Saya mendapatkan cerita yang menarik dari seorang teman, dimana teman saya itu menceritakan bahwa ada satu toko emas yang menjual limbah pembuangannya setiap 3 bulan sebesar 30jt, bahkan dahulu dijual hanya 15jt.
Tentu saja limbah tersebut akan di proses lagi dan pembeli akan mendapatkan lagi sisa emas dari limbah tersebut.
Sekilas kita akan takjub dengan beberapa hal, bahkan banyak hal…
Termasuk hal pemborosan toko emas tersebut dalam prosesnya.

Jika ada penilaian “menang” dan “kalah”, mungkin sebagian orang yang melihat pemenangnya pembeli limbah ini, karena mereka lebih bisa memanfaatkan apa yang tidak mampu toko tersebut manfaatkan.
Namun jika kita perhatikan dengan seksama, menurut saya pribadi pemenangnya tetap saja toko emas tersebut.
Jika nilai ketidak efesiensian ini ditarik lagi kemasalah profit yang lebih tinggi, siapa yang paling banyak mendapatkan keuntungan?
Menurut saya tetap saja toko emas tersebut.

Kenapa toko emas itu bertahun-tahun tetap menjualnya? kenapa tidak dibuat proses yg lebih efesiensi sehingga tidak ada limbahnya lagi atau setidaknya menjadi lebih sedikit lagi limbahnya?
Logikanya jika mereka melakukan efesiensi yang lebih baik, tentu tidak ada lagi orang yang mau membeli limbahnya bukan?
Masalahnya simple saja, jika mereka melakukan efesiensi yang lebih tinggi daripada sebelumnya mungkin justru kerugian yang akan mereka dapatkan.
Toko emas itu sangat ramai, sangat laku, jika dihitung-hitung dari penjualan limbah 30jt itu, jika dibagi 30 hari saja baru 1 juta PER HARI, bagaimana jika 30jt itu dibagi 90 hari?
Berapa nilainya dibanding proses efesiensi yang akan mereka tingkatkan tadi, baik bertambahnya waktu kerja, tenaga, dan tentunya ada penambahan dana dan yang lebih penting lagi sumber daya pikiran atau otak kita.

Dan juga pada aspek sosial, bukankah toko emas tersebut sudah melakukan hal yang bermanfaat bagi orang lain dalam hal ini mendatangkan keuntungan bagi orang lain?
Setidaknya toko emas itu tidak termasuk dalam kategori pengusaha TAMAK walaupun mereka tahu bahwa orang yang berani membeli limbah seharga 30 juta tersebut tentunya akan mendapatkan keuntungan.

Saya jadi teringat waktu RCTI masuk palembang beberapa puluh tahun lalu, waktu itu saya masih bujangan dan memproduksi converter frequensi VHF ke UHF dimana waktu itu kebanyakan TV masih mempunyai chanel VHF.
Saya lupa harganya yang jelas dibawah 100rb.
Efesiensi tentu saja saya lakukan, karena ini produksi walaupun tidak banyak tetap saja produksi dan berujung ke profit yang lebih baik.
Efesiensi dari sekedar memendekkan kabel didalam boxnya, misalnya awalnya 1 box memakan total kabel 1 meter menjadi 80cm saja.
Efesiensi penggunaan diode awalnya menggunakan diode 3A, karena arus yang dipakai pun tidak sampai 1A kenapa tidak memakai diode 1A, maka dipakailah diode 1A saja.
Dan banyak lagi efesiensi yang saya lakukan setiap hari dan efeknya terus terang “BERASA”.

Namun saya ingin menjelaskan ada contoh efesiensi yang jika saya lakukan justru membuat merugi.
Contoh, karena saya tidak memakai PCB (papan elektronika) pada produk itu, maka pengawatan/penyolderan langsung dilakukan dari kaki parts seperti resistor ke transistor dll secara langsung, hal ini memerlukan “pelintiran” atau “simpul” ke salah satu atau pada kedua kaki parts tersebut, bahkan pada pertemuan 4 atau 5 parts sekaligus.
Nah pelintiran ini semakin banyak dipelintir (simpul) tentu akan semakin banyak timah yang diperlukan bukan?

Apa jadinya jika pelintiran itu saya sedikitkan?
Sedikit juga timahnya.

Apakah saya akan lebih untung?
Untung, tapi menurut saya lebih banyak borosnya.

Apakah efesiensi yang seperti ini yang saya lakukan?
Tentu saja tidak.

Apa efek negative-nya atau kenapa untungnya tidak setara?
Anggaplah tetap kuat, karena pada produk tersebut hampir tidak ada panas, namun membuat 1 atau 2 simpul/pelintiran lalu saya solder, betapa susahnya “menjaga” pelintiran/simpul itu tetap stabil waktu disolder dan sampai timahnya KERING” sehingga penyolderannya sempurna, sebab jika tidak stabil tentu timah akan retak (secara mikroskopis). Alhasil saya menciptakan pemborosan waktu dan pemborosan energi otak saja untuk memikirkan pada waktu memelintir harus lebih hati-hati, bayangkan kita dituntut extra hati-hati pada setiap simpul, dan bukan hanya pada satu pelintiran parts, dalam 1 produk ada berapa parts yang harus saya pelintir atau simpulkan???
Sedangkan nilai TOTAL timah yang dihabiskan pada suatu produk tersebut (pada simpul/pelintiran normal) tidak seberapa atau sangat kecil dibanding nilai keuntungannya.

Cerita yang mirip juga pada tahun-tahun krismon 98 lewat, waktu itu saya menjual sesuatu produk, dimana pada produk yang saya jual itu dibutuhkan kertas (semacam quick manual) yang harus saya printing, setiap hari banyak kertas yang saya printing baik gambar atau tulisan.
Saya sebelumnya adalah tehnisi hardware, termasuklah printer yang dulu setiap hari ada yang saya perbaiki, baik dot matrix, tinta, atau laser atau thermal printer.
Tetapi pada waktu mengerjakan produk ini, saya pernah “TERJEBAK” lagi dimana efesiensi menjadi pemborosan.
Saya waktu itu (produksi) masih sering melakukan “perbaikan” pada printer yang saya gunakan, alhasil 1 printer butuh waktu 1 hari, bahkan ada yang 7 hari harus saya perbaiki.
Jika dihitung-hitung, umur printer yang saya gunakan 6 bulan sampai 1 tahun, berapa banyak 1 printer tersebut menghasilkan cetakan?
Jangan lupa, setiap cetakan yang dihasilkannya, berapa printer tersebut menghasilkan uang untuk kita?

Lama-lama saya berpikir, justru alangkah tidak efesiennya saya dan justru bodoh memperbaiki printer-printer yang saya gunakan, sedangkan harga printer dikisaran 1jt atau max dibawah 2jt, pada waktu memperbaikinnya masih juga diperlukan biaya, WAKTU dan juga jangan lupa hal yang terpenting yaitu SUMBER DAYA OTAK yang terbatas tadi.

Sejak saat itu, setiap printer yang rusak atau mulai rusak, ya lebih baik dijual atau dinonaktifkan digudang saja dan dijual dengan tukang loak yang sering lewat didepan rumah, silahkan beli berapa yang mereka mau, dan alangkah senang mereka melihat barang yang masih hidup (walaupun cartridge rusak/buntu) didapatkan dengan murah.
Belum lagi toko komputer yang menjual printer tersebut, semakin seringnya kita berbelanja pada waktu itu tentu ada efek samping positifnya dengan seringnya berinteraksi dengan pemilik toko tersebut tentu mendatangan efek samping yang bagus yang memang belum tentu didapatkan langsung saat itu namun nanti.

Pada cerita diatas ini, menurut saya:
Efesiensi itu harus.
Efesiensi itu salah jika setiap saat justru memeras energi otak, jika setiap saat kita harus memikirkannya bukanlah efesiensi, banyak hal lain yang justru harus dipikirkan karena sumber daya otak kita terbatas.
Efesiensi memang harus dilakukan selagi pada skala mudah dan sedang, terlebih lagi space keuntungan kita masih mumpuni.
Efesiensi skala sulit mungkin boleh dilakukan jika memang keuntungan kita sudah sangat mepet.

Tidak mungkin semua hal yang kita lakukan harus menjadi keuntungan yang harus dipikirkan setiap saat, jika kita terlalu memikirkannya justru kerugian yang akan kita dapatkan, baik kerugian moril ataupun materil.

Iklan