Saya bukan orang bijak bahkan ilmu agama saya sangat dangkal.
Cuma hal ini saya rasa benar bahwa kenapa sahabat nabi saja tidak merayakannya, dan sesuai dengan perintah al-quran agar sesama kita untuk saling menasehati jika dirasa ada yang salah…karena hal-hal seperti maulid ini sungguh akan menyebabkan kerusakan akidah yang sangat parah cepat atau lambat…seperti idol worship (mengidolakan seseorang yang berlebihan yang justru sangat mungkin kelak menjadi menyembah Nabi Muhammada S.A.W) dan justru melecehkan nabi…
Bahkan yang lebih lucu lagi, bahwa sampai saat ini, belum ada kesepakatan mengenai hari lahirnya nabi kita Muhammad s.a.w.

terjemahan al-asr - walasri
terjemahan al-asr – walasri

TERJEMAHAN AL-QURAN SURAT AL-‘ASR AYAT 1-3
1. Demi masa
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian,
3. Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat dan menasehati supaya menetapi kesabaran.

Catatan : surat ini menerangkan bahwa manusia yang tidak dapat menggunakan masanya dengan sebaik-baiknya termasuk golongan yang merugi.

Alhamdulillah saya sejak kecil telah dilarang oleh alm ayah saya utk merayakan maulid nabi muhammad s.a.w

Cenderung mengganggu (bahkan) kita yang menasehati kena marah oleh yang merayakan.

Contoh, saya pernah tinggal dekat sekali dengan masjid, waktu itu dimasjid sedang ada perayaan maulid nabi muhammad…
Acaranya malam-malam..selepas sholat isyak…
Malam itu saya lagi mau bekerja dirumah dimana cukup memerlukan konsentrasi…saat itu saya malah terganggu dengan suara hingar bingar acara tersebut…

Jika mau beramal yang sunah, terlalu banyak yang bisa kita lakukan, sifatnya silent tidak perlu hingar bingar, bahkan mau setiap hari, setiap menit…bahkan amal sunnah yang sudah mendekati wajib misalnya kita lebih mampu bersedekah ke saudara terdekat yang lagi kesusahan, tetangga dll.
Yaa lakukan saja hal diatas jika niatnya mau beramal…

Isilah dengan amal, bahkan amal yang sifatnya bahkan massive jika bisa…
Contoh membangun masjid untuk kepentingan orang banyak…okelah kita tidak punya uang…lupakan saja sejenak..
Atau berbagi ilmu yang kita miliki..

Contoh orang-orang yang bukan islam (mudah-mudahan mereka masuk islam), mereka justru mempraktekkan cara islam, mereka beramal dengan tak putus-putus…

Misalnya  website yang menyediakan perhitungan arus dan tegangan untuk lampu led secara gratis…tiap bulan mereka bayar (mengeluarkan uang) hosting agar
websitenya tetap hidup, merancangnya dengan program tertentu, orang lain tingal meng-input angka-angka, dan boom kalkulasi tegangan atau arus atau komponen
dalam ukuran detik sudah didapat…dan umumnya pemirsa / pemakai justru menghasilkan uang dari website tersebut, contohnya seperti saya…saya dapat uang dari situs gratis tersebut, saya dapat memberi makan keluarga dari situs gratis tersebut…jika ada lebih saya bisa bersedekah…dll
Saya sangat kesusahan jika tidak ada website ini.

Generator tegangan arus led
Generator tegangan arus led

Misalnya lagi website mengenai gemology, dimana pemilik websitenya memberikan semacam kursus gemology secara gratis, tiap bulan mereka bayar (mengeluarkan uang)
hosting agar websitenya tetap hidup, merancangnya dengan program tertentu, orang lain tingal baca dan pahami dan boom pengalaman orang lain seperti penjual batu
cincin dimana harus ditebus dengan waktu bertahun-tahun lamanya, kita yang membuka website ini dalam kurun waktu hari atau minggu sudah cukup paham dengan
keilmuan batu-batu perhiasan…sayapun banyak mendapat manfaat dari website ini…
Saya sangat kesusahan jika tidak ada website ini.

kurses gemology gratis barbara smigel
kurses gemology gratis barbara smigel

Dan banyak lagi website-website dimana pemiliknya bukan orang islam yang saya kenal, justru mereka mempraktekkan dengan cara islam…mereka berbagi karena ingin berbagi, mendapat keteneran dan keuntungan yaa bisa saja terjadi…tapi yang pasti mereka sudah jauh lebih pintar dari yang mereka berikan sekilas diatas…kemampuan website-website diatas yang mereka persembahkan dibanding kepintaran mereka sudah jauh lebih hebat lagi…kita umumnya masih jauh dan jauh tertinggal dari mereka…

Kita justru beramal bak seolah-olah sudah beramal yang banyak, bak beramal untuk orang lain, kita justru cenderung membuang waktu bahkan mengganggu orang lain…

Jika serasa-rasa sangat cinta dengan nabi bahkan serasa lebih dari sahabat, yaa puasa senin kamis…itu yang nabi muhammad s.a.w lakukan untuk beramal dan
mengingat hari lahirnya beliau…

Lucunya, yang anjuran nabi dimana sudah jelas-jelas nabi lakukan kita tidak lakukan, ngakunya cinta setengah mati dengan nabi muhammad s.a.w, tapi malah menambah-nambah kerancuan…bahkan malah mengganggu sebagian orang acara tersebut diadakan…

Bagaimana kita orang islam akan lebih maju dari orang yang beragama lain, dimana kita merasa seolah-olah kita tidak cukup beramal dengan yang wajib dan yang sunah
(yang nabi ajarkan) lalu menambah-nambahinnya dimana sifatnya kebllinger, dimana lagi orang yang bukan dari agama islam malah beramal dengan tak putus-putus dengan memberikan kontribusi nyata kepada orang lain yang bahkan orang lain yang tidak segolongan dalam hal agama yang dianut…Aneh bin ajaib…

Bahkan yang lebih ajaibnya lagi, saya memberitahukan ini karena surah wal-asr dimana kita harus saling menasehati, bahkan acaranya sudah masuk tahap mengganggu dan saya tidak balas mengganggu, kita yang terganggu justru kena marah….ruaarr biasa…

Ternyata video dibawah ini penjelasannya yg sangat bagus dan sangat masuk akal.

Tapi kebanyakan orang lebih mementingkan ego daripada fakta, bahkan fakta nabi sendiri idak pernah merayakan ultah kakek, nenek, nabi2 lain…ditolak.
Nabi cuma mengingat hari kelahirannya hari senin…dan dia melakukannya dengan berpuasa…bukan bekumpul buang waktu apalagi makan-makan….
Kalo untuk sedekahan, yaa sedekahan saja, kumpulkan uang banyak-banyak, datangi atau undang tetangga yang miskin dll, lebih jelas niatnya….

Jadi sebetulnya nabi sendiri memerikan contoh simple kalo kita mau mengingat nabi dan jika kita memang sangat ingin melakukan sunnah nabi…yaitu puasa senin kamis…
Bukan dengan buang2 waktu, dirayaken, dll dll….Karena hal itu tidak akan menjadikan kita lebih dekat dengan allah…

Bab 229. Sunnahnya Berpuasa Pada Hari Senin Dan Kamis

1252. Dari Abu Qatadah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. ditanya perihal berpuasa pada hari Senin, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Itu adalah hari yang saya dilahirkan di dalamnya dan hari yang saya diangkat sebagai Rasul atau hari yang pada saya diturunkan al-Quran.” (Riwayat Muslim)

Sudah disebutkan, sahabat nabi aja yang jelas jelas lebih cinta lagi tidak merayakannya?
Nah kita mau membuat2 tambahan merayakannya, menghabiskan waktu, bahkan ada yang nangis2 pada maulid saking cintanya sama nabi pada perayaan tersebut…hehehe….
Bukan yang spt ini yang nabi inginkan….
Turuti saja apa yang dilakukan nabi…jangan dilebih2kan dan jangan dikurangi….

Kalo memang ada waktu lebih…luangkan waktu untuk keluarga, membantu manusia yang lain…
Kalo memang ada harta lebih, gunaken hal yang bermanfaat untuk keluarga dekat, keluarga jauh, orang lain…
Bukan hal yang dangkal2 seperti ini…seperti antusias menyambut hari kelahiran nabi…..bersedih2 seperti cinta banged…tapi tidak berguna untuk orang lain…
Bahkan menurut saya, maulid nabi ini, justru mengajak orang-orang lain untuk menyia2akan waktu hidup dengan melakukan hal yang tidak berbermanfaat atau beramal….

Bahkan ada yang memberi pengandaian yang sangat dangkal logika, cenderung kata orang sini enyek-enyek, nyenyel…hehehe.

Mereka memberikan dengan logika pengandaian yang sangat dangkal…

Ibarat kita memiliki orang tua yang kaya raya terpandang karena kemurahan hatinya, setelah kita dewasa kitapun menjadi ayah, bekerja dan menjadi mapan….
Setelah mapan, mati-matian kita ingin menyenangkan orang tua kita dengan harta kita, hehehe…
Kata orang tua dari si anak, bukan itu nak yang kami mau, kalo punya harta mending berikan saja ke keluarga kita yang miskin, tetangga dll….kami tidak miskin dengan harta…harta kami pasti banyak….kami ingin kamu menjadi anak yang soleh, mencontoh kami bagaimana kami berlaku, mendoakan kami dll…jangan enyek-enyek….

Yaaa, beginilah nanti kita yang sok-sok an sayang dengan nabi…tetangga banyak yang melarat, sedekah mungkin jarang, pas maulid nabi mati-matian bikin acara besar-besaran…hanya sehari…

Just do it aja deeh, kalo memang cinta nabi, puasa senin kamis, sedekah terus atau amal-amal lain dalam sehari-hari yang berguna untuk orang lain…

Bahkan banyak yang tidak terima dengan memberikan semacam pengandaian, semacam alasan-alasan dimana sangat dangkal dalam pemahaman “maksud” atau “tujuan kenapa ini tidak dirayakan…gak ngeh…

Contoh pengandaian yang sangat lemah jauh dari cerdas dengan memberikan pengandaian yang sangat jeblok…

Dalil Maulid Nabi martabak
Dalil Maulid Nabi martabak

Memang harus menjelaskan suatu kesalahan jika itu dirasa kesalahan, memang perlu didebat jika dirasa ada yang salah, tapi harus yang masuk akal, kuat pada logika, karena pada islam aturannya semua masuk akal…

Model pengandaian diatas sangat mudah untuk dipatahkan, gak smart deh…
Jangankan memberikan pengandaian dengan yang sunah-sunah…Bahkan jika diberikan dengan contoh pengandaian Wajib plus sunah, si gambar langsung patah….misalnya sholat itu wajib, ceramah itu sunah, jika dicampurkan sholat sambil ceramah, apakah boleh? sakitt…sakit…

Jangan kita kira kita lebih cerdas dari sahabat nabi….jangan pula kita kira kita lebih cinta kepada nabi daripada sahabat nabi mencintai nabi…
Jika nabi dan sahabat ngga melakukan, kenapa kita sok keminter…

Hari ini kita maulid nabi dengan membaca doa-doa saja beramai-ramai…lain waktu mulai minta sumbangan buat acara besar-besaran, saling gagah-gagahan antar kampung misalnya, membebani orang, mengganggu kegiatan orang lain, lain waktu mulai tambah besar lagi saking cinta sesat, mulai menyakiti diri sendiri….lain waktu mulai nyembah nabi….bukan menyembah allah….
Saya yakin, jika sahabat nabi atau bahkan nabi sendiri meng-ikrarkan atau memicu sejak dahulu perayaan hari ulang tahunnya sejak dahulu, saya yakin bisa saja di zaman ini orang-orang tidak lagi menyembah allah, tapi menyembah nabi tadi.

Berlarut larut untuk hal yang tidak ada guna seperti ini bisa menjadi fatal ataupun tidak menjadi fatal seperti inilah sangat disukai oleh orang barat….teruslah berlarut seperti itu….teruslah ketinggalan…sampai pada akhirnya kita ada dibawah…

Dibawah ini, beberapa pesan atau point penting pada video diatas.

00:56,073
Alasannya adalah, apa gunanya mengirim Rasul untuk mengajarkan kita bagaimana untuk menyembah Allah.
Padahal kita berpikir kita lebih tahu dari pada nabi?
Kadang-kadang orang begitu marah ketika kita memberitahu orang-orang untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diajarkan oleh Rasulullah mereka malah berpikir Anda telah menyimpang , tidaklah menyimpang bagi kaum yang mengajak untuk mematuhi ajaran Rasul, meninggalkan apa-apa yang ia tidak diajarkan dalam hal ibadah.

Rasul mengatakan pada banyak kesempatan, “Kutinggalkan bagimu dua perkara”…selama engkau berpegang padanya engkau tidak akan pernah tersesat, itu adalah kitab Allah dan sunnahku.

Nabi Muhammad S.A.W ketika ia datang ke Madinah, ia menemukan orang-orang Madinah merayakan dan bermain dan bergembira pada satu hari tertentu sehingga ia bertanya hari apa ini? dan mereka mengatakan kepadanya bahwa ini adalah hari yang kita gunakan untuk merayakan sejak lama dan kita merayakan ini setiap tahun.
Sehingga Nabi Muhammad S.A.W melarang mereka dari melakukan hal ini,
Ia (Muhammad S.A.W) mengatakan kepada mereka bahwa kita hanya punya dua hari raya dalam Islam yaitu hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. sehingga tidak diperbolehkan untuk membuat hari raya bidah.

Saudara-saudaraku, perhatikanlah dalam surat Al Kahfi ayat 103, menjelang akhir Allah SWT berbicara tentang pecundang sejati…
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya tetapi pada saat yang sama mereka tidak mengikuti para Rasul dalam meniti sunnahnya, ini sebabnya mereka tersesat.

Saudara-saudaraku jangan pernah berpikir bahwa ada satu satu perbuatan baik yang Rasulullah lupa ajarkan kita jangan pernah berpikir bahwa ada ibadah yang Anda mungkin kerjakan yang akan lebih baik dari apa yang Rasul ajarkan. dan jangan pernah berpikir bahwa Rasulullah belum sempurna tugasnya yang cukup bagi kita untuk mengikutinya.
Jadi sekarang kita harus datang dengan perbuatan baru dan cara ibadah baru yang akan mengakibatkan sia-sianya perbuatan Anda.

Satu-satunya indikasi terkait ulang tahunnya (Muhammad S.A.W) bahwa dia puasa pada hari Senin, ia tidak pernah merayakan apa-apa yang ada hubungannya dengan tanggal 12 rabiul awal, dan para sahabat bertanya mengapa beliau berpuasa pada hari Senin.
Maka ia mengatakan kepada mereka bahwa ini adalah hari yang saya dilahirkan dan ini adalah hari dimana Allah turunkan Quran pada tanggal tersebut.
Jadi jika Anda ingin merayakan ulang tahun Muhammad S.A.W puasalah tiap senin.
Nabi sendiri tidak merayakan tidak pula sahabatnya Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali, semoga Allah meridhai mereka,
dan  tidak pula diluar (sahabat) sana mencintai nabi Muhammad S.A.W lebih daripada yang kita lakukan.
Nabi sendiri tidak merayakan ulang tahun kakeknya Ibrahim, atau Isa, atau Musa.,
Jadi merayakan maulid Muhammad S.A.W berarti dia merasa lebih tahu dari pada Nabi dan telah menghujat islam. Karena tidak ada yang tahu lebih banyak daripada Muhammad S.A.W atau ia menyangka bahwa Nabi tahu itu baik untuk dirayakan tetapi ia (Muhammad S.A.W) tidak memberitahu umatnya.
Ini berarti ia menuduh Muhammad S.A.W mengkhianati risalahnya karena dia tidak menyampaikan semua.
Ini juga sangat menghina.
Singkatnya merayakan ulang tahun Muhammad S.A.W adalah bidah, sesuatu yang diada-adakan,.
“Jika seseorang mengatakan ini berarti tidak cinta Nabi Muhammad S.A.W….atau ini hanya menunjukkan rasa cinta kita kepada Muhammad S.A.W”
Ini hanya bentuk cari-cari alasan karena orang-orang yang merayakan hari kelahiran Muhammad S.A.W, dan mereka mengklaim bahwa ada hadits, siapa pun yang merayakan kelahiran hari ulang tahun saya maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya.
Jika Anda cinta Muhammad S.A.W…ikutilah beliau setiap detail yang dilakukannya…

Dibawah ini, beberapa pesan atau point penting pada video kedua diatas.

Dirayakan maulid nabi muhammad s.a.w dengan memakan daging?
Jawaban: Tidak boleh….

Dirayakan maulid nabi muhammad s.a.w dengan meminumkan manis-manisan kepada anaknya ?
Jawaban: Tidak boleh….

Dirayakan maulid nabi muhammad s.a.w, pada hari itu kami cuma berkumpul di masjid dan saling mengingatkan tentang kisah perjalanan hidup nabi muhammad s.aw?
Jawaban: Tidak boleh….

Kenapa tidak boleh?
Jawabannya, kenapa anda mengkhususkannya pada hari itu?
Tetapi beliau melarang kita melakukan suatu ibadah yang semata-mata hasil dari bid’ah….

Lalu siapa yang memulai ajaran maulid nabi ini?
Yang pertama kali memulia perayaan maulid nabi adalah “Daulah Fathimiyah” yang berideologi syiah.
Saat itu mereka menguasai mesir, dan disitulah perayaan maulid nabi muncul…
Mereka (bahkan) membuat-buat beberapa perayaan maulid, yaitu maulid nabi, maulid ali, maulid hasan bin ali, maulid husein bin ali, maulid fathimah…

Jika kita hendak merayakan maulid nabi Muhammad S.A.W…maka nabi dahulu merayakannya setiap pekan (yaitu setiap senin) bukan satu tahun sekali…dan beliau merayakannya hanya dengan berpuasa…tidak dengan aktivitas lainnya…

Jadi perayaan ini jelas bid’ah, maka Amalan ini tidak akan mendekatkan dirimu kepada allah….

Tambahan mengenai ini dari Dr Zakir Naik:
Mawlid al-Nabi (the Prophet’s birthday)????

FACT: The Prophet (peace be upon him) NEVER celebrated his Birthday.

FACT: The Companions[Saha ­ba] (may Allaah be pleased with them) NEVER celebrated it.

FACT: Imaams – Abu Haneefah, Maalik, al-Shaafi’i, Ahmad, al-Hasan al-Basri, Ibn Seereen NEVER did this or command others to do it.

There is nothing in the Qur’aan to say that we should celebrate the Mawlid or birthday of the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him).

The Prophet himself (peace and blessings ofAllaah be upon him) did not do this or command anyone to do it, either during his lifetime or after his death.

Our Beloved Prophet (blessings and peace of Allah be upon him) said: “Whoever introduces anything into this matter of ours that is not part of it will have it rejected.”

Narrated ‘Umar رضي الله ﺗﻌﺎﻟﯽٰعنه: I heard the Prophet صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ saying, “Do not exaggerate in praising me as the Christians praised the son of Mary, for I am only a Slave

Fact - Maulid Nabi - Zakir Naik
Fact – Maulid Nabi – Zakir Naik

——–
Dibawah ini tulisan dari facebooknya alm Ahmad Deedat (guru zakir naik).

REASONS WHY WE CAN NOT CELEBRATE BIRTHDAY OF THE PROPHET MUHAMMED SAL’ALLAHO ALAIHI WASALLAM.
[[MUST READ]]

Maulid Nabi meniru agama Pagan
Maulid Nabi meniru agama Pagan

1] Who has given these Innovators the right to innovate a new third Eid for the Ummah. When niether Prophet (PBUH) legislated it, nor any of his companions legislated it.

2] How can Muslim ummah take 12 rabi awwal as the day of Eid, Jashn (partying, fun and frolicking), and celebration when our beloved Prophet (PBUH) passed away from this world and his companions and families were most sad and aggrieved on this day.

3] Historians weren’t on agreement regarding the month in which our beloved Prophet (PBUH) was born. Some said it was Ramadan, some said it was sha’baan, but the most of scholars said it was Rabi’ Al Awwal. They further, differed about his day of birth.

4] Birthday celebrations have pagan origin and many pagan superstitions and rituals are connected to it. Know that it was discarded even by early Christians but then shaitaan gradually misled them and they started to celebrate birthdays.

5] The concept of having annual birthday parties and celebrations was unknown to early Muslims. Until almost 500 years after the demise of Prophet (PBUH) when misguided shia Fatimid state in Egypt borrowed this concept from misguided Christians. They had invented six annual birthdays celebrations; for; The prophet (PBUH), Ali, Fatima, Al Hassan and Al Hussein, (May Allah be pleased with them all) and a birthday for their present monarch as well. These annual celebrations lasted until were invalidated by Al Afadal Ben Amier Al Jiyosh , before they were restored again at the reign of Al- Hakim Bin Amr in around 6th century Hijri. It was still an unknown concept for majority of Muslims but it all changed during the period of British colonization and it was made an universal concept through them.

6] The celebration of Mawlid [(Birthday of Prophet (PBUH)] is neither from the Sunnah of Allah’s Messenger nor his Companions:

Anything that is not from these, cannot be a part of religion.
Allah’s Messenger (SAS) said:
“Stick to my Sunnah and the Sunnah of my rightly guided Caliphs, cling to it firmly with your molar teeth. Beware of newly invented matters, for every new matter is an innovation and every innovation is misleading.”
[[Musnad Ahmad (4/126) and at-Tirmidhee (2676)]

Whosoever performs an act with the intention of achieving closeness to Allah while such an act was neither performed or commanded by Allah’s Messenger nor by his Caliphs after him – then performing such an act constitutes accusing the Messenger of not (correctly/completely) explaining the Deen to the people.

Performing this act also amounts to belying the statement of Allah, “This day, I have perfected your religion for you.”
[Soorah al-Maidah (5): 3]

Such is because (by performing an innovated act) one comes up with something supplementary claiming that it is from the religion while Allah’s Messenger did not order us with it.

7] Celebrating Mawlid (birthday) of Allah’s Messenger is an imitation of the Christians in their celebrating the birthday of Prophet Eesa , whereas imitating them- especially in matters of their religion – is strictly prohibited, and differing from them is prescribed in the Ahadeeth of Allah’s Messenger (PBUH).

The Prophet (PBUH) said,
“Whoever imitates/resembles a people is one of them.”
[Musnad Ahmad (2/05) and Abu Dawood (4/314)]

“Be different from the Mushrikeen (those who associate partners with Allah).”
[Saheeh Muslim]

8] Apart from being a Bidah (innovation) and Tashbeeh (imitation) of the Christians – and both of them are prohibited; those who participate in this celebration call upon the Prophet , seek his help and chant poems of Shirk in his praise, like Qasidah al-Burdah, and its like. Allah’s Messenger (PBUH) has prohibited all such forms of exaggeration.

The Prophet (PBUH) said,
“Do not exaggerate in me, as the Christians exaggerated about the son of Maryam. I am only a slave, so say ‘the slave of Allah and the Messenger of Allah.'”
[Saheeh al-Bukharee (4/142 -3445)]

This Hadeeth means, do not exaggerate in praising and honoring me like the Christians, who exaggerated in honoring and praising Eesa A,S- such that they ended up worshiping him. Allah forbade the Christians from worshiping Eesa saying,

“O people of the Scripture (Jews and Christians)! Do not exceed the limits in your religion, nor say of Allah anything but the truth. The Messiah Eesa, son of Maryam, was (no more than) a Messenger of Allah and His Word, (‘Be!’ – and he was) which He bestowed on Maryam and a spirit (Ruh) created by Him.”
[Soorah an-Nisa (4): 171]

Allah’s Messenger prohibited us from exaggeration fearing that we might be effected by that same Shirk which the Christians were effected with.
He said,
“Beware of exaggeration for those before were destroyed due to exaggeration.”
[Saheeh Sunan an-Nisaee (2863)].

Unfortunately, those sets of people who celebrate Birthday of Prophet (PBUH) have done the same exaggeration as Christians did with Jesus (PBUH) by invoking upon Prophet Muhammad (PBUH) for help, instead of ALLAH. Just as Christian says ‘O Jesus, help me’ these sets of people say ‘O Muhammad, help me’, grant me this, grant me that.

9] Celebrating the Bidah of Mawlid opens the door to other innovations and diverts people towards it. We thus find those who participate in such innovations active in reviving the Bidah and lazy in performing the Sunnah, and enraged at the people of Sunnah until all their religion revolves around innovated memories and birthdays.

They split up in groups – each group preserving the reminiscences of their scholar’s birthdays, like the Mawlid of Badawi, Ibn Arabi, ad-Dasooki and Shazali – in this way, they do not free themselves from one Mawlid and get busy with another celebration/ carnival of birthdays of religious figureheads. They can only think of celebration and get addicted to it to the extent that for them nothing is more meaningful than celebrations. They overlook all their teachings and even overlook all the trials and afflictions that the Muslim Ummah is going through and just enjoy busying themselves with celebrations by anyhow giving it a religious flavor.

Such birthday celebration of religious personalities results in exaggeration (in the honor and praise) of the deceased and gradually cause them to invoke their religious personalities besides Allah by manufacturing the polytheistic belief that they too can benefit and harm from ghaib (unseen world) – until these people depart from the pale of Islam and return to the Deen of the people of Jahiliyah (ignorance) concerning whom Allah said,
“They worship besides Allah things, that hurt them not, nor profit them, and they say, ‘These are our intercessors with Allah.'”
[Soorah Yunus (10): 18]

“Those who take Awliya (protectors and helpers) besides Him (say), ‘We worship them only that they may bring us near to Allah.'”
[Soorah az-Zumar (39): 3]

 

Demikianlah hal ini seperti yang saya tulis diatas hanya untuk saling menasehati dan ini yang menurut saya yang benar, jika ada yang berpendapat lain tentunya silahkan saja, karena ini hanya menyampaikan saja, bukan memaksakan.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada yang tersinggung karena tulisan ini kurang berkenan.

Wassallaam