Suatu hari sewaktu kami mau tutup toko (sudah tertutup setengah), ada seseorang calon customer yang meminta izin untuk masuk sekitar 5 menit saja, untuk melihat-lihat.

Setelah  masuk, kami kurang tahu apa yang dicarinya…dan jika ada penjelasan dari kami tentang apapun semua dijawab dengan sederhana, yaitu “saya sudah tahu…”

Setelah beberapa menit, sedikit demi sedikit dia mulai berbicara mengenai asalnya semenjak dia menunjuk batu red borneo, lalu membicarakan keturunannya ada darah palembang dan kalimantan.

Sejujurnya kami tidak mahu tahu, dan tidak ingin tahu, jika sudah bicara batu lalu disisipi nama daerah, yang gunanya untuk memperkuat nilai si batu, kami tidak tertarik dan kami hanya tertarik fakta, terlebih fakta internasional mengenai keindahan.

Ada juga pada waktu melihat batu turqoise atau pirus di salah satu etalase teman kami, dia langsung membandingkan yang dimilikinya entah dari mana kami tidak begitu mendengarnya…yang ini dari arab yaaa, yang saya dari negara anu…
Fantastis, batu pirus buram dengan begitu mudahnya dia bisa mengetahui originnya…
Laboratorium saja untuk batu yang jernih banyak yang tidak bisa merumuskan origin, apalagi buram…hehehe

Lalu berbicara opal, dia punya opal, juga ada memonya, dan baginya opal itu termasuk jenis akik…

Hmm….mulai aneh saya pikir, apa maksudnya “sama” itu sama komponennya (jenis / keluarga) atau “sama” maksudnya sama secara harganya mirip-mirip dengan akik?

Lalu saya berikan saja pembanding,

Kenapa Opal ada Sintetik nya?

Kenapa Akik tidak ada sintetiknya? Setidaknya kami belum pernah menemukannya ada yang menjualnya di berbagai negara…

Artinya, ada opal yang sangat berkualitas baik, berkualitas baik itu artinya langka dan mahal dan banyak peminatnya, karena langka dan mahal, maka pabrik tertarik untuk membuatnya.

Lalu dia mempunyai semacam statement, bahwa sintetis itu sama saja dengan palsu karena buatan manusia.

Iyaa saya pikir hak masing-masing jika beranggapan seperti itu, namun tidak bisa di tetapkan kepada orang lain.

Karena pada batu perhiasan ada “Asli buatan Alam” dan ada “Asli buatan pabrik atau Sintetis”, dan ada Palsu.

Contoh Ruby safir sintetis, saya yakin di tahun 2015 ini, belum ada di tempat kita (indonesia) pabrik yang mampu membuatnya, tetapi saya jalan-jalan saja ke daerah pertukangan las di sekitar sini, dengan peralatan yang hanya bernilai ratusan ribu sudah sangat bisa orang membuat batu palsu dari glass / kaca lalu diasah, dibuat seolah-olah itu safir biru.

Untuk memberi masukan lagi saya berikan lagi contoh, yaitu Asli alam dan asli pabrik (sintetis) secara kandungannya akan sama tidak bisa dibedakan dengan ALAT MAHAL!
Tetapi jika Sintetis (ruby safir) VS Palsu (kaca) Ruby Safir, cukup dengan alat ratusan ribu kita sudah bisa membedakannya.

Jadi dengan perbedaan yang cukup dahsyat ini di tetap kekeuh bahwa sama saja baginya, kami memang melihat batu batu yang dipakainya sepertinya alami semua (kami tidak bicara kualitas)…

YAa boleh boleh saja jika bagi kita sama, cuma kita tidak bisa memaksakan standard tersebut ke orang lain.

Kita harus bisa membuktikan apakah pabrik itu bermaksud menipu, apakah pembeli sintetis itu kurang rasional?

Apakah bagi kita sama saja, antara pabrik yang harus punya alat mahal, belum lagi  membuatnya lama VS orang sekedar punya mesin las api lalu bisa membuat batu palsu dengan cepat?

Kenapa pada penyebutan lain untuk batu sintetis yaitu LAB GROWN?
Karena butuh waktu yang cukup lama dan sifatnya memang “tumbuh” atau “membesar” atau “grown”.

Jika kita ingin menegaskan sesuatu yang fundamental, terlebih statement “Sintetis VS Palsu itu sama saja”, tentu paling mudah membuktikannya dan tidak bisa dipatahkan dengan mudah bagi orang lain yaitu misalnya kita memiliki dan continyu mampu menjual BATU SINTETIS SAMA HARGANYA dengan BATU PALSU.

Nah jika hal diatas bisa dibuktikan, TOP deeh, hehehe…
Jika hanya bicara? Yaaa kita sama saja bicara dengan dinding…

Dan memang pada akhirnya, pemakai batu (maaf) yang dananya super terbatas untuk membeli perhiasan, akan bercabang dua.

1: Memilih batu alami yang berkualiatas rendah saja, baginya akan lebih baik begitu, yang penting alami…

2: Pemakai batu Sintetik yang sudah pasti menyamai kualitas alami yang super mahal, mereka lebih menyukai sintetik, karena lebih pantas baginya.

Dan itu hak orang masing-masing jika sudah berbentur dengan dana/budgeting…