*TIG Tungsten Inert Gas.
*HF mode, mode mengelas TIG tanpa menggunakan sentuhan ke base metal agar terjadi loncatan api, tapi HF menggunakan frequency tinggi, kita tidak perlu menyentuhkan jarum tungsten ke base metal maka api akan segera menuju base metal.

Setting pre flow pada pengelasan TIG adalah:
dimana gas argon akan dihembuskan sebelum terjadi loncatan api (arc) pada pengelasan TIG.
Misalnya setting pre flow 1 detik, artinya setelah tombol trigger dipencet, maka gas akan keluar duluan 1 detik setelah itu baru terjadi loncatan api las (HF mode).

Setting post flow pada pengelasan TIG adalah:
dimana gas argon akan tetap dihembuskan setelah api las dimatikan.
Misalnya post flow 2 detik, artinya setelah kita menstop pengelasan, gas argon akan tetap dihembuskan selama 2 detik, dan memang tangan kita harusnya tetap menjaganya selama 2 detik pada area panas tersebut, manfaatnya karena setelah pengelasan, pada base metal masih mempunyai temperatur yang sangat tinggi dan tetap berpotensi membuat oksidasi pada metal, itu sebabnya masih diperlukan argon walaupun setelah kita stop pengelasan.

Mengelas TIG menggunakan gas argon itu sebetulnya lebih mudah dan bagus daripada mengelas dengan methode Stick/mma yang biasa kita gunakan dimana kawat las yang diselubungi flux, tanpa gas, seperti contoh kawat las nikko dibawah ini.

kawat las stick mma nikko
kawat las stick mma nikko

Karena jika mengelas stick, kita tidak tahu hasil sesungguhnya, karena hasil pengelasan akan tidak terlihat, kecuali kerak-kerak sisa flux yang terbakar dibersihkan…

Walaupun pada pengelasan sederhana, apalagi jika kita cukup sering mengelas, hasilnya umumnya bagus dan cukup dapat kita tebak akan bagus….

Tetapi jika kejadiannya hasil las ternyata jelek karena bermacam gangguan misalnya kurang nyaman pada posisi tertentu, dll dll… akan lebih sulit untuk membetulkannya dari pada mengelas dengan metode tig.

Pada metode tig, apa yang kita lihat itu yang kita dapatkan…
atau dengan kata lain kita melihat hasilnya secara langsung, jika ada kekurangan seperti kurang penetrasi filler ke media, pada bagian tertentu kurang tebal, kita dengan mudah menyempurnakan hasil yang kurang tadi…

Sewaktu saya masih remaja, banyak semacam momok yang menyeramkan jika sewaktu saya ingin mengelas sesuatu kepada tukang las di pasar, sering terjadi percakapan-percapan yang menyebutkan mengelas argon TIG itu susah dll dll….

Padahal, jika kita biasa menyolder peralatan elektronik dengan timah…lalu kita mencoba mengelas dengan argon, maka sebetulnya akan ada kemiripan ritmenya…itu sebabnya saya katakan mengelas methode tig itu ternyata lebih mudah…

Soal halusnya hasil pengelasan, itu hanyalah soal “sering” atau tidaknya kita mengelas dengan tig (jam terbang)…
1 jam saja setiap hari, 1 minggu hasil tampilan las anda saya yakin akan sangat bagus sekali…

*Ritme, hitungan dalam hati kapan memberikan timah atau aluminium filler, ke media logam, pcb, parts electronik jika pada penyolderan yang cukup rumit dll…

Lalu, berapa banya jumlah argon yang disalurkan? berapa liter per menit?

Sebetulnya ini ada teorinya, dan saya lupa catatannya…kalo tidak salah jumlah liter permenit itu juga bergantung arus listrik yang dipakai…

Tetapi pahami saja konsepnya yang sederhana, bahwa kenapa butuh gas argon?

Pada pengelesan tig, filler seperti aluminium batangan, tidak seperti kawat las biasa (nikko gamabr diatas) dimana kawatnya dilapisi semacam flux.

Tidak pada filler untuk pengelasan TIG, fillernya tidak ada flux, hanya logam saja…
Nah filler dan media metal yang akan di las ini akan rusak atau ter Oksidasi karena terkena udara sekitar sewaktu proses peleburan si logam…

Argon dibutuhkan agar menutupi, memayungi, mengamankan area panas, sewaktu terjadi peleburan antara filler dan media metal agar tidak rusak, berkerak, terkena udara, sehingga jika argonnya cukup tentulah hasil pengelasan akan bersih, tidak rusak, hitam dll.

Jadi coba perlahan, mulai dengan setelan misalnya dari 2 liter per menit, lalu tes satu bagian dilas tanpa diberi filler, apakah ada tanda hitam?
Jika tidak cukup, tentunya akan ada asap hitam di area yang terkena api las….
Dan terus tambah jumlah liter per menitnya…

Beberapa sampel bukaan gas argon liter per menit
Beberapa sampel bukaan gas argon liter per menit
Beberapa sampel bukaan gas argon liter per menit
Beberapa sampel bukaan gas argon liter per menit

Berikut pada video dibawah ini, mengenai post flow, pre flow, dan setting bukaan liter permenit pada pengelasan aluminium.

Demikianlah…video ini hanya untuk berbagi pengalaman saja…

Saya bukan tukang las professional apalagi seorang welder yang mempunyai sertifikasi…

Saya hanya mengelas untuk keperluan hobi saja dan sedikit pengelasan pada pekerjaan saya…

Iklan