Ada baiknya tonton dahulu video dibawah ini, sebelum membaca tulisannya.

*Video di terjemahkan secara ikhlas oleh Lampu Islam aka Arceus  Zeldfer

teh-end

Dunia Akhir Zaman.

 

Seruan bagi kamu mukmin.

 

Nubuat Nabi Muhammad Tentang Irak, Suriah, dan Mesir.

 

Mengislamkan Dunia dan cara Anti Islam.

 

MISTERI SETAN 18 DIBALIK PERANG – zionisme – illuminati – 666 dll.

 

Yang Manakah Teroris itu?

 

Pertempuran Khurasan

 

Inikah Hasil Demokrasi?

 

Dalam beberapa tahun terakhir ini saya melihat sesuatu yang nampaknya baik, namun sepertinya hal tersebut justru menjadi degradasi moral umat islam.

Jika dianalogikan dalam angka jika angka 1 s/d 5 nilai buruk, nilai 6-10 itu nilai baik, orang-orang islam menjadi terbiasa cukup mencapai nilai 5.5 misalnya.

Padahal mereka sangat mampu untuk mencapai nilai 6 atau 7.

Nah fenomena ini semakin hari semakin merosot bahkan dicari-cari bagaimana caranya mendapatkan nilai yang baik saja…yang penting bukan nilai buruk dengan usaha yang mudah…

Bagaimana degradasi ini jika dalam kurun waktu 10-20 tahun kedepan?

 

Kenapa hasilnya lebih besar, kenapa dosanya besar? kenapa pahalanya besar?

Karena Allah memberikan semua cobaan, hasil, pahala, dosa, dll semua penuh dengan logika dan rasa keadilan.

Tidak ada usaha atau perjuangan yang besar membuahkan hasil yang kecil, dan sebaliknya.

Ini berlaku dalam segala hal.

Saya saat ini berumur 42 tahun, fenomena yang akan saya sebutkan dibawah ini rasa-rasanya tidak ada pada waktu umur saya masih 20 tahun lalu, dan saya khawatir orang-orang islam akan semakin latah, berlaku seadanya, bahkan sedikitpun tidak ada lagi pembelaan atau justru menjadi terbalik, yaitu yang salah menjadi benar, dan yang benar menjadi salah.

Contonya seperti dulu orang latah menyebut “sedekah alfatihah”, “kegiatan meng-aminkan untuk gaza (palestina),

Takutnya justru membuat masyarakat latah dalam berbagai golongan bersedekah dengan alfatihah saja…dan menjadi senjata pamungkas bagi sebagian orang yang kikir…

Setahu saya, jika ada fakir miskin, sedekah materi jelaslah memberi manfaat langsung ke mereka dan lebih pasti.

Apa iya ini lebih rasional dan mendapatkan pahala yang besar jika ada pengemis lalu kita belum mau memberikan uang secukupnya lalu kita sedekahkan saja mereka alfatihah?

Lebih masuk akal yang seperti ini!

Setahu saya, orang yang miskin akan sangat berterima kasih jika ada orang yang lebih mampu memberinya sedekah dalam bentuk materi, orang yang miskin tersebut akan berterima-kasih, dan jika orang miskin tersebut cukup tahu mengenai agama, maka dia mungkin saja mendoakan, memberikan alfatihah kepada yang memberi sedekah.

Rasa-rasanya, kakek, nenek, orang tua saya belum pernah menyebutkan permasalahan sedekah alfatihah ini…sekalipun dalam perbincangan khalayak ramai belum terdengar desas desus mengenai sedekah alfatihah ini…

Sekarang saya ada pertanyaan sederhana.

  • Apakah dari sejak kecil anda bisa membaca alfatihah?

Iya.

  • Apakah banyak orang muslim yang bisa membaca alfatihah?

Banyak

  • Apakah ada muslim yang tidak bisa membaca alfatihah?

Ada, mungkin banyak juga.

  • Apakah sulit menghapal surah alfatihah?

Mudah, karena hanya terdiri dari 7 ayat.

  • Mudahkah bagi anda hanya bermodal sedekah al-fatihah?

Sangat mudah sekali…

Pertanyaan sederhana lanjutan.

  • Apakah dari sejak kecil anda bisa mencari uang?

Tidak, karena diperlukan ilmu dahulu dimana pencapaiannya seperti belajar berhitung, sekolah yang memerlukan biaya dari orang tua, jika tidak sekolah juga bisa, namun hasilnya kemungkinan besar pas-pasan saja…

  • Jadi, setelah akhirnya dewasa, bagaimana rasanya bisa mencari nafkah untuk keluarga?

Alhamdulillah, cukup berat terlebih lagi kebutuhan materi semakin hari semakin meningkat, jaman berubah menjadi jaman serba materi, kapitalisme, rata-rata orang hanya bisa menghidupi keluarganya secara cukup saja.

  • Jadi bagaimana menurut anda, rasa pengorbanan manakah yang lebih besar, bersedekah materi atau bersedekah alfatiha?

Bersedekah materi.

Yaa, tentulah sedekah materi, allah maha tahu dan maha adil saya yakin sangat jauh jauh sekali pahalanya jika kita mampu bersedekah secara materi, karena realitasnya pertolongannya sangat jelas, cepat bermanfaat.

Saya kadang lucu atau mereka sekedar malu lalu tidak mengakui logika yang sangat rasional, misalnya selepas melihat video perjuangan orang islam yang berjihad membela agama, bagaimana orang-orang tersebut dari berbagai negara berangkat ke palestina, afganistan, lalu pada akhirnya saya tanyakan pertanyaan sederhana: maukah anda berangkat berjihad seperti mereka?

Jawab mereka “mencari nafkah untuk keluarga saya juga termasuk ibadah dan jihad”!, atau “harta saya belum cukup untuk meninggalkan anak istri saya”

Loh apa dulu anda hidup dari kecil sampai bisa jadi sekarang, berakal, belajar, bekerja, mempunyai harta, akhirnya mempunya keluarga, apakah tidak ada pelajaran dari kehidupan ini?

Apa iya pahala-nya sama jika kita melihat orang-orang dari berbagai penjuru dunia berjihad dan mencari syahid untuk membela agama allah dibandingkan dengan jihad misalnya mencari nafkah untuk keluarga lalu meninggal kecelakaan atau gara-gara dirampok itu sama pahalanya?

Dimana mereka logikanya dalam sehari-hari dalam bisnis, perniagaan semua logikanya normal, jika mendapat pertanyaan seperti ini logikanya memble?

Saya pribadi jika ditanya pertanyaan serupa tidak pernah memberikan argumentasi “mencari nafkah untuk keluarga saya juga termasuk ibadah dan jihad”!

Terus terang hati kecil saya tidak menerimanya jika saya jawab dengan hal seperti itu…

Mencari nafkah memang jihad, namun janganlah pandangan kita sampai kabur, jihad itupun mempunyai tingkatan begitupun syahid.

Jika ada orang yang bertanya mengenai berjihad untuk memerangi orang yang ingin menghancurkan agama allah, jawaban saya simple, saya belum berani seperti mereka, saya masih lebih mencintai duniawi, keimanan saya belum setinggi mereka…

Sejauh ini, yang saya juga yakin…..jika kita terenyuh, prihatin tentulah ada balasannya…allah maha tahu…

Namun lebih bagus lagi jika kita mampu memberikan bantuan yang “NYATA”, seperti mengorbankan harta….

Pada level berikutnya tentulah mengorbankan “jiwa” tentulah menjadi level yang lebih tinggi…

Saat ini, bukannya mereka membantu dengan sesuatu yang nyata jika melihat mereka akan berjuang jika kita belum ada kemampuan mental untuk berangkat kesana, jika ada orang yang mau berangkat ke palestina, afgan dll mereka, media justru menyudutkan orang tersebut, padahal orang tersebut jelas-jelas untuk membela agama islam.

Saya yakin, membela dan memerangi orang yang ingin menghancurkan agama allah dan mereka berperang langsung seperti di Palestina, Afganistan jelas bukan terorist.

Bahkan sebagian penduduk israel-pun (yahudi) gerah dengan keputusan pemerintahnya (zionis).

Yang namanya teroris, membunuhi orang yang tak bersalah, walaupun agamanya bukan islam.

Arti jihad, semakin kabur, dan seolah semua menjadi sama…jihad yah jihad…setiap orang bisa berjihad…

 

Namun, kuatkan lagi logika…dibawah ini ada pertanyaan, dan saya yakin andapun akan mempunyai jawaban yang sama.

  • Bekerja untuk keluarga ini jihad bukan?

Betul.

  • Apakah ini kejadian luar biasa?

Biasa saja.

  • Apakah sedikit orang yang mampu melakukannya?

Hampir semua orang mampu melakukannya bahkan mudah dilakukan, bahkan pemulung sampahpun dengan bermodal wadah dipunggungnya dengan mencari sampah bisa menghidupi keluarganya.

Setiap kepala keluarga tentunya mencari nafkah untuk keluarganya, SEMUA ORANG!

Lalu pertanyaan selanjutnya,

  • Berangkat berperang untuk menegakkan ajaran allah jihad bukan?

Jelas Berjihad.

  • Apakah ini termasuk kejadian luar biasa?

Luarbiasa, memerlukan keberanian, mengorbankan keinginan duniawi dan banyak pertimbangan yang harus dilewati, karena taruhannya adalah nyawa.

  • Apakah banyak orang yang berani melakukannya?

Mungkin diantara 1 juta orang saja belum tentu 1 yang berani, termasuk saya.

Dengan melihat pertanyaan yang sedikit diatas saja hati nurani, akal dan logika kita tentu jawabannya.

Apa jadinya jika tidak ada orang-orang yang berani berjuang menegakkan ajaran islam secara langsung tersebut?

 

16 Kelebihan Orang Yang Mati Syahid Sebagai Syuhada.

Dan kematian para Syuhada ini sedemikian istimewanya, apakah ada logika yang salah dengan keistimewaan ini?
Tidak bro…karena kematian level para syuhada ini tidak setiap orang bisa mendapatkannya, karena butuh pengorbanan yang sedemikian tinggi, keberanian yang tinggi, keyakinan yang tinggi.

1: Para Syuhada di cabut ruhnya langsung oleh Allah swt, sedangkan para Nabi dan Rasul dicabut Ruhnya oleh Malaikat Maut (Izrail)

2: Para Syuhada jenazahnya tidak perlu di mandikan sedangkan jenazah para Nabi dan Rasul di mandikan. Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya Rasulullah saw mengumpulkan setiap dua orang para shahabat yang gugur di medan Uhud pada sebuah kain kafan. Lalu beliau saw bersabda, “Siapa saja diantara mereka yang paling banyak hafal al-Quran kuburkanlah terlebih dahulu.” Jika ada dua orang menyatakan bahwa si fulan lebih banyak hafal al-Qurannya, beliau memasukkannya lebih dulu ke liang lahat. Selanjutnya beliau bersabda, “Saya bersaksi atas mereka kelak di hari akhir.” Setelah itu, Rasulullah saw memerintahkan para shahabat untuk menguburkan mereka, tanpa dimandikan terlebih dahulu, dan juga tidak disholatkan.”[HR. Bukhari] Imam Malik di dalam kitab al-Mudawwanah mengatakan, “Siapa saja yang gugur di medan peperangan, ia tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak disholatkan. Ia dikafani dengan baju yang dikenakannya…Tersebut di dalam hadits riwayat Jabir, “Selanjutnya Rasulullah saw memerintahkan untuk menguburkan mereka, tanpa dimandikan dan juga tidak disholatkan.”

3: Para Syuhada jenazahnya di makamkan di pemakaman muslim layaknya orang muslim lainnya, sedangkan jenazah para Nabi dan Rasul di makamkan di mana mereka di cabut nyawanya.

4: Para syuhada di berikan keleluasaan memberikan syafaat (pertolongan) di setiap harinya untuk saudara kerabatnya, sedangkan para Nabi dan Rasul memberikan syafaat pada hari Kiamat.

5: Para Syuhada jika meninggal ia dikatakan hidup, sedangkan para nabi dan Rasul jika telah meninggal maka ia dikatakan meninggal. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

6: Akan diampuni dengan serta merta dosanya serta diperlihatkan tempat duduknya disurga (kecuali mereka yang masih ada urusan hutang).

7: Diselamatkan dari siksa kubur.

8: Jasadnya utuh di dalam kuburnya seperti sebelum ia di kuburkan.

9: Aman dari ketakutan yang teramat besar dan dahsyat pada hari kiamat.

10: Dinikahkan dengan bidadari (semiskin – miskin ialah 49 bidadari).

11: Dapat memberi syafaat kepada 70 orang keluarganya. Riwayat oleh Termizi, Ahamd dan Ibnu Majah.

12: Bau darahnya seperti aroma misk “Demi dzat yang jiwaku ditanganNya! Tidaklah seseorang dilukai dijalan Allah-dan Allah lebih tahu siapa yang dilukai dijalanNya-melainkan dia akan datang pada hari kiamat : berwarna merah darah sedangkan baunya bau misk” (HR. Ahmad dan Muslim) Dr. Abdullah Azzam menyampaikan, “Subhanallah ! Sungguh kita telah menyaksikan hal ini pada kebanyakan orang yang mati syahid sebagai suhada. Bau darahnya seperti aroma misk (minyak kasturi). Dan sungguh disakuku ada sepucuk surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid dan telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti misk.”

13: Tetesan darahnya merupakan salahsatu tetesan yang paling dicintai Allah. “Tidak ada sesuatu yang dicintai Allah dari pada dua macam tetesan atau dua macam bekas : tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah dijalan Allah; dan adapun bekas itu adalah bekas (berjihad) dijalan Allah dan bekas penunaian kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah” (HR. At Tirmidzi – hadits hasan)

14: Ditempatkan disurga firdaus yang tertinggi

15: Arwah Syuhada ditempatkan ditembolok burung hijau

16: Syuhada itu tidak merasakan sakitnya pembunuhan “Orang yang mati syahid sebagai Syuhada itu tidak merasakan (kesakitan) pembunuhan kecuali sebagaiman seorang diantara kalian merasakan (sakitnya) cubitan.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i – hadits hasan) Dr. Abdullah Azzam menceritakan, ” Kami melihat hal ini pada saudara kami, Khalid al-kurdie dari madinah al Munawwaroh ketika ranjau meledak mengenainya, sehingga terbang kakinya, terbelah perutnya, keluar ususnya dan terkena luka ringan pada tangan luarnya. Datanglah Dr. Shalih al-Laibie mengumpulkan ususnya dan mengembalikan kedalam perutnya seraya menangislah Dr. Shalih. Maka bertanyalah Khalid al-Kurdie kepadanya : “Mengapa engkau menangis, dokter? Ini adalah luka ringan pada tanganku.” dan tinggalah dia berbincang-bincang dengan mereka selama 2 jam hingga akhirnya ia menjumpai Allah. Dia tidak merasakan bahwasanya kakinya telah terpotong dan perutnya terbuka.

Ingat, para Zionis dan kawan-kawannya ingin menghancurkan islam itu secara perlahan

Sungguh skenarionanya sangat halus, bahkan diluar jangkauan kita sebagai orang awam, mengubahnya sedikit demi sedikit, lalu mulailah terjadi perubahan pandangan, bahkan pada akhirnya yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar.

Dibawah ini analogi bagaiman para zionis pada akhirnya memutar balikkan fakta, yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar.

Tulisan yang berjudul Beginilah Mereka Menghancurkan Kita, Sumber : http://www.Arrahmah.com

 

Zionist, merusak moral secara perlahan.
Zionist, merusak moral secara perlahan.

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

*****

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam.

Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

Salam

Joel

Iklan