beberapa teman manawarkan secara terus menerus mulailah anda mendobrak atau menaikkan skala atau standard sedikti demi sedikit…anda mulai mencicipi sedikit…dan feel good..dan terus menambah….

Misalnya saat itu anda merasa nyaman dan normal dengan berpakaian sedikit sexy, tapi melihat wanita yang berpakaian jauh lebih sexy lagi misalnya pertama anda tidak melihatnya normal, tapi tidak untuk kedua dan ketiga kali ke diskotik tersebut..mungkin anda akan menaikkan skala anda menjadi lebih sexy lagi…bagi anda toh ini di diskotik…

Kejadian diatas (ke diskotik) bisa berulang dan berulang dan intensitas atau skala yang bisa anda terima saat itu mulai meningkat dan meningkat terus…mungkin dengan sekian kali ke diskotik skala anda sudah jauh meningkat, mengenai apa yang kita dulu tidak terima menjadi diterima…misalnya anda ketagihan minuman keras dan bahkan obat terlarang…bahkan seks bebas yang dulu sangat tidak anda terima, akhirnya kita lakukan dengan biasa-biasa saja…

Saya mau…orang itu mau…apa yang salah ? Skala kita secara sadar atau tidak sadar meningkat sudah sampai ketahap ini.

Memang beberapa orang banyak berpikir…seperti kejadian diskotik tadi, itu tidak terjadi pada setiap orang…dan kita berdalih bahwa semua orang mempunyai filter masing-masing…

Itukan menurut kita…artinya ini ada fenomena negatif yang kuat dan ada filter pada setiap orang.
Jadi kenapa tidak kita hindari saja fenomena negatif itu, bukannya itu cara yang lebih mudah ?
Dan setiap orang mungkin tidak sama filternya seperti yang anda punya….

Sadar atau tidak sadar kita akan cepat mengatakan atau merespon itu salah dan ini benar.

Orang yang berjalan, bersepeda, berparade secara telanjang dengan cepat kita mengatakan ini tidak benar.
Karena apa ? Karena kita menggunakan sudut pandang kita dimana kita sebagai orang yang berpikir berbikini ini normal di daerah kita…misalnya…

Semua skala ini kita dijalani, kita terima, kita turunkan atau kita naikkan karena apa ? Karena kita tidak ada pedoman pasti dalam hidup…

Jangan bilang tidak kita naikkan dan turunkan dalam hal skala ini atau standard pada kehidupan di dunia ini, cepat atau lambat skala ini pasti berubah…

Contoh di Amerika berbikini itu tabu pada tahun-tahun lalu….
Bahkan di Injil wanita yang tidak memakai penutup kepala itu tabu dan bagi wanita yang melakukannya harus di gunduli…

Atau anda bisa lihat skala perubahan cara berpakaian dalam masyarakat modern di usa, coba tontonlah film “Gran Torino” yang dimainkan oleh Clint Eastwood, dimana clint eastwood tidak menyukai cara berpakaian pada kebanyakan keponakannya sedangkan ia sendiri bukanlah penganut kristen yang taat…

Anda lihat dia tidak menyukai cara berpakaian keponakannya yang sudah jauh berubah dan tidak normal bagi dia dimana di kitab injil diapun tidak dibenarkan dan dia sendiri bukan Kristen yang taat. Jadi inilah skala mana yang diterima mana yang tidak oleh clint eastwood.

Nah yang menyedihkan adalah kita terlebih kita orang islam bisa membuat skala tapi tidak mampu membuat skala itu berdasarkan Al-Quran…padahal semua orang islam tahu Al-Quran itu panduan dunia dan akhirat.

Kita orang islam kadang tahu ini salah dan benar tapi kita masih melakukan yang salah, okelah…manusia pasti berdosa, bahkan yang dinamakan iman itupun pasti ada naik dan turun dalam kehidupan kita..

Kita tahu itu salah mudah-mudahan itu tidak akan kita lakukan lagi pada bertambahnya umur kita…

Saya pribadipun merasa banyak melakukan dosa dan disaat itu saya tahu itu berdosa…dan saya berusaha sebisa mungkin memperbaikinya dengan shalat dan berusaha jangan sampai melakukannya lagi karena itu akan menodai shalat / amal kita.

Mudah-mudahan dengan usaha diatas akan semakin membuat kita memperbaiki skala tadi dalam menentukan mana yang benar dan yang salah…mana yang normal dan mana yang tidak normal…

Memang ada juga orang islam yang sama sekali tidak tahu bahwa itu salah atau benar sehingga dia tidak mengetahuii misalnya meminum beer (alkohol) itu haram, karena kesehariannya mulai dari lahir dari keluarga islam, maka islam-lah dia, kesehariannya sibuk belajar bekerja untuk duniawi saja sehingga tidak sempat mempelajari agamanya sendiri…bahkan tidak sempat shalat sama sekali….

Betapa dia merugi dengan melupakan islam, bahkan jika dia punya anak dan anaknya pun “jika” terjerumus dengan pola hidup orang tuanya seperti diatas, Anak-pun akan menuntut orang tua kenapa tidak diajarkan mengenai agama semasa dia hidup di dunia sehingga ia terjerumus ke dalam neraka…

Karena kita tahu anak adalah tanggung jawab orang tua…dia ibarat kertas yang masih belum dicoret-coret pada waktu dilahirkan…

Mudah-mudahan orang islam seperti itu akan cepat tersadar akan kekeliruannya, cepat mendapat petunjuk dari allah…sebab akan celakalah dia di akhirat nanti karena waktu di dunia ini sangat tidak ada artinya di akhirat.

Kita manusia sebagai orang yang belajar dengan apa saja…kita tahu 1 hari itu kita tentukan 24 jam karena bumi berputar dan dalam satu putaran itu memerlukan waktu selama 24 jam.
Sedangkan di Planet Venus saja 1 hari di venus = 243 hari dibumi, artinya venus itu menyelesaikan 1 putaran memerlukan waktu 243 hari.
Ini baru di venus dimana dia “hanya” 1 planet dari sistem tata surya kita yang terdiri dari 1 matahari dan 9 Planet.
Itu baru 1 tata surya, dan mungkin ada milyaran tata-surya dalam 1 Galaxy.
Seperti yang kita pelajari umumnya di sekolah, Galaxy kita namanya Bima Sakti atau Milky Way, dan mungkin ada bermilyar Galaxy di alam semesta ini seperti Bima Sakti. Karena Alam semesta sampai saat ini belum bisa dipetakan secara keseluruhan.

Gambaran hari diatas baru gambaran 1 hari Venus yang dekat yang tidak mampu kita jangkau untuk kesana…

Apa yang kita ketahui, ilmu apapun itu…tidak ada bandingannya dengan hal-hal yang belum kita ketahui di alam semesta ini…laut saja belum mampu kita membuat petanya secara baik seperti peta permukaan.

Lihat pada video dibawah ini, mudah-mudahan kita tersadar akan siapa diri kita sebenarnya.

Betapa kejam kita terhadap diri sendiri jika kita tidak mau mempelajari agama kita dan menerapkannya dan meremehkan waktu yang sangat singkat di dunia ini.

Sejujurnya jika kita ingin menerapkan suatu skala yang benar (menurut kita) tentu kita akan mempunyai pedoman.

Orang Islam tentu berpedoman dengan islam, orang kristen tentu berpedoman dengan Injil dan agama lain tentu dengan kitabnya masing-masing.

Karena kitab agama apapun tujuannya adalah pedoman kehidupan pada kehidupan saat ini dan nanti.
Ini baik dan ini tidak baik sebelum kita menentukan sesuatu itu karena ada pedoman dalam hidup kita…

Contoh sederhana, orang yang mencuri barang kita, dengan pasti kita menyebutnya salah (jika sebabnya memang salah si pencuri)…karena di kehidupan bermasyarakat mencuri itu tidak dibenarkan…dan juga pada setiap agama hal ini tidak di benarkan…

Jika ada orang dari negari antah berantah yang berkeberatan dengan perbuatan dengan standard / skala pencurian ini tidak salah dalam hukum negaranya, maka dengan berani kita bertanya, agama apa yang dia anut sehingga menyebabkan dia berkesimpulan mencuri itu tidak salah ?

Dan setahu kita hanya Monyet atau hewan mencuri makanan dan tidak merasa bersalah sama-sekali…

Mengapa (secara reflek) kita bisa membuat statement atau pernyataan dari hukum negara dan jika dibantah pencuri itu lalu kita menyambungnya dengan statement yand disebutkan oleh agama ?

Sedangkan untuk perbuatan yang lain yang kita merasa itu salah tapi kita tidak mampu menyatakan hal benar dalam hukum agama yang kita anut ?

Hanya hati kita masing-masing yang menjawabnya….

Sekarang….seberapa luas sebetulnya kerajaan allah ini, silahkan lihat videonya dibawah ini.

Mohon maaf jika ada kata-kata yang salah

Iklan