Sayapun tidak mengurus, membaguskan, membangunkan, makam orang tua saya…karena mereka tidak perlu itu….mereka perlu di doakan oleh anaknya dan cuma doa anaknya saja yg bisa membantu mereka, bukan doa orang lain, disinilah letak adilnya allah.

Saya yakin ayah saya lebih memerlukan doa dari anaknya dan tidak memerlukan sama sekali kuburannya di baguskan, apalagi dimewahkan…

Sebab jika orang lain bisa membantunya lewat berdoa, celakalah orang miskin, masuk surgalah orang kaya.
Begitupun makam anak saya yang masih kecil, cukup diberi tanda batu tanpa nama, karena jelas anak masih kecil belum akil balig pastilah masuk surga.

Apakah saya tidak ingat dengan orang tua saya?

Salah besar, ingatan saya sangat kuat sejak kecil sampai saya dewasa terhadap orang tua saya.
Dan saya selalu sempatkan untuk mendoakan orang tua saya.


Fatwa Syaikh Abdul ‘Aziz Bin Baaz

Soal:

Saya amati di tempat kami sebagiankuburan disemen dengan ukuran panjang sekitar 1 m dan lebar 1/2 meter. Kemudian pada bagian atasnya ditulis nama mayit, tanggal wafat, dan terkadang ditulis juga kalimat seperti: “Ya Allah rahmatilah Fulan bin Fulan…”, demikian. Apa hukum perbuatan seperti ini?

Jawab:

Kuburan tidak boleh dibangun, baik dengan semen (cor) ataupun yang lainnya, demikian juga tidak boleh menulisinya. Karena ada hadist yang shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang melarang membangun kuburan dan menulisinya. Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari hadits Jabir radhiallahu’anhu, beliau berkata:

نَهَى رَسُولُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam melarang kuburan dikapur, diduduki, dan dibangun”

At Tirmidzi dan ulama hadits yang lain juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih, namun dengan lafadz tambahan:

وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ

“dan (juga dilarang) ditulisi”

Karena hal itu termasuk bentuk sikap ghuluw (berlebih-lebihan), sehingga wajib mencegahnya.

Selain itu, menulis kuburan juga beresiko menimbulkan dampak atau konsekuensi berupa sikap ghuluwberlebihan dan sikap-sikap lain yang dilarang syar’iat. Yang dibolehkan adalah mengembalikan tanah galian lubang kubur ke tempatnya lalu ditinggikan sekitar satu jengkal sehingga orang-orang tahu bahwa di situ ada kuburan. Inilah yang sesuai sunnah dalam masalah kuburan yang dipraktekkan oleh RasulullahShallallahu’alaihi Wasallam serta para sahabatnya radhiallahu’anhum.

Tidak boleh pula menjadikan kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), tidak boleh pula menaunginya, ataupun membuat kubah di atasnya. Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam :

لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ

“Allah melaknat kaum Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai masjid (tempat ibadah)” (Muttafaqun ‘alaihi)

Juga berdasarkan hadits riwayat Muslim dalam Shahih-nya dari sahabat Jundub bin Abdillah Al Bajaliradhiallahu’anhu, beliau berkata, Aku mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika lima hari sebelum hari beliau meninggal, beliau bersabda :

إِنَّ اللهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيْلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيْلاً لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلاً، أَلاَ وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيْهِمْ مَسَاجِدَ، أَلاَ فَلاَ تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku sebagai khalil (kekasih)-Nya sebagaimana Ia menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasihku, maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah bahwa orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang shalih diantara mereka sebagai tempat ibadah. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid (tempat ibadah), karena sungguh aku melarang kalian melakukan hal itu”

Hadits-hadits yang semakna dengan ini sangatlah banyak.

Aku memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufiq kepada muslimin agar senantiasa berpegang teguh dengan Sunnah Nabi merekaShallallahu’alaihi Wasallam dan tegar di atasnya, serta senantiasa diperingatkan dari segala ajaran yang menyelisihinya. Sesungguhnya Allah itu Maha Mendengar lagi Maha Dekat.Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/99

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Soal:

Apa hukum membangun kuburan?

Jawab:

Membangun kuburan hukumnya haram. Ini telah dilarang oleh Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, karena dalam perbuatan ini ada unsur pengagungan terhadap ahlul qubur (si mayit). Perbuatan ini juga merupakan wasilah dan perantara yang membawa kepada penyembahan kuburan tersebut. Sehingga nantinya kuburan tersebut menjadi sesembahan selain Allah. Realita ini sudah banyak terjadi pada bangunan-bangunan kuburan yang sudah ada, dan akhirnya orang-orang berbuat syirik terhadap si mayit penghuni kubur tersebut. Mereka jadi berdoa kepada si mayit selain juga berdoa kepada Allah. Berdoa kepada mayit penghuni kuburan dan ber-istighatsah kepadanya untuk menghilangkan kesulitan-kesulitan adalah bentuk syirik akbar dan pelakunya terancam keluar dari Islam.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/11181

——————–

Banyak yang menurut saya yang memutar balikkan dengan hal yang sudah pasti tidak boleh atau dilarang dengan suatu hal yang rumit atau sengaja dirumit-rumitkan, agar terpenuhi keinginan pribadi.

Contoh ziarah kubur, yaa boleh-boleh saja, jika memang sekedar mengingatkan kita akan mati/akhirat, itu sebabnya ada “tanda” bahwa ada gundukan tanah dikuburan, yang menandakan itu kuburan, bukan dimewahkan, dibaguskan dan akhirnya sedikit demi sedikit terlebih bagi yang tidak begitu memahami mulailah memohon, mengangungkan kuburan dll dll.

Sudah jelas, dan ini kata nabi Muhammad S.A.W, “apabila mati seseorang anak adam itu .. maka akan terhenti segala amalanya kecuali 3 perkara iaitu sedakah jariah, ilmu yang memberi guna, doa anak – anak yang soleh”

Jadi tidak usah di perumitkan….

Contoh, dalam suatu gambar di fb, saya hanya mengomentari mengenai gambar kuburan / makam perang uhud.

Kuburan makam suhada perang uhud
Kuburan makam suhada perang uhud
Kuburan makam suhada perang uhud
Kuburan makam suhada perang uhud
Kuburan makam suhada perang uhud
Kuburan makam suhada perang uhud

Komentator 1:  “Engga terurus ya … sedih”

Komentar saya: “yaah memang disana makam tidak diurus, dan memang tidak perlu…cenderung banyaklah mudaratnya…
Apalagi suhada, jelas sudah mendapat jalan pintas untuk ke surga,…”

Komentator 1: “Iya makam memang banyak sialnya ya monggo makam2 diratakan saja jadi mall dan hotel … banyak kebaikan di hotel kok”.

Apakah saya ada bilang meratakan? Apakah saya membicarakan hotel?

Komentator 2: “kaum yg baik adalah kaum yg ingat dan bangga akan sejarah leluhurnya. lestarikan sejarah…tanpa mereka apakah kita akan beragama islam sekarang?????”.
“kalo makam jadi tempat mudorot itu tergantung org nya… di rumah dan di mana mana pun bisa jadi mudorot.. contoh kecil jika ada perasaan takut akan sesuatu misal takut miskin maka anda sudah sirik kecil .karena takut kita hanya kepada gusti allah swt..”.

Apakah harus seperti itu?
Apakah harus dengan membaguskan kuburannya maka orang akan selalu ingat?
Apakah karena kita bisa “tidak membuatnya menjadi mudarat” maka orang lain juga akan sama seperti kita?
Apakah karena saya bisa membuat babi steril maka saya boleh diijinkan makan babi?
Tentu saja tidak, sebab akan ada yang bisa dan tidak bisa untuk mensterilkannya.
Karena banyak akan mendatangkan mudaratnya, maka lebih baik allah mengharamkan makan babi, dan saya yakin begitu juga mengenai membagus-baguskan makam.

Mengenai dibaguskan kuburan itu dengan sederhana, dibaguskan dengan mewah itu sangat relatif.
Misalnya saya mampu mengeluarkan dan “dengan sederhana” untuk membaguskan perbaikan kuburan ayah saya dengan biaya Rp500.000.
Bagi orang kaya mungkin itu biaya buat jajan sehari-hari, bagi saya masih masuk sederhanan, bagi orang tak mampu mungkin mengeluarkan Rp500.000 sudah termasuk mewah.
Maka lebih baik tidak.

Saya bangga, saya ingat dengan pejuang-pejuang islam, contoh kecil saja buya hamka, saya selalu teringat tentang dia walaupun saya tidak pernah melihat kuburannya, dan juga saya ceritakan kepada anak-anak saya cerita-cerita, rekaman ceramah Hamka dll.

Banyak cerita-cerita kepahlawanan islam yang saya temui sejak kecil sampai sekarang ini, baik tulisan, video terlebih di zaman modern ini, saya bagikan cerita-cerita ini dengan anak saya ntah pada waktu santai, atau nonton hasil rekamannya dari youtube secara bersama-sama….

Menurut hemat saya, jika kita meng-idolakan suatu perjuangan, para syuhada, para ulama-ulama besar, buktikan saja dengan hal pasti, melakukan nilai-nilai baik yang terkandung pada cerita perjuangan mereka, ajaran yang luhur yang ada didalamnya,…
Ceritakan kepada anak cucu kita mengenainya, dan saya yakin cerita-cerita hebat seperti ini terlebih di zaman modern ini sangat susah untuk menjadi seperti hilang, terhapus oleh ingatan dll dll.

Bukannya justru menjadi suatu yang “DANGKAL”, dibagusin, dimewahkan, lalu kita teringat? orang lain akan teringat?
Terus sudah melihat kuburannya ngapain? Berdoa? Berdoa untuk mereka? Nilai-nilai baiknya untuk orang lain?

Ini yang justru akan banyak mendatangkan MUDARATnya saja, seperti membaguskan kuburan (pada prakteknya dan akhirnya hanya dibaguskan saja), akan sambung menyambung lagi membaguskan kuburan keluarga kita, sambung menyambung lagi kuburan kita sendiri…dst dst…

———————–

Ringkasan materi kajian berikut sangat bagus untuk disampaikan dalam kotbah jumat ataupun kutbah kajian agar masyarakat memahami inti permasalahan mengenai larangan menganggap keramat (pengagungan) terhadap makam / kuburan orang shalih / wali Allah. Sehingga setelah dipahami inti dari permasalahan pengagungan kuburan orang shalih, masyarakat dapat menyikapi kejadian Tanjung Priok Berdarah – Pembelaan Terhadap Makam Keramat Habib Hadad Mbah Priok dengan adil. Foto-foto Tragedi Tanjung Priok Berdarah menunjukkan betapa bahayanya pengagungan kuburan orang shalih sampai darahpun tertumpah untuk membelanya.
Penjelasan Bahwa Sikap Berlebihan dalam Menyikapi Kuburan Orang Shalih dapat Menjadikannya Sebagai Sesembahan yang Disembah Selain Allah.

Rasulullah bersikap keras terhadap orang yang beribadah kepada Allah tetapi melakukannya di kuburan orang shalih. Beliau juga melarang Yahudi dan Nashrani menjadikan kuburan orang shalih mereka sebagai Masjid. Hal ini dikarenakan pengagungan kuburan orang shalih ini termasuk salah satu sebab terbesar terjadinya kesyirikan.

Penafsiran Ibnu Abbas

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa´, yaghuts, ya´uq dan nasr”. [Nuh : 23]
Ibnu Abbas menafsirkan firman Allah di atas bahwa kelima orang shalih tersebut hidup di zaman Nabi Nuh. Ketika mereka wafat maka dibuatkanlah patung untuk mengenang kesalihan mereka, dan kuburan mereka dijadikan tempat i’tikaf. Maka syaitan menghiasi amalan ini sehingga masyarakat menganggapnya sebagai amalan yang bagus. Maka setelah berlalu beberapa generasi dan hilang ilmu bahwa patung tersebut hanya sekedar pengingat terhadap kesalihan orang tersebut, maka dijadikanlah patung-patung tersebut sebagai sesembahan selain Allah.

Nabi Berdoa Agar Kuburannya Tidak Dijadikan Berhala

Diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Al Muwatha’ bahwa Rasulullah bersabda, “Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah, sangat keras kemurkaan Allah terhadap kaum yang menjadikan kuburan Nabi mereka sebagai masjid.”

Hadits dengan riwayat Imam Malik ini terputus sanadnya, akan tetapi terdapat hadits yang lain yang tersambung sanadnya kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam. Diantaranya diriwayatkan oleh Imam Al Bazar dari sahabat Abu Sa’id Al Khudry bersambung terhadap Rasulullah. Dan diriwayatkan Imam Ahmad dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :

Ya Allah janganlah engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah, Allah melaknat suatu kaum yang menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.
Sehingga hadits Imam Malik diatas secara umum dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani berdasarkan jalan-jalan yang lain.

Rasulullah berdoa seperti di atas karena khawatir apabila umat Islam terjatuh kepada kesyirikan setelah kematian Rasulullah baik dengan jalan menjadikan kuburan orang shalih sebagai masjid ataupun dengan sebab yang lain. Sehingga merupakan kesalahan bagi orang yang menganggap bahwa larangan pembuatan patung atau gambar orang shalih yang dikhawatirkan menjadi berhala yang disembah hanya berlaku bagi umat terdahulu saja. Dalam hadits disebutkan bahwa akan muncul suatu kaum dari umat Islam yang selalu mengikuti langkah-langkah Yahudi dan Nashrani, bahkan tatkala mereka masuk ke dalam lubang biawak, sekelompok umat Islam tersebut tetap mengikuti mereka. Dalam hadits lain disebutkan bahwa tidak akan terjadi hari kiamat sampai ada sebagian umat Islam yang menyembah berhala.
Doa Nabi di atas dikabulkan Allah, sebagaimana doa Nabi Ibrahim agar beliau dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan terhadap berhala.
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. [Ibrahim : 35]

Salah satu hikmah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasalam dikuburkan di tempat beliau meninggal tidak di kuburan umum kaum muslimin adalah untuk menghindari terjadinya pengagungan kuburan beliau.

Makna Menjadikan Kuburan Sebagai Masjid

Terdapat tiga makna menjadikan kuburan sebagai masjid, yaitu :

Membangun masjid di atas kuburan

Shalat di atas kuburan

Shalat menghadap kuburan

Dalam riwayat Imam Muhammad bin Jarir Ath Thabari ketika membawakan penafsiran Imam Mujahid (murid sahabat Ibnu Abbas) mengenai firman Allah :

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap Al Laata dan Al Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? [An-Najm : 19 – 20]]

Makna Kata Al Laata

Terdapat dua cara dalam membaca kata Al Laata ini, yaitu :

اللت Al Laata (tanpa tasydid) = bermakna Al Ilah (sesembahan)

اللتّ Al Laatta (dengan tasydid) = bermakna orang yang membuat adonan roti

Mujahid membaca Al Laata dengan Al Laatta (dengan tasydid), sehingga ditafsirkan bahwa patung putih yang terdapat di Thaif dulunya sebagai orang yang membuatkan adonan roti (memberikan pelayanan, Khadimul Haramain) untuk para jama’ah haji yang datang ke Makkah dan Madinah, memiliki kebaikan yang banyak dan sangat disenangi masyarakat. Maka tatkala orang ini mati orang-orang menjadikan kuburannya sebagai tempat untuk i’tikaf.

Rasulullah Melarang Wanita Terlalu Sering Berziarah

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah melaknat wanita yang berziarah kubur dan orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dan yang memberikan lentera (lampu) di kuburan.

Akan tetapi hadits dengan lafadh di atas terdapat kelemahan, sedangkan dalam hadits Hasan bin Tsabit yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah dengan sanad yang lebih kuat disebutkan bahwa yang dilaknat adalah wanita yang sering menziarahi kubur, sehingga wanita kadang-kadang boleh berziarah kubur.

Kesimpulan

Kesimpulan dari ringkasan kajian di atas bahwa kita dilarang menjadikan kuburan orang shalih sebagai masjid baik dengan membangun masjid di atas kuburan, shalat di atas kuburan, shalat menghadap kuburan, ataupun ibadah-ibadah lain yang dilarang mengerjakannya di kuburan seperti membaca Al-Qur’an dan i’tikaf (berdiam diri). Karena mengerjakan ibadah-ibadah tersebut di kuburan orang shalih dan berlebihan dalam mengagungkannya merupakan salah satu pintu terbesar terjerumusnya seseorang dalam kesyirikan.

Sumber:

Tragedi Pengagungan Kuburan Makam Keramat Mbah Priok

http://ruangpustaka.blogspot.com/2010/04/tragedi-pengagungan-kuburan-orang.html

——————-

Berlebih-lebihan Terhadap Kuburan Orang-orang Shalih

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla Rabb semesta alam.
Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah melainkan Allah ‘Azza wa Jalla semata. Tiada sekutu baginya.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan Rasul-Nya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata, “Sebaik-sebaik ibadah adalah ibadah yang sesuai petunjuk Nabi ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam dan para shabatnya.” Sebagaimana Nabi ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam pernah menyampaikan, ‘Sebaik-baik perkataan adalah kalamulloh dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam. Sejelek-jelek perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang dia-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.’

Salah satu sebab yang membuat seseorang menjadi kufur adalah sikap ghuluw dalam beragama, baik kepada orang shalih atau dianggap wali, maupun ghuluw kepada kuburan para wali, hingga mereka minta dan berdo’a kepadanya padahal ini adalah perbuatan syirik akbar.[1]

Syirik Akbar adalah memalingkan ibadah untuk selain Allah, seperti doa kepada selain Allah, dan meminta bantuan kepada orang-orang yang telah mati, atau meminta kepada orang yang hidup akan tetapi tidak hadir dihadapan kita.[2]

Dosa syirik akbar ini tidak akan diampuni oleh Allah. Dan amal shalih apapun tidak akan diterima jika disertai dengan syirik akbar ini. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman yang artinya,

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang lebih rendah derajatnya dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisaa’: 116)[3]

Ketahuilah wahai saudaraku –semoga Allah merahmati Anda-, Ghuluw[4] adalah Sikap atau perbuatan yang berlebih-lebihan di dalam perkara agama sehingga melampaui apa yang telah ditetapkan melalui batasan syari’at baik bentuknya keyakinan atau perbuatan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Katakanlah: ‘Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara yang tidak benar di dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang terdahulu yang telah sesat (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. al-Maidah: 77)

Sesungguhnya agama ini telah lengkap dan tidak perlu kepada penambahan atau pengurangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agama-mu, dan telah aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. al-Ma’idah: 3)

Berlebih-lebihan Dalam Mengagungkan Orang-orang Shalih menjadi Penyebab Manusia Kufur dan Meninggalkan Agamanya

Disebutkan dalam riwayat yang shahih, bahwa shahabat Ibnu Abbas radhiyAllahu ‘anhu menafsirkan firman Allah Ta’ala,

وقالوا لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودا ولا سواعا ولا يغوث ويعوق ونسرا

“Dan mereka (kaum Nabi Nuh) berkata, ’Janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (peribadahan kepada) Tuhan-tuhan kalian, dan janganlah sekali-kali kalian meninggalkan (peribadahan kepada) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.’” (QS. Nuh: 23)

Ibnu Abbas radhiyAllahu ‘anhu berkata, “Ini adalah nama-nama orang shalih dari kaum Nabi Nuh. Dikala mereka meninggal, setan membisikkan kepada generasi penerus mereka, “Pancangkanlah patung-patung di tempat-tempat mereka berkumpul, dan namailah patung-patung tersebut dengan nama-nama mereka. Maka merekapun menuruti bisikan tersebut. Awal mulanya, patung tersebut tidak disembah. Akan tetapi ketika mereka (orang-orang yang membuat patung tersebut) telah meninggal, dan ilmu agama telah dilalaikan orang, maka patung tersebut mulai disembah.” [5]

Demikianlah makar setan terhadap mereka dengan menghembuskan api perselisihan di antara mereka sehingga mereka meninggalkan ajaran rasul, memperdayakan mereka sehingga mengagungkan orang-orang yang sudah mati dan bermukim di kuburan-kuburan mereka. Kemudian setan memperdaya mereka sehingga membuat gambar dan patung orang-orang yang sudah mati itu. Dan akhirnya mereka menyembah patung-patung tersebut.

Orang-orang musyrik di kalangan kaum Nuh adalah kaum yang pertama kali melakukan kemusyrikan. Bentuk kemusyrikan yang pertama kali mereka lakukan adalah pengagungan terhadap orang-orang mati, dan itulah syirik ardhi, syirik yang pertama kali terjadi di bumi ini. Tatkala manusia telah menyembah berhala, menyembah thaghut dan terjerumus dalam kesesatan dan kekufuran, maka Allah ‘Azza wa Jalla mengutus Rasul pertama kepada penduduk bumi sebagai rahmat-Nya kepada mereka, rasul itu adalah Nuh ‘alaihis salam bin Yardah bin Mahil bin Qainan bin Anusy bin Syits bin Adam ‘alaihis salam.

Ibnul Qayyim berkata, “Banyak ulama salaf yang menuturkan, ‘Ketika orang-orang (yang disebut pada ayat tersebut) telah meninggal, orang-orang setelah mereka beri’tikaf (berdiam diri dengan tujuan beribadah) di atas kuburan mereka. Selanjutnya mereka membuat patung-patung mereka. Dan setelah masa berlalu lama, generasi penerus mereka mulai beribadah kepada patung tersebut.”[6]
Berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih dan para nabi dengan memberikan salah satu bentuk beribadatan kepada mereka yang merupakan bagian dari sifat uluhiyah, atau menjadikan mereka satu bentuk persembahan dan penghambaan adalah merupakan bentuk kesyirikan yang mengeluarkan seseorang dari keislamannya. Sebab, sifat uluhiyah itu secara keseluruhan hanya menjadi milik Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Uluhiyah ini tidak patut diberikan kepada siapapun juga, kecuali hanya kepada-Nya.[7]

“عَنْ عُبَيْدِاللهِ بْنِ عَبْدِاللهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ سَمِعَ عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنْهُمْ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ ”

Dari ‘Ubaidillah bin Abdillah dari Ibnu ‘Abbas, ia mendengar ‘Umar radhiyAllahu ‘anhu berkata di atas mimbar : Aku mendengar Rasulullah ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku seperti orang-orang Nasrani berlebih-lebihan dalam memuji putra Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba Allah, maka katakanlah ‘Abdullah (hamba Allah) dan Rasul-Nya” (HR. Al-Bukhari)

Dari hadits ini beliau ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam melarang umatnya dari berlebih-lebihan dalam pujian, sebagaimana umat nashrani telah melampaui batas ketika memuji Isa bin Maryam. Perbuatan mereka ini telah menjerumuskan mereka kepada jurang kekafiran dan kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka telah mengklaim bahwa Isa bin Maryam sebagai anak Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itu, beliau ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah : hamba Allah dan rasul-Nya.”

Dan Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda,

“إياكم والغلو، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو”

“Waspadalah dari kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebih-lebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu majah dari Ibnu Abbas radhiyAllahu ‘anhu).

Imam Muslim juga meriwayatkan dari shahabat Ibnu Mas’ud bahwa Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“هلك المتنطعون ” قالها ثلاثا.

“Binasalah orang-orang yang berlebih-lebihan” (Beliau mengulangi sabdanya ini sebanyak tiga kali).

Ketahuilah wahai Saudaraku seiman, -semoga Allah senantiasa memberi rahmat kepada anda- dari hadits-hadits di atas Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam telah melarang kita dari segala macam perbuatan melampaui batas. Perbuatan melampaui batas adalah sumber dari semua kejelekan, dan sikap bersahaja (tidak berlebihan dan tidak meremehkan) dalam setiap urusan adalah sumber bagi segala keberhasilan dan kebaikan.

Larangan Keras Beribadah Kepada Allah Di Atas Atau Sisi Kuburan Orang-orang Shalih.[8]

Diriwayatkan pada hadits shahih, dari istri Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam ‘Aisyah radhiyAllahu ‘anha bahwa Ummu Salamah mengisahkan kepada Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam tentang suatu gereja, yang pernah ia lihat di negeri Habasyah (Ethiopia), beserta gambar-gambar yang terpampang di dalamnya. Mendengar kisah istrinya ini, Nabi ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“أولئك إذا مات فيهم الرجل الصالح، أو العبد الصالح بنوا على قبره مسجدا، وصوروا فيه تلك الصور، أولئك شرار الخلق عند الله.”

”Mereka itu, apabila ada orang yang shalih atau hamba yang shalih meninggal, mereka membangun di atas kuburannya sebuah masjid (tempat ibadah), dan mereka membuat di dalamnya patung-patung, dan merekalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah”.

Mereka telah menggabungkan dua sumber kesesatan : membangun masjid di kuburan dan membuat patung-patung.

Pada hadits tersebut kata “masjid” adalah sebutan bagi setiap tempat yang dijadikan untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian, hadits ini menunjukkan bahwa gereja-gereja mereka dibangun di atas kuburan orang-orang shalih. Di dalamnya atau di atas kuburan itulah mereka menggantungkan gambar orang shalih tersebut. Mereka melakukan itu guna membangkitkan kesadaran masyarakat untuk beribadah kepada Allah, melalui pengagungan orang shalih dan kuburannya.

Nabi menanggapi kisah Ummi Salamah dengan bersabda, “Mereka itu sejelek-jelek makhluk di sisi Allah”. Yang beliau maksudkan ialah para pengagung orang shalih yang membangun masjid di atas kuburan. Pada hadits ini tidak ada pernyataan bahwa mereka beribadah kepada orang shalih tersebut. Mereka hanya mengagungkan kuburan tersebut, dan membuat gambar atau patung mereka. Akan tetapi perhatikanlah bahwa sesungguhnya Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam telah mencela perbuatan mereka karena mereka telah menggabungkan dua sumber kesesatan : membangun masjid di kuburan dan patung-patung. Kedua hal ini merupakan penyebab terjadinya syirik akbar. Dapat kita pahami bahwa hadits ini adalah peringatan dan sekaligus larangan bagi umat ini dari membangun masjid di atas kuburan seseorang.

Amalan yang beliau ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam tegur dengan keras adalah mendatangi kuburan orang shalih, guna beribadah kepada Allah di sana. Biasanya orang yang melakukan ini mengharap mendapatkan keberkahan di tempat tersebut. Orang awam seringkali melakukan amalan ini. Mereka meyakini bahwa tanah sekitar kuburan orang shalih memiliki keberkahan, sehingga amal ibadah di sana berbeda dengan amal ibadah di tempat lain.

“Terlebih lagi orang yang beribadah kepada kuburan”. Maksudnya beribadah kepada kuburan atau penghuni kuburan tersebut. Para penyembah kuburan, kadangkala menunjukkan ibadahnya kepada kuburan, dan kadangkala menunjukkannya kepada penghuni kuburan. Dan pada beberapa kesempatan, sebagian mereka menunjukkan ibadahnya kepada tempat di sekitar kuburan. Betapa banyak bangunan, soko (tiang) dan pagar kuburan para wali telah dijadikan sebagai tempat tujuan berziarah dan ngalap berkah.

Dengan ritual itu, mereka telah menjadikan pagar besi dan dinding kuburan sebagai sesembahan. Bahkan mereka meyakini bila mengusapnya akan mendapatkan keberkahan. Tidak jarang dari mereka yang menjadikannya sebagai parantara/ wasilah doa mereka kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Mereka beri’tikaf dan menjalankan berbagai ritual ibadah di sana. Sebagaimana mereka juga menggantungkan harapan dan rasa takutnya kepada kuburan-kuburan tersebut.

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Aisyah radhiyAllahu ‘anha pula, ia menuturkan bahwa ketika Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam sedang didatangi (oleh Malaikat Maut), beliau menutup wajahnya dengan sehelai baju. Dan tatkala merasakan sesak, beliau membukanya, -dalam keadaan demikian itu- beliau bersabda,

“لعنة الله على اليهود والنصارى، اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد”

“Semoga Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nashrani, mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (tempat peribadatan).”

Imam Muslim meriwayatkan dari shahabat Jundub bin ‘Abdullah, dimana ia menuturkan : “Aku pernah mendengar Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam bersabda lima hari sebelum beliau meninggal dunia,

“إني أبرأ إلى الله أن يكون لي منكم خليلا، فإن الله قد اتخذني خليلا كما اتخذ إبراهيم خليلا، ولو كنت متخذا من أمتي خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا، ألا وإن من كان قبلكم كانوا يتخذون قبور أنبيائهم مساجد، ألا فلا تتخذوا القبور مساجد فإني أنهاكم عن ذلك”

“Sungguh, Aku berlepas diri atas nama Allah untuk memiliki seorang khalil (kekasih yang sangat dekat) dari kalian, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan aku sebagai khalil-Nya, sebagaimana Ia telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil-Nya. Seandainya aku boleh mengambil seorang khalil dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai khalil-ku. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah, dan ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu”.

Rasululloh ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam di akhir hayatnya -sebagaimana dalam hadits Jundub- telah melarang umatnya untuk tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian ketika dalam keadaan hendak diambil nyawanya –sebagaimana dalam hadits Aisyah- beliau melaknat orang yang melakukan perbuatan itu, dan sholat di sisinya termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, walaupun tidak dijadikan bangunan masjid, dan inilah maksud dari kata-kata Aisyah radhiyAllahu‘anha.:“… dikhawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.”

Dan para sahabat pun belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) di sekitar kuburan beliau, karena setiap tempat yang digunakan untuk sholat berarti telah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk sholat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasul ShallAllahu ‘alaihi wa Sallam,

“جعلت لي الأرض مسجدا وطهورا”.

“Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci”.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad yang jayyid (bagus), dari Ibnu Mas’ud radhiyAllahu‘anhu, bahwa Nabi Muhammad ShallAllahu’alaihi wa Sallam bersabda,

“إن من شرار الناس من تدركهم الساعة وهم أحياء، والذين يتخذون القبور مساجد”.

“Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup saat hari kiamat tiba, dan orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah (masjid)” (HR. Abu Hatim dalam kitab shohihnya).

Ghuluw Terhadap Orang Shalih Merupakan Akar Kesyirikan Dari Masa Ke Masa Hingga Melanda Indonesia[9]

Salah satu penyakit akidah yang menjangkiti Ummat Islam di Indonesia adalah kegemarannya mengagungkan kuburan nenek moyang dan sosok yang dianggap shalih, untuk dijadikan perantara meminta berkah, kesehatan, minta anak, jodoh, jabatan, dan berbagai hajat lainnya.

Kenyataan adanya kepercayaan yang salah bahkan merusak aqidah Islam, contohnya keberadaan makam Walisongo tidak lepas dari mitos, seperti jika orang punya tujuan tertentu berziarah ke makam Walisongo maka doa-doanya akan dikabulkan.

Banyaknya makam yang dikeramatkan di berbagai tempat itu menjadikan keprihatinan para ulama yang masih punya kepedulian dan menyayangi Ummat Islam agar tidak terjerumus ke dalam kesesatan yang nyata.

Seorang Syaikh dari Timur Tengah yang berceramah di Radio Rodja Cilengsi Bogor diterjemahkan Ustadz Zaenal Abidin bin Syamsuddin, Selasa 05 Oktober 2010 tentang pentingnya Tauhid menyebutkan, di dunia Islam ada 20.000 kuburan yang dikeramatkan, yang dapat mengakibatkan pelakunya melakukan kemusyrikan yang mengeluarkan dari Islam.
Kalau pun tidak sampai terjerumus ke dalam kubangan kemusyrikan, masalah yang berkaitan dengan kuburan ini menimbulkan pula amaliah yang belum tentu sesuai dengan syari’at. Termasuk, sekedar membaca Al-Qur’an di kuburan. Membaca Al-Qur’an di kuburan merupakan amalan yang tidak ada tuntunannya, namun oleh mereka diyakini sebagai amal baik yang layak dilakukan saat melakukan ziarah kubur.

Penyimpangan yang jauh dari Islam itu lebih jauh lagi ketika tujuan orang-orang yang berziarah kubur pun mengikuti penuturan para juru kunci, untuk meminta apa-apa yang dihajatkan. Bahkan ada juru kunci yang mencatat hajat masing-masing peziarah untuk dijadikan apa yang mereka sebut pengantar dalam doa (meminta kepada mayat). Hingga kuburan-kuburan itupun dianggap ada fak-fak atau jurusan-jurusan masing-masing. Yang mau lancar rezekinya maka juru kunci menunjuki ke kuburan wali Fulan A. Yang ingin naik jabatan maka ke kuburan wali Fulan B, dan lain-lain. Betapa jauhnya hal itu dari apa yang diucapkan setiap shalat, membaca al-fatihah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.” (QS Al-Fatihah: 5).

Larangan berdoa kepada selain Allah pun telah ditegaskan dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ (106) وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهُ إِلَّا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ [يونس/106-107]

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zhalim.(106) Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karuniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yunus : 106-107).

Berdoa adalah ibadah[10], maka orang yang berdoa memohon kepada selain Allah (seperti kepada isi kubur, roh, orang yang dipatungkan dan sebagainya) berarti adalah menyembahnya. Maka Syaikh As-Syinqithi dalam Tafsir Adhwaaul Bayan menggolongkan lafadz zhalim dalam QS Yunus : 106 (jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim) itu artinya adalah kafir. Sebagaimana dalam QS Al Baqarah : 254 dan QS Luqman : 13.

Kenyataan jauhnya praktek penyimpangan di kalangan Ummat Islam, tampaknya semakin menjadi-jadi, sedangkan secara jumlah pun semakin berkembang subur. Perlu kita tengok, gejala buruk ini mesti ada pemicunya, bahkan mungkin ada penggeraknya. Kita tengok ke-sepuluh tahun yang lalu, bagaimana keadaan yang menggiring ke arah carut marutnya pemahaman dan pengamalan Ummat Islam terhadap agamanya. Sebagai gambaran singkat, mari kita simak kutipan berikut ini:

Dalam kata pengantar buku (Hartono Ahmad Jaiz) berjudul Tasawuf, Pluralisme, dan Pemurtadan terbitan Pustaka Al-Kautsar 2001 di antaranya ditulis:

“Perlu diingat, kalimah syahadat pun diacak-acak Nurcholish Madjid dengan cara menerjemahkannya menjadi Tiada tuhan (t kecil) selain Tuhan (T besar). Sedang lafal Assalamu’alaikum diinginkan Gus Dur untuk diganti dengan selamat pagi. Kuburan pun diberi istilah “keramat” entah oleh siapa, yang kandungannya rawan syirik. Lalu Gus Dur menghidupkan Sunnah Sayyi’ah (jalan keburukan) tentang pengeramatan itu dengan menghadiri kuburan Joko Tingkir di Lamongan Jawa Timur yang tak banyak dikenal orang, akibatnya praktek rawan kemusyrikan itu marak kembali sejak Juli 1999. (Tulisan ini bukan berarti anti ziarah kubur, namun dalam hal ini jelas kaitannya dengan pengeramatan kuburan yang jelas mengandung kerawanan syirik). Sementara itu pihak Nasrani lewat Nehemia-nya mengacak-acak Islam dengan menyebarkan lembaran-lembaran yang disebut “Dakwah Ukhuwah” padahal isinya memutar balikkan ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadits.” (Kata Pengantar buku Hartono Ahmad Jaiz, berjudul Tasawuf, Pluralisme, dan Pemurtadan terbitan Pustaka Al-Kautsar 2001).

Wahai saudaraku –semoga Allah merahmati Anda-, dari keadaan ditulisnya peristiwa itu hingga kini jaraknya hanya dalam masa sepuluhan tahun, tetapi ternyata perusakan agama itu sudah sedemikan dahsyat dampaknya. Di antaranya:

1. Pluralisme agama yang bahasa Islamnya adalah kemusyrikan baru (namun karena istilahnya tidak diambil dari istilah Islam maka Ummat Islam tidak faham) sudah merambah ke mana-mana. Sampai-sampai diselenggarakan perayaan lintas agama di Senayan Jakarta, Ahad 06 Februari 2011, bahkan tokoh utamanya adalah ketua umum Muhammadiyah Din Syamsuddin dan direncanakan akan didatangkan 10.000-an orang dari berbagai agama. Acara itu disertai pula doa bersama antar agama, yang tentu saja hal itu sama sekali tidak sesuai dengan Islam. Sebagaimana telah berlangsung acara yang mengagetkan, apa yang disebut haul memperingati kematian Gus Dur tahun pertama Desember 2010 diadakan doa bersama antar agama dan tahlilan serta yasinan di gereja di Jombang. Itu di samping acara lainnya, haul Gus Dur disertai tahlilan dengan diadakan pula arak-arakan barongsai dari keyakinan Konghucu Cina. (innalillahi wainnailaihi raaji’uun -red)

2. Kubur-kubur yang dikeramatkan pun semakin mengkristalkan sikap mengagungkan yang luar biasa, hingga satu kuburan keramat di Tanjung Priok Jakarta (kuburan Mbah Priok) mampu mengerahkan pembela-pembelanya sampai ribuan orang dan ada yang masih dibawah umur (atau anak-anak). Bahkan memperjuangkan entitasnya seolah seperti berjihad dalam agama, ketika membela kuburan yang mereka anggap keramat. (lihat buku Pendangkalan Akidah Berkedok Ziarah di Balik Kasus Kuburan Keramat Mbah Priok).

Demikianlah di antara fenomena ghuluw terhadap kuburan orang sholeh, bahkan seiring berjalannya waktu, ghuluw tersebut tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang benar-benar sholeh, akan tetapi dapat kita saksikan yang ada di sekitar kita yaitu di Indonesia bahwasannya orang-orang yang dianggap sholeh itu semasa hidupnya juga dekat dengan kesyirikan dan berbagai penyimpangan. Wallahu a’lam.

Sungguh sesuai jika di sini dinukilkan sedikit dari sya’ir al-‘Allamah Sulaiman bin Sahman rohimahullohu, dia mengungkapkan :

Millah Ibrahim telah ditinggalkan, tidak ada berbekas sama sekali dan ia pun tidak memiliki lagi tanda-tanda.
Agama itu telah sirna di hadapan kita. Bagaimana tidak? Sungguh, bagaikan debu diterpa angin dari segala penjuru.
Agama itu hanyalah kecintaan, kebencian, dan kesetiaan, serta pelepasan diri dari setiap orang yang sesat dan berdosa.
Tidak ada lagi orang yang beribadah berpegang teguh dengan millah putera Hasyim, Nabi yang berasal dari Mekkah.
Sementara, kita tidak memandang apa yang menimpa dien dan memupus agama yang lurus ini sebagai suatu bencana.
Kita sedih atas kelalaian kita dan memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa besar.
Kita pun mengadukan kepada-Nya hati-hati yang telah membatu, dan ternista oleh berbagai maksiat.
Bukankah bila kita kedatangan orang yang lalim yang berlumuran dengan noda-noda ahli syirik,
kita pun bersenang hati menghaturkan salam penghormatan dan sanjungan, serta bersegera menyajikan hidangan.
Rasululloh al-Ma’shum berlepas diri dari setiap Muslim yang menetap di negeri syirik tanpa melakukan pemutusan.
Namun, akal kita hanya mencari kehidupan dunia
mau menerima setiap ahli maksiat lagi pendosa.
Jika yang demikian itu berlangsung pada zamannya, lalu bagaimana yang terjadi pada zaman sekarang ini? Kita memohon kepada Allah keselamatan bagi kita dan kaum muslimin di dunia dan di akhirat[11].

Jalan yang benar adalah agama yang dibawa Muhammad ShallAllahu’alaihi wa Sallam, sedangkan jalan yang sesat adalah agama Abu Jahal. Sementara ‘urwatul wutsqaa (ikatan yang paling kuat) adalah syahadat bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah. Syahadat yang mencakup nafi (peniadaan) dan itsbat (penegasan), menafikan segala macam ibadah selain kepada Allah, dan menegaskan bahwa segala macam ibadah –secara keseluruhan- hanya bagi Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.[12]

Akhirnya, segala puji bagi Allah Rabbul ‘Alamin, shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi kita, Muhammad ShallAllahu’alaihi wa Sallam, keluarganya, dan para shahabatnya.

***
Penulis: Septira Utami Ummu Haniyah
Muroja’ah: Ust. Ammi Baits
Artikel muslimah.or.id

—–

Footnote:
[1] Khud ‘aqiidataka hlm. 14-15
[2] Khud ‘aqiidataka hlm. 14
[3] Al Waajibaat hlm. 8
[4]Dirujuk dari (http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com/search?q=ghuluw) atau (http://bahaya-syirik.blogspot.com)
[5] Syarah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi, pensyarah Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, hlm.122-129
[6] Kitab Al Mindzooru hlm. 12
[7] Buku ‘Hal-hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim’ hlm.302
[8] Syarah Kitab Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi, pensyarah Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, hlm. 130-139
[9] Dirujuk dari (http://www.nahimunkar.com/gejala-buruk-pengkeramatan-kuburan/..)
[10] Khud ‘aqiidataka hlm. 15-16
[11] Dikutip dari Buku ‘Hal-hal yang Wajib Diketahui Setiap Muslim’ dengan sedikit perubahan.
[12] Al Waajibaat hlm. 13

Sumber:

http://muslimah.or.id/aqidah/berlebih-lebihan-terhadap-kuburan-orang-orang-shalih.html

——————–

Larangan Meninggikan dan Membuat Bangunan di atas Kuburan.

Meratanya kebodohan terhadap ilmu syar’i pada masyarakat mengakibatkan kebingungan dan kerancuan pada pemikiran serta pemahaman generasi muda muslim belakangan ini sehingga jadilah dipandangan mereka yang sebenarnyan buruk menjadi baik , yang sebenarnya bid’ah menjadi sunnah, serta yang sebenarnya Syirik menjadi Tauhid…inilah realita kaum muslimin sekarang…sehingga jadilah agama islam itu asing di kalangan para pemeluknya sendiri…sebagaimana sabada Rasulullah shalalallahu alaihi wa sallam:

“Islam itu pada mulanya asing dan nanti akan kembali menjadi asing. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.”

Mengenai pembahasan kita kali ini adalah “apakah bisa dibenarkan menghancurkan kuburan?” apakah hal itu termasuk sesuatu hal yang di diperintahkan dalam agama islam ini…mari kita simak langsung sumber hukum kita Al-Qur’an dan As Sunnah dan kita kesampingkan dahulu ego kita masing-masing karena agama ini adalah milik Allah semata.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. 4:59)

Perhatikanlah oleh kita semua -Semoga Allah memberikan Taufiq-Nya kepada kita semua- :

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik) ….” [az-Zumar: 39/3].

A. Larangan Beribadah di sisi Kuburan / mejadikannya sebagai tempat Ibadah.

1. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata lima hari sebelum kematiannya, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan (para nabi dan orang-orang shalih dari mereka) sebagai masjid, maka janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan itu sebagai tempat ibadah (masjid), karena sungguh aku melarang kalian dari hal itu”.[Hadits Riwayat Muslim dalam Al-Masajid 532]
2. Dalam hadits yang shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata di saat sakit menjelang kematiannya, “Sungguh Allah melaknat orang Yahudi dan Nashrani yang telah menjadikan kubur Nabi mereka sebagai masjid (layaknya tempat ibadah). “Beliau memperingatkan agar tidak melakukan seperti apa yang mereka lakukan” .

3. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Seandainya bukan karena sabda beliau ini, tentu kubur beliau akan ditampakkan di luar rumah. Sungguh hal itu adalah terlarang jika ada yang menjadikan kuburannya sebagai masjid / tempat ibadah.”
4. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat Allah menurunkan ayat (yang artinya): “Orang-orang beriman yaitu mereka yang tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezholiman” (QS. Al An’am: 82)”. Ketika mendengar ayat tersebut, para sahabat pun menjadi gelisah. Mereka pun bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Lantas siapakah –wahai Rasul- yang tidak berbuat zholim pada dirinya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya yang dimaksud zholim dalam ayat tersebut adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar perkataan seorang hamba yang sholih (yang artinya), “Sesungguhnya syirik adalah kezholiman yang paling besar?”
5. Begitu pula Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr” (QS. Nuh: 23) Para ulama salaf mengatakan, “Berhala-berhala yang disebutkan dalam ayat tersebut dulunya adalah orang-orang sholih di kaum Nuh. Ketika mereka mati, kaum Nuh beri’tikaf di kubur mereka dan membuat patung-patung yang menyerupai mereka. Inilah awal penyembahan berhala.”
6. Dalam hadits lain, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia bercerita, ketika Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam jatuh sakit, maka beberapa orang isteri beliau sempat membicarakan tentang sebuah gereja yang terdapat di negeri Habasyah (Ethiopia), yang diberi nama Maria – Ummu Salamah dan Ummu Habibah sudah pernah mendatangi negeri Habasyah – kemudian mereka menceritakan tentang keindahan gereja dan gambar-gambar yang terdapat di dalamnya. ‘Aisyah bercerita, “(Kemudian nabi shalallahu ‘alaihi wa salam mengangkat kepalanya) seraya berucap, “Mereka itu adalah orang-orang yang jika ada orang shalih di antara mereka yang meninggal dunia, maka mereka akan membangun masjid di makamnya itu lalu mereka memberi barbagai macam gambar di tempat tersebut. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah (pada hari kiamat kelak).”

B. Hukum meratakan Kuburan

1. Imam Muslim Rahimahullah meriwayatkan dari hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk memagari kuburan, duduk-duduk di atasnya dan membuat bangunan di atasnya”

2. Dari Abu al-Hayyaj al-Asadi, ia berkata, ”’Ali bin Abi Tholib radhiyallahu ‘anhu berkata kepadaku : ”Ingatlah aku mengutusmu sebagaimana Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku : ’Janganlah kamu biarkan patung kecuali kamu hancurkan, dan janganlah pula kamu biarkan kuburan yang berlebihan kecuali kamu ratakan.’” (HR. Muslim : 696)

3. Dari Abu Tsumamah bin Syufiyyi, ia berkata, ”Kami bersama Fudholah bin ’Ubaid berjihad di bumi Romawi, di daerah Rudais. Salah seorang sahabat kami meninggal dunia, lalu Fudholah bin ’Ubaid radhiyallahu ‘anhu memerintahkan kami agar meratakan kuburannya, lalu ia berkata : ’Aku mendengar Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk meratakannya.’” (HR. Muslim : 968)

4. Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim no. 970)

C. RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM TIDAK PERNAH MEMERINTAHKAN UNTUK MELESTARIKAN SITUS SEJARAH ISLAM

Dalam masalah ini sangatlah jelas, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat tidak terlalu memikirkan situs-situs sejarah. Begitu pula beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah merencanakan dengan niat secara khusus melakukan safar (perjalanan) ke tempat-tempat tersebut.

Belum ditemukan ada riwayat yang menunjukkan diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan pendakian ke bukit-bukit bebatuan untuk mengunjungi Gua Hira, Gua Tsaur, Badr, atau tempat kelahiran beliau pada pasca hijrahnya . Kalau ada yang menyatakan telah terjadi Ijma’ di kalangan sahabat mengenai disyariatkannya melestarikan tempat-tempat peninggalan sejarah, seperti rumah tempat kelahiran Nabi, Bi`ru (sumur) ‘Arîs, maka hal itu tidak bisa dibuktikan, walaupun hanya dengan satu pernyataan seorang sahabat . Para sahabat dan orang-orang yang hidup pada qurûn mufadhdhalah (masa yang utama, yaitu generasi sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in) tidak pernah melakukannya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mensyariatkannya.

D. LIHATLAH LEBIH JELAS LAGI Apa yang di lakukan Umar Radhiyallahu anhu terhadap Pohon Ridwan

Ibnu Wadhdhâh meriwayatkan, bahwasanya ‘Umar bin al-Khaththâb memerintahkan untuk menebang sebuah pohon di tempat para sahabat membaiat Rasulullah di bawah naungannya (yaitu yang dikenal dengan Syajaratur-Ridhwân). Alasannya, karena banyak manusia mendatangi tempat tersebut untuk melakukan shalat di bawah pohon itu. Beliau Radhiyallahu ‘anhu MENGKHAWATIRKAN TIMBULNYA FITNAH (KESYIRIKAN) PADA MEREKA NANTINYA, SEIRING DENGAN PERJALANAN WAKTU.
Dari keputusan ‘Umar bin al-Khaththâb ini dapat kita ketahui bila di kalangan para sahabat tidak terdapat Ijma’ tentang bertabaruk (mencari berkah) melalui situs-situs sejarah peninggalan masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Riwayat yang ada justru menyatakan adanya larangan bertabarruk ataupun beribadah di tempat-tempat tersebut. Keputusan Amirul-Mukminin ‘Umar bin al-Khaththâb ini juga sudah cukup untuk menjelaskan sikap Pemerintah Saudi yang tidak memberi akses kemudahan menuju tempat-tempat bersejarah yang ada di Makkah, terutama jalan menuju Gua Hira maupun Gua Tsaur yang terjal lagi berbatuan tajam. Meski demikian, sejumlah kaum muslimin tetap nekad dan rela bersusah payah, dan tidak menutup kemungkinan mempertaruhkan nyawa berupaya mencapai tempat-tempat itu, kemudian berdesak-desakan untuk mengerjakan shalat di sana, dan ngalap berkah (mencari berkah) di tempat yang tidak dianjurkan oleh syariat.

E. MEWASPADAI ALASAN PELESTARIAN

Ketegasan yang brilian dari Amirul-Mukminin ‘Umar bin al-Khaththaab itu sangat berbeda dengan yang terjadi di masyarakat kita sekarang ini. Bahkan di sebagian daerah, situs-situs bersejarah itu sangat mendapatkan perhatian. Sehingga dicanangkan usaha rehabilitasi dan pemugaran supaya lebih menarik. Dengan dalih, mempunyai potensi dapat meningkatkan pendapatan daerah, menjaga kekayaan literatur budaya, atau lainnya. Karenanya, dinas pariwisata setempat berupaya kuat “menjualnya” untuk menarik wisatawan domestik maupun dari manca negara.

Sementara itu diketahui, pelestarian budaya yang digalakkan tersebut banyak memberi nuansa kesyirikan, dan di negeri ini cukup beragam bentuknya. Ada berupa telaga, yang konon mengandung air suci dan diyakini dapat menyembuhkan penyakit, pintu keraton, kereta kencana, upacara larung kepala kerbau untuk memberi persembahan kepada penjaga lautan, persembahan sesajen, ungkapan terima kasih kepada Dewi Sri (dewi padi) karena telah memberi panenan yang baik, tradisi-tradisi adat suku tertentu yang kadang dibarengi dengan pengagungan terhadap senjata-senjata pusaka. Sebagian contoh-contoh ini sangat berpotensi mengikis aqidah seorang muslim, karena banyak mengandung unsur kesyirikan maupun maksiat-maksiat lainnya. Adapun syirik, ia termasuk dosa terbesar. Dan lebih parah lagi orang yang menjajakan dan menyeru manusia kepada perbuatan syirik, yang berarti ia telah sesat dan menyesatkan orang lain. Dia telah menantang Allah di dalam kerajaan-Nya dengan mengajak orang lain untuk mengagungkan atau melakukan penyembahan kepada selain Allah. Seolah ia hendak melakoni peran yang dilakukan ‘Amr bin Luhay, yaitu yang pertama kali menggagas perbuatan syirik di bumi Arab dan merubah agama Nabi Ibrahim.

F. Penyebab utama perbuatan syirik di muka bumi (SEJARAH TERJADINYA KESYIRIKAN DI MUKA BUMI)

Awal mula terjadinya kesyirikan di muka bumi disebabkan mengagungkan kuburan para wali. Alloh Ta’ala berfirman : ”Dan mereka berkata, ’Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, suwa’, yaghuts, ya’uq, dan nasr.’” (QS. Nuh : 23). Mereka adalah nama-nama orang sholih dari kaum Nuh, ketika mereka meninggal dunia setan membisikkan kepada kaumnya agar mendirikan patung di tempat yang biasa mereka mengadakan majelis dan memberi nama patung tersebut dengan nama-nama mereka sekedar untuk mengenang mereka , maka merekapun melakukan hal itu namun patung-patung tersebut belum disembah, sehingga apabila generasi pertama telah tiada (tinggallah anak-anak mereka), sedangkan ilmu telah dilupakan (tentang asal muasal pembuatan patung tersebut), maka generasi selanjutnya menjadikan patung-patung tersebut sebagai sesembahan.” (HR. Bukhori : 4920)

G. Seputar Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Tanya: Apa benar makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang di dekat Masjid Nabawi itu? Terus ceritanya bagaimana kok makamnya dibikin bangunan/dibangun, sedangkan Rosulullah sendiri melarangnya, termasuk masjid yang di dalamnya ada makamnya kan tidak boleh juga. Apa benar dulu sempat ada rencana pencurian jenazah Rosulullah oleh orang nasrani?
Terus apa benar dulu pernah mau dibongkar oleh “Wahabi”, dan apa alasannya? Jazakallahukhairan. (Mimin Deca Kurniawan)

Jawab:

Alhamdulillah washshalaatu wassalaamu ‘alaa rasulillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in.
Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terletak di rumah Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, yang dahulu letaknya disamping kiri masjid nabawi, tempat yang sekarang dikenal sebagai kuburan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dari Ummul Mu’minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhaa beliau berkata:

“Maka ketika sampai di hari giliranku, Allah ta’ala mencabut ruh beliau sedangkan beliau berada diantara dada dan leherku, dan beliau dikubur di rumahku” (HR.Al-Bukhary)

Para ulama menyebutkan bahwa hal ini adalah menjadi kesepakatan (ijma’) kaum muslimin.

Berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah:

“Tidak ada di dunia ini kuburan nabi yang diketahui secara mutawatir dan ijma’ (sepakat) kecuali kuburan nabi kita, adapun yang lain maka terdapat perselisihan” (Majmu’ Al Fatawa 27/254).

Adapun bangunan yang berada di atas kuburan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka sebagaimana yang kami sampaikan di atas bahwa beliau dikubur di dalam rumah. Dan para sahabat radhiyallahu ‘anhum sengaja tidak membongkar rumah ‘Aisyah karena ditakutkan nanti dijadikan tempat shalat atau sujud, sebagaimana ucapan ‘Aisyah:

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda disaat beliau sakit yang beliau tidak bisa bangun karenanya: “Allah melaknat orang-orang yahudi dan nashrani, yang telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid (atau tempat bersujud)”. Kemudian ‘Aisyah berkata: Kalau bukan karena sabda nabi ini niscaya akan dinampakkan kuburan beliau, akan tetapi hal itu tidak dilakukan karena takut dijadikan tempat bersujud (shalat).(Muttafaqun ‘alaihi).

Makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam awalnya bukan di dalam masjid, sampai di masa Al-Khulafa Ar-Rasyidin juga demikian, kemudian ketika para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal semua, dan Al-Walid bin Abdul Malik (antara tahun 80 H-100 H) memegang pemerintahan beliau memerintahkan gubernur Madinah saat itu, Umar bin Abdul Aziz rahimahullahu, untuk memperluas masjid Nabawi karena kaum muslimin yang semakin hari semakin banyak. Namun yang disayangkan adalah diperluasnya masjid nabawi ke arah timur sehingga masuklah rumah ‘Aisyah yang di dalamnya ada makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, dan Umar ke dalam area masjid. Para ulama saat itu -diantaranya adalah tujuh ahli fiqh Madinah di zaman tabi’in- mengingkari dengan lisan perluasan ke arah timur ini, karena hadist-hadist menunjukkan larangan membangun masjid di atas kuburan.

Adapun usaha pencurian jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam oleh orang nashrani maka ceritanya ada di kitab Wafaa’ul Wafaa (2/431-433) karangan As-Samhudi (wafat 911 H), namun sebagian ulama meragukan kebenaran kisah ini.
Tidak benar berita bahwa orang-orang yang dinamakan oleh sebagian orang dengan “Wahabi” pernah mau membongkar kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan memindahkan jenazahnya. Bagaimana mereka melakukannya sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Allah tidak mencabut ruh seorang nabi kecuali di tempat yang dia (nabi tersebut) ingin supaya dia dikuburkan disitu” (HR. At-Tirmidzy, dan dishahihkan Syeikh Al-Albany).
Wallahu a’lam.
Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

Sumber: http://pejuang81.blogspot.com/2013/05/larangan-meninggikan-dan-membuat.html

—————

Just update, jumat w27 maret 2015.

Saya cukup terkejut mendengar khutbah jumat hari ini…

Mendengar seorang penceramah, mengatakan sedikit-sedikit haram, sedikit-sedikit bid’ah…
Kalo tahlilan bid’ah, maka pergi haji juga bid’ah..khan uangnya disetor ke bank….

Menurut saya, mungkin kurang nalar atau kurang menggunakan akal, sebab yang dibandingkan oleh penceramah tersebut tidak berhubungan, cenderung ngaco atau asal ceplas ceplos…

Ditambah lagi penceramah berkata, ada seorang yang sok tahu dalam agama, baru tau satu atau dua ayat sudah merasa sok paling benar, ada tuh orang nya seperti ini di palembang…
Saya pribadi tidak mau berburuk sangka dengan orang yang “di duga penceramah” tsb, mungkinkah si anu, si orang yang masih muda yang sedang tenar-tenarnya di Indonesia dari palembang…atau bisa siapa saja…
Namun menurut saya juga, walaupun seandainya si orang muda yang tahu ayat sedikit, dan menyuarakan yang baginya benar, apakah tidak boleh? apakah pasti salah?
Renungkan dahulu esensinya bid’ah…jangan serba mau dilawan, gunakan akal sehat…

Seandainya ada montir mobil, sudah puluhan tahun memperbaiki mobil, terus ada seoarang pelajar yang masih di sekolah tehnik, melihat si montir tua yang menyambung sekring mobil yang putus, dimana sekringnya hanya 10A, tapi digantinya dengan kawat yang dililit-lilit sehingga tebal, sehingga tidak lagi 10A, bahkan bisa 40A, jelas ini perlakukan yang sangat salah dari montir tua tersebut…
Maka si pemuda yang masih pelajar di sekolah teknis tersebut menasehati mengenai kesalahan si montir tua tersebut, lalu dikatakan oleh si montir tua tersebut, kamu baru tahu soal teknis sedikit sudah sok tau, sok serba disalahkan…dll dll…

Jadi si pemuda yang baru tahu sedikit tentang ayat, menurut saya biasa-biasa saja, ada yang dia tahu, ada yang inngin dia share/bagikan ke orang lain…
Bukankah saling nasehat menasehati sangat di anjurkan dalam agama islam?

Demikianlah hal ini seperti yang saya tulis diatas hanya untuk saling menasehati dan ini yang menurut saya yang benar, jika ada yang berpendapat lain tentunya silahkan saja, karena ini hanya menyampaikan saja, bukan memaksakan.

Islam itu sederhana, islam itu cerdas, islam itu tidak melakukan hal sia-sia.

Jangan pernah berpikir Rasullullah belum cukup memberikan tuntunan, jangan pernah berpikir kita lebih cerdas dan lebih cinta rasullullah daripada sahabat-sahabat rasul…

Sahabat rasul saja tidak melakukannya, lalu kenapa kita tambah-tambahkan, kata orang sini enyek-enyek, minta alem, berlebih-lebihan, sedikit demi sedikit merusak, lama-lama semakin meluas dampak kerusakannya….

Mending yang rusak materi, tapi yang rusak satu ini adalah akidah…

Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tersinggung karena tulisan ini kurang berkenan.

Wassallaam