Kritikus - seni rupa kontemporer
Kritikus – seni rupa kontemporer

Sebetulnya uneg-uneg ini sudah bertahun-tahun sejak saya masih membujang ingin saya sampaikan, namun tidak sempat-sempat…hehehe

Uneg ini masalah Orang-orang yang mengecap secara pedas para pengkritik atau kritikus.

Menurut saya kurang logis jika kritikus itu dibalas dengan kritik yang lebih pedas lagi…

Misalnya kritikus suatu produk mobil..mengatakan body mobil ini kurang menarik…lalu dibalas dengan “kamu belum tentu bisa membuatnya”, khan aneh dibalas seperti itu.
Rata-rata kritikus otomotif yaa tidak mempunyai pabrik mobil…

Atau kritikus balap mengatakan si valentino rossi kurang gesit sekarang ini, lalu dibalas “kamu aja bawa motor pelan lagi terbalik apa lagi mau jadi pembalap”…..

Seorang pengkritik itu bisa saja seorang pelaku yang sama dengan yang dikritiknya, namun kebanyakan pengkritik itu bukanlah pelaku yang sama.

Misalnya guru tarik suara mengkritik muridnya yang bersuara merdu yang lagi dididik olah suara dengan baik dan benar, apa iya cocok muridnya balik mengkritik “kamu aja ngajar bertahun-tahun ga jadi penyanyi!”
Yaa jelas salah, memang guru tersebut bersuara biasa saja, namun dia tahu teknik mengolah suara.

Atau misalnya guru gitar mengkritik muridnya yang antusias bermain gitar tapi caranya salah, lalu dibalas muridnya “kamu aja lebih tua dari Santana ga ngetop-ngetop, jangankan mau setara santana, selevel pemain top gitar indonesia jauh…”
Yaaa jelas salah, guru gitar itu tau cara memegang gitar yang baik, posisi kunci gitar yang tepat dan teknik-teknik gitar umum, tapi soal olah gitar yang lebih advanced tentulah harus diasah oleh murid tersebut…

Atau kritikus yang dulu banyak berseliweran di majalah di internet yaitu kritikus kualitas audio high-end, dimana mereka mengatakan merk A suaranya sengau, merk B bass nya terlalu boomy dll.
Apa iya mereka harus baiik dikritik “kamu aja ga mampu buat amplifier kelas bawah….”
Yaa nggalaah…karena mereka mengkritik berdasarkan telinga emas mereka…tidak harus mempunyai pabrikan audio untuk mengkritiknya….hehehe

Atau misalnya ada guru SD atau bahkan dosen yang mengkritik menteri, lalu dibalas “kamu aja dari muda sampe sekarang tetap aja seperti ini…sampe tua tetap aja guru, jangankan jadi menteri jadi walikota aja ga pernah!”
Yaa jelas salah, guru itu tugasnya mengajar sesuai mata pelajarannya masing-masing, dan seorang menteri bahkan sebelum menjadi menteri itu sudah diajar banyak macam guru dll.

Lihat saja fungsi sutradara mengarahi aktor-aktor kawakan, dia yang mengarahkan aktor tersebut dalam bermain film, namun sutradara itupun belum tentu bisa menjadi aktor…
Karena sudut pandangnya jelas berbeda, sutradara cenderungg melihat kelayakan akting dari sudut pandang ke arah sisi penonton bagaiamana aktor itu harus bertingkah didepan kamera, dan aktor itu konsen dengan tingkah sesuai ketetapan sang sutradara, itu sebabnya dibutuhkan sutradara dan aktor dalam suatu film, tanpa dua (setidaknya) itu sulit sekali tercipta film yang bagus.

Apalagi jika kita baca kritikus film-film internasional di IMDB, banyak sekali kritik-kritik yang memang betul sekali bahwa banyak kesalahan dalam suatu pembuatan film setelah film itu di launching…
Padahal film itu sudah dibuat dengan beratus bahkan beribu orang dengan keahlian masing-masing…
Tidak ada di IMDB para kritikus tersebut balik di hujat misalnya “kamu aja ngga ada satupun film yang berhasil dibuat!”
Karena memamg bukan profesi kritikus film tersebut untuk membuat suatu film.
Dan kritik-kritik itu memang berguna bagi produser-produser film, karena banyak memberikan kritik sebagai acuan perbaikan untuk film yang lain…

Jadi menurut saya kita lupa atau salah menanggapi kritikus, kritikus kebanyakan memang mengkritik, ada kritikannya biasa, ada yang pedas dll, namun kritikus tidak harus bisa atau pernah menjadi yang dikritik.

Dikritik itu biasa, justru tidak pernah dikritik adalah suatu yang aneh.

Wassallam

Joel

Iklan