Tulisan dibawah ini memang menurut saya benar, dan aneh banyak orang yang mengetahui mengenai ini, tapi masih melakukannya…bahkan saya dulu sering melihat orang yang (maaf) tidak mampu…bela2in mengumpulkan uang untuk memewahkan kuburan keluarganya…

Jika ada orang tua yang meninggal, tiada lain untuk membantunya dialam sana adalah dengan mendoakannya (dilakukan oleh anaknya)…bukankan mengenai ini semua sudah tahu, tapi masih juga memewahkan kuburan (bagi orang islam) ?

Akibat terlalu cinta dengan duniawi ?

Untuk Apa gunanya bagi si Mayit ?

Sumber

————————————-

  • 1. Bismilllah. Assalamu’alaikum. Twit ini disusun karena melihat fenomena perlakuan terhadap kuburan belakangan ini.
  • 2. Twit ini hanya sebagai nasehat buat kita semua, agar lbh mengerti. Hingga kelak bermanfa’at untuk kita semua kemudian hari.
  • 3. Fenomena ini terjadi apalagi jika kubur tersebut adalah kuburan wali, sunan, kyai ataukah ustadz kondang, so pasti begitu diistimewakan.
  • 4. Apa dengan membuat kuburan yang mewah dengan bangunan yang istimewa di atasnya dapat bermanfaat untuk mayit yang berada dalam kubur?
  • 5. Tentu mereka tidak butuh perlindungan sebagaimana perlindungan atap yang kita butuh di rumah kita.
  • 6. Begitu pula mereka tidak butuh penerangan seperti cahaya yang selalu kita butuh di kegelapan.
  • 7. Karena sekarang alam kita dan alam mayit itu berbeda. Kita tidak tahu kebutuhan mereka karena hal ini masuk ranah ghoib.
  • 8. Sekarang, akan kami sedikit mengulas larangan mengistimewakan kuburan dengan mendirikan bangunan di atasnya.
  • 9. Dari Jundab, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
  • 10. “Ingatlah bahwa orang sebelum kalian, mereka telah menjadikan kubur nabi dan orang sholeh mereka sebagai masjid.
  • 11. Ingatlah, janganlah jadikan kubur menjadi masjid. Sungguh aku benar-benar melarang dari yang demikian” (HR. Muslim no. 532).
  • 12. Ummu Salamah pernah menceritakan kpd Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai gereja yg ia lihat di Habaysah yg disebut Mariyah
  • 13. Ia menceritakan pada beliau apa yang ia lihat yang di dalamnya terdapat gambar-gambar.
  • 14. Lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
  • 15. “Mereka adalah kaum yang jika hamba atau orang sholeh mati di tengah-tengah mereka, maka mereka membangun masjid di atas kuburnya.
  • 16. Lantas mereka membuat gambar-gambar (orang sholeh) tersebut. Mereka inilah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah” (HR. Bukhari no. 434).
  • 17. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
  • 18. “Allah melaknat org Yahudi & Nashrani di mana mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid” (HR. Bukhari 1330 & Muslim 529).
  • 19. Sekarang kita lihat larangan yang dimaksud adalah dan membuat bangunan atau rumah atau memasang kijing (marmer) di atas kubur
  • 20. Pertama, perkataan ‘Ali bin Abi Tholib,
  • 21. Dari Abul Hayyaj Al Asadi, ia berkata, “‘Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku,
  • 22. “Sungguh aku mengutusmu dengan sesuatu yang Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah mengutusku dengan perintah tersebut.
  • 23. Yaitu jgn engkau biarkan patung (gambar) melainkan engkau musnahkan & jangan biarkan kubur tinggi dari tanah melainkan engkau ratakan.”
  • 24. (HR. Muslim no. 969).
  • 25. Syaikh Musthofa Al Bugho -pakar Syafi’i saat ini- mengatakan,
  • Content from Twitter
  • 26. “Boleh kubur dinaikkan sedikit satu jengkal supaya membedakan dengan tanah, sehingga lebih dihormati dan mudah diziarahi.”
  • 27. (At Tadzhib, hal. 95). Hal ini juga dikatakan oleh penulis Kifayatul Akhyar, hal. 214.
  • 28. Kedua, dari Jabir, ia berkata,
  • 29. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memberi semen pada kubur, duduk di atas kubur & memberi bangunan di atas kubur.”
  • 30. (HR. Muslim no. 970).
  • 31. Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang sesuai ajaran Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- kubur itu tidak ditinggikan dari atas tanah,
  • 32. yang dibolehkan hanyalah meninggikan satu jengkal dan hampir dilihat rata dengan tanah.
  • 33. Inilah pendapat dalam madzbab Syafi’i dan yang sepahaman dengannya.” (Syarh Shahih Muslim, 7: 35).
  • 34. Mengenai meninggikan kubur juga disinggung oleh Ibnu Daqiq Al ‘Ied ketika menyarah kitab At Taqrib.
  • 35. Beliau rahimahullah mengatakan, “Meratakan kubur dengan tanah lebih afdhol daripada meninggikannya….
  • 36. … karena demikianlah yg ada pada kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu juga yg terlihat pada kubur para sahabat Nabi”
  • 37. (Tuhfatul Labib, 1: 367).
  • 38. Muhammad bin Muhammad Al Khotib, penyusun kitab Al Iqna’ mengatakan, .
  • 39. “Dilarang mendirikan bangunan di atas kubur maksudnya adalah mendirikan qubah seperti rumah. …
  • 40. Begitu pula dilarang memberi semen pada kubur karena ada hadits larangan dalam Shahih Muslim.” (Al Iqna’, 1: 360)
  • 41. Dari keterangan di atas, nampaklah jelas bahwa kubur tidaklah perlu dibuat mewah dengan bangunan di atasnya,
  • 42. Apalagi dalam madzhab Syafi’i -yang jadi pegangan para kyai di negeri kita- melarang demikian.
  • 43. Perhatikan saja bagaimana kubur para salafush sholeh.
  • 44. Lihat saja jika kita pergi ke Baqi’ yang berada di luar dekat Masjid Nabawi, kita akan saksikan kubur para sahabat tidaklah istimewa
  • 45. Mengistimewakan kubur seperti itu apalagi kubur wali dan orang sholeh dapat mengantarkan pada kesyirikan.
  • 46. Dan setiap perantara menuju syirik dilarang diterjang dalam Islam. Itulah mengapa membangun bangunan di atas kubur dilarang.
  • 47. Wallahu a’lam. Semoga Allah menganugerahkan kita semua ilmu yang bermanfaat dan selalu mengokohkan akidah kita.
  • 48. Referensi: Al Iqna’ fii Halli Alfazhi Abi Syuja’, Syamsuddin Muhammad bin Muhammad Al Khotib, terbitan Al Maktabah At Taufiqiyah,
  • 49. At Tadzhib fii Adillati Matan Al Ghoyah wat Taqrib, Syaikh Prof. Dr. Musthofa Al Bugho, terbitan Darul Musthofa.
  • 50. Mukhtashor Abi Syuja’ (Matan Al Ghoyah wat Taqrib), Al Imam Al ‘Allamah Ahmad bin Al Husain Al Ashfahaniy Asy Syafi’i, Darul Minhaj,
  • 51. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm,
  • 52. Kifayatul Akhyar fii Halli Ghoyatil Ikhtishor Taqiyyuddin Abu Bakr Muhammad bin‘Abdil Mu’min Al Hishni Al Husaini Ad Dimasyqi Asy Syafii
  • 53. Tuhfatul Labib fii Syarh At Taqrib, Ibnu Daqiq Al ‘Ied, terbitan Dar Ibni Hazm,
  • 54. Semoga bermanfa’at.. Disarikan dari “Hukum Kuburan Mewah Dengan Bangunan” – http://t.co/PJNnsgYYba via @muslimindo. Assalamu’alaikum.

Demikianlah hal ini seperti yang saya tulis diatas hanya untuk saling menasehati dan ini yang menurut saya yang benar, jika ada yang berpendapat lain tentunya silahkan saja, karena ini hanya menyampaikan saja, bukan memaksakan.

Islam itu sederhana, islam itu cerdas, islam itu tidak melakukan hal sia-sia.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tersinggung karena tulisan ini kurang berkenan.

Wassallaam