Ahli sunnah waljamaah = Ahli Sunah ialah orang-orang yang mengikuti sunah dan berpegang teguh dengannya dalam semua perkara yang di atasnya Rasulullah s.a.w berada dan juga para sahabatnya.

Tulisan ini hanya berbagi pandangan, juga tiada maksud lain yaitu saling menasehati sesuai seruan surah al-asr untuk saling menasehati dalam kebenaran. Jika dirasa salah, tentulah lewati saja nasehat ini. Tulisan ini hanya ditujukan untuk kita sesama muslim, bukan untuk agama lain, apalagi agama syiah.

terjemahan al-asr - walasri
terjemahan al-asr – walasri

Bid’ah dalam ibadah, secara sederhana adalah menambah-nambah suatu cara yang baru dalam beribadah yang tidak dicontohkan oleh nabi Muhammad S.A.W.
Jadi ingatlah ini mengenai Ibadah.

Kata pengabur pamungkas TOLERANSI.

Satu hal yang paling sering kita lihat mungkin sebagai senjata di internet dan media lain mengenai permasalahan sesama agama islam khsususnya masalah ibadah adalah dengan kata pengabur pamungkas yaitu kata TOLERANSI.
Kalimat ini sepertinya SANGAT MENGENA, tapi justru lagi-lagi melemahkan islam.

Islam dengan agama lain tentulah harus toleransi, bahkan itu harus…jangankan secara negara, bahkan secara islam toleransi itu harus, tidak bisa dipaksakan dalam perbedaan ber-agama.

Namun sesama muslim itu adalah bersaudara, jika bersaudara tentulah MENASEHATI lebih diutamakan.
Jikapun nanti nasehat telah diberikan. dan setelah ditelaah tidak masuk di akal bagi penerimanya silahkan di buang, jika masuk diakal tentulah akan kita amalkan…
Artinya sesama muslim kita sudah menjalankan setidaknya ayat diatas (al-asr), jika sudah dinasehati ternyata tidak mengena dihatinya barulah kita mentoleransinya, karena sudah lepas kewajiban kita sebagai muslim karena telah saling menasehati.

Atas dasar surah al-asr maka gunakanlah akal kita secara jernih…terjadi salah yaa biasa saja namanya juga manusia…sayapun pasti banyak kesalahan…

Celakanya lagi banyak dari kita menjadi enggan untuk menasehati, karena sering dianggap sok pintar…
Menasehati bukan sok pintar…seorang montir tua yang piawai namun tidak mengindahkan nasihat anak muda yang pengalaman montirnya tidak banyak, si montir muda memberi nasehat mengenai keamanan memakai sarung tangan karet karena bekerja dengan tegangan 220/380V, karena sudah terbiasa tidak memakai sarung tangan dan selamat sehat wal-afiat saja, dia tidak akan pernah menggunakan alat pengaman tersebut, namun sangat memungkinkan tubuh montir tua itu suatu saat terbakar tersengat listrik bahkan mati, karena menngabaikan nasehat anak muda tersebut…

Jadi apa jadinya jika di dunia ini semua saling mendiamkan tidak ada nasehat, tapi jika kita tahu ada yang salah tapi masih meletakkan ego diatas segalanya, celakalah kita sendiri seperti montir tua tersebut….

Bahkan orang lain dari agama lain, sampailah ia pada jenjang pendidikan tinggi dalam hal teologi (ilmu agama), dalam masa pembelajarannya ternyata agamanya (bahkan) salah bukan sekedar cara ibadahnya salah, karena ia berakal, karena dia mencari kebenaran, dia tidak malu-malu untuk meninggalkannya, karena tujuan hidup ini adalah mencari kebenaran, selamat hingga di tujuan terakhir.
Apalagi kita yang beragama islam, islam kita sudah sepakat agama paling benar, ternyata kita salah dalam ibadahnya, mungkinkah kita jadi malu untuk mengubahnya…?

Islam akan kembali ke kejayaannya jika kita menjalankan ajaran Nabi muhammad secara benar tidak dikurangi dan tidak ditambahi, insyallah. Sedangkan banyak hadist yang menyebutkan mengenai 1 golongan dari 73 golongan dalam islam yang benar. Tetapi yang ditekankan disini adalah bukan bahasan golongannya, bisa saja golongan A islamnya salah 50%, golongan B islamnya benar mencapai 99%, sebab jangan lupa juga kata golongan A, B dst karena kita menyebutnya sebagai golongan. Jadi penekanan disini bukanlah masalah golongan, tapi hendaklah kita pintar-pintar memilih, bukalah sudut pandang selebar mungkin sebelum menarik suatu garis.

Kenapa bisa kembali jaya jika hanya masalah agama?

Karena yang diajakan nabi muhammad s.a.w dalam hal ibadah sudah cukup, bahkan sederhana, kita kebanyakan menambah, tambah keturunan maka semakin lama semakin bertambah jumlah bid’ah, larut semakin larut bahkan pada akhirnya tidak berguna sama sekali.

Dalam hal ibadah cukuplah yang nabi ajarkan, janganlah kita tambah, jika dalam hal ilmu dunia bolehlah kita mencipta yang baru, mencabangkan hal yang baru.

Kenapa kita tetap dijajah, bahkan saat ini kita dijajah dengan cara yang lebih dahsyat melebihi peperangan, sedangkan penjajah-penjajah diluar negeri berbagi kue tanpa perlu meletakkan pasukan ke negara jajahan, mereka berbagi kue lapis indonesia untuk negara ini, nasi rendang indonesia jatah negara anu, kue ketan indonesia jatah negara itu dll. Mereka membunuh secara perlahan, bahkan cara membunuhnya pun dengan remote, yaitu sesama muslim akan membunuh muslim, sesama muslim memfitnah muslim, sesama muslim merusak akidah muslim, hingga pada akhirnya (tujuannya) tiada lagi kemurnian agama islam, sejak itu mesin otomatis penjajah akan optimum daya kerjanya.

Kenapa mereka sukses justru di zaman modern ini?
Karena mereka sudah terbiasa menjajah sejak ratusan tahun lalu, kelemahan suatu kaum jelas sudah ada daftarnya pada mereka dan jelas mereka juga sudah mempunyai daftar trik jitu untuk melemahkan suatu kaum dengan cara halus, karena bangsa penjajah ini mempunyai tujuan jangka panjang, tentulah caranya harus sedemikian halus…

Kata TIDAK bagi mereka ini bukanlah kata TIDAK yang sebenarnya bagi kita yang muslim, tapi tidak bagi mereka adalah tidak secara kasar, tapi IYA tapi secara halus….

Ibarat suatu bahan yang tidak padat seperti kayu adalah dunia tempo dulu dan bahan yang jauh lebih padat seperti besi ini dunia modern, maka untuk melobangi kayu tentulah paling cocok denganalur baut yang kasar, sedangkan melobangi sekaligus mengikat besi paling tepat menggunakan baut halus…sedangkan di zaman modern ini manusia sudah sedemikian banyak, pencapaian teknologi semakin tinggi, maka sudah tidak layak lagi menggunakan cara kasar, akan terjadi penolakan yang kuat jika menggunakan cara kasar, tentulah dengan cara halus, karena sudah hukumnya harus seperti itu…

Mereka saat ini tahu, kita tidak akan pernah punya kemampuan bangkit secara totalitas jikapun ada itupun sangat minim dan akan menyurut kembali karena kita sendiri yang saling melemahkan, karena mereka mempunyai trik yang kompleks yang berjalan sendiri (otomatis) jika sudah terpicu maka yang dijajah akan saling melemahkan. Inilah dahsyatnya trik halus…

Apa yang menyebabkan kemampuan kita sangat minim?
Salah satunya karena kita terlalu membuat rumit suatu ibadah, mudah menambahkan ibadah, sehingga kita lalai dalam ilmu dunia. Nabi mengajarkan yang sederhana, kita senang menambah-nambahkan. Dalam hal yang salah, dimana seorang muslim yang sering menasehati sesama muslim, tapi yang kita nasehati itu sebuah kesalahan, sebuah bid’ah, maka sambung menyambung dan beranak-pinaklah kesalahan itu, semakin beranak-pinak semakin lemahlah kita karena terjadi begitu banyak pertentangan tadi, begitu banyak kesibukan yang tidak perlu, bahkan sudah terbalik, dimana ibadah regular seperti sedeqah harian jika ada, menyantuni anak yatim, sedekah ke masjid, sholat lima waktu, sholat sunnah, dan banyak lagi ibadah sunnah yang nabi ajarkan justru tidak kita lakukan padahal ibadah tersebut dapat dilakukan sambil lalu bahkan setiap saat, namun pada hal bid’ah yang kita tidak mengerti yang sesungguhnya membawa ke akar kerusakan sistematis kita lakukan, dan celakanya kita menganggapnya sebagai ibadah…

Saya yakin bagi sales sejati dan sudah pakar dalam menjual rokok, rokok merk terkenal itu hanyalah pendapatan regular sehari-sehari, namun baginya menjual rokok merk yang baru tentulah itu sebuah tantangan dan juga obsesi baginya dan sekaligus sebuah bonus yang besar, karena berat untuk memulai penjualannya, harus memakai trik jitu tertentu agar laku, terlebih jika orang mulai menyukai rokok tersebut, maka berjalanlah mesin uang otomatisnya.

Begitu juga bagi setan iblis, mengajak orang bermaksiat itu sudah menjadi pahala regular atau biasa-biasa saja dalam kesehariannya, karena muslim yang bermaksiat umumnya waktu melakukan maksiat itu sadar dia melakukan maksiat, bisa saja kita tersadar dan menjauh dari maksiat…
Tapi suatu tantangan dan bonus besar bagi iblis jika mampu membuat muslim melenceng dari ibadahnya sehingga ibadahnya menjadi bid’ah, karena jika muslim melenceng dari ibadah menjadi bid’ah, tentulah si muslim akan berdosa dan semakin giat dia melakukan ibadah bid’ahnya maka bonusnya semakin besar, dan sistem pengrusakan akan berjalan dengan otomatis karena sifat kerusakan dari bid’ah itu akan semakin melebar dan terus melebar….
Bisa kita bayangkan jika kita menarik garis lurus tapi ternyata miring 1 atau 2 derajat saja, maka garis panjang yang kita tarik lurus itu akan terus menjauhi dari titik awalnya….
Inilah bonus istimewa si iblis menjalankan mesin bidah….

Sebelum ngerampok sedekahan undang kiyai? 
Aneh bukan….? Iya aneh bagi kamu yang belum nyampe….
Belum nyampe? Iya belum nyampe akal sehat kamu kata perampoknya…

Tentulah bagi kita jelas tidak benar, namun inilah tipikal salah satu tipe kerusakan parah, cabang dari cabang, akar dari akar bid’ah itu, hari ini tidak mungkin, besok bagi anak cucu kita menjadi mungkin….karena islam yang murni sudah semakin kabur, yang tertinggal islam innovasi tiada henti…

Baca mengenai gerombolan bandit indonesia bersedakah dulu sebelum beraksi di luar negeri.

Kita terlalu Sensitive dengan kata sesat.

Sadar atau tidak sadar, kenyataanya kita sangat sensitif dengan kata SESAT, begitu terdengar kata sesat kita segera balik menyerang,.
Kita sangat sensitive dengan kata salah, begitu mendengar kata salah kita balik menyalahkan…
Padahal menyerang dan menyalahkan itu nomor dua, yang nomer satu tentulah kita harus mengkaji ulang suatu pernyataan itu…

Coba kita sedang membuat peralatan mekanisme atau elektronik, begitu teman kita menasehati Overload, awas bagian itu overload, kita dengan mudah mencoba memeriksa ulang bagian yang dimaksud bukan menyalahkan.

Sedangkan untuk ibadah dimana itu ilmu dunia dan akhirat pastinya, kita begitu meledak begitu mendengar kata salah, awas yang seperti itu sesat, dll.

Atau kita ditegur orang dalam perjalanan “jika lewat sana bisa sesat lho”, kita tidak juga marah, malah berterima kasih, tapi dalam permasalahan agama dimana kita tahu agama itu untuk keselamatan dunia akhirat, kita langsung marah, balik menyesatkan, bahkan NGEYEL padahal maksudnya untuk mengingatkan, kenapa kita tidak memastikan dulu bahwa kita memang tidak tersesat? Jika sudah begitu, kita harus bertanya lagi pada diri kita, apakah sudah sedemikian tertutup hati kita untuk mencoba menelusuri itu suatu kebenaran atau kesalahan?

Lalu bagaiman cara kita membandingkan yang benar dan salah?

  • Pertama buang dulu ego, pastikan kita ingin mencari kebenaran, bukan mencari celah untuk mematahkan, karena ini nomer sekian juga akan datang dengan sendirinya.
  • Kedua, tanyakan kepada ahli agama, tanyakan kepada ahli agama yang sejalan dan yang berseberangan dengan kita. Kembangkan pertanyaan, jangan asal menerima.
  • Ketiga, barulah kita menimbang-nimbang mana yang paling masuk akal menurut kita.
    Tentulah sebagai comparator atau pembanding dari penilaian kita nanti yang paling valid adalah al-quran dan hadist nabi muhammad s.a.w
    Pada tahap ini waspadai juga dengan hadist-hadist palsu…
    Karena banyaknya fitnah disana sini dalam aliran islam, fitnah sudah menjadi bak hutan belantara, sehingga sulitlah kita menentukan jalan yang benar.

Dalam menimbang nanti, gunakan akal kita sebaik mungkin dalam berpikir, misalnya kita sedang ingin mengerti apakah WAHABI, jika kita telaah, banyak sekali berita negative juga postifi pada cerita wahabi….itu sebabnya kita harus menilainya dengan seksama atau hati-hati, ibarat bermain catur, kita biasanya akan berpikir beberapa langkah, walaupun baru jalan satu langkah, contoh cerita rancu mengenai Wahabi pada satu website yang saya temui, misalnya ada kata-kata:

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab…

Apa keanehan dari kata diatas?

Yaitu disebutkan nama Pendirinya Muhammad, tetapi yang dipakai kok nama bapaknya yaitu Abdul Wahab…
Jika seorang berniat mendirikan sebuah badan dengan namanya, tentulah namanya sendiri yang akan digunakan, lalu kenapa nama bapaknya yang disebutkan, aneh bukan?
Baca sekilas asal nama wahabi.

Contoh lagi, jangan mudah termakan tipe analogi seolah itu suguhan air minum yang bersih tapi sebetulnya air got…

Dalil Maulid Nabi martabak

Maksudnya, sekilas tampak benar, tapi sangat cacat kata-katanya…

Jangankan menggabungkan yang sunnah dengan sunnah, bahkan yang sunnah dengan wajib saja langsung patah analogi diatas, Misalnya sambil sholat sekaligus sambil khotbah, apakah boleh…
Analogi- analogi seperti diatas sering sekali dipakai karena kurang andilnya akal, tapi yang banyak ikut andil hanyalah egoism kita…

Contoh lagi, jurus sapu jagat, misalnya ada yang menasehati kita, membaca al-quran di kuburan ga boleh lho…itu bid’ah…
Lalu dia jawab, sedikit sedikit bid’ah, giliran lo pergi haji naek pesawat harusnya juga bid’ah, pake komputer buatan yahudi ga bid’ah…
Jurus pamungkas seperti ini, kurang lebih sudah dapat dipastikan dengan siapa kita berhadapan, akalnya sangat lemah, tapi ego dalam darahnya sudah mengakar kuat…
Dia sudah tidak bisa membedakan mana ibadah mana sarana…

Ingatlah sesuatu yang benar itu bisa di runut sampai ke akar-akarnya, sedangkan yang tidak benar akan banyak kita temui putus ditengah atau sengaja disembunyikan…juga sekali sebagai pengingat bersama paling akhir gunakan pembandingnya AL-Quran dan Sunnah Nabi yang berasal dari hadist yang shahih…ini bukan kata saya, tapi kata allah dalam al-quran,
Allah Ta’ala berfirman: “Jikalau engkau semua berselisih dalam sesuatu hal, maka kembalikanlah itu kepada Allah dan RasulNya.” Yakni al-Kitab dan as-Sunnah.
(an-Nisa’: 59)

Bahkan ada bid’ah yang bagus atau baik…?

Nah ini yang masih belum nangkep juga dengan esensinya kenapa bid’ah itu tidak boleh…

Hari ini ziarah kubur sambil ngaji…besok ziarah sambil ngaji plus joged, besok besok ziarah sambil ngaji plus joged plus alat musik, besok lagi ziarah sambil ngaji plus joget plus alat musik lengkap plus atraksi atraksi dll dst…

Bid’ah sungguh mesin favorit penjajah sebagai pelemah bangsa yang gerakannya otomatis.

Cukup di trigger maka semua akan berjalan secara otomatis selain sistem kendali manual juga ada.
Lalai dalam dunia inilah yang paling disukai penjajah, karena mereka akan mendapat keuntungan berlipat ganda, yaitu

1 Ketinggalan dalam ilmu dunia,

2 Sesama umat islam akan tidak pernah akur.

Lalu apakah baiknya kita saling diam agar semua tentram dan damai jika kita tahu sesama muslim mengerjakan yang salah?

Justru kita tambah melalaikan agama jika kita tahu salah tapi kita diamkan.
Kita sesama muslim tidak mungkin saling mendiamkan, rasa-rasanya tidak mungkin akan terjadi saling mendiamkan, terlebih lagi kita umat islam sudah pasti yakin, kita ini dari mana, sekarang sedang dimana, dan kita nanti hendak kemana….

Bahkan Hal yang pasti Sunnah tertutupi oleh kebutaan karena Bidah.

Contoh, ada yang hobi bid’ah…mereka jika tidak bisa berkata apa-apa karena ada penjelasan bid’ah lalu mereka membabi buta, bahkan sangat parah, hal yang sudah pasti Nabi dan sahabat lakukan justru mereka tentang…seperti orang memanjangkan jenggot…
Memanjangkan jenggot jelas sunnah…
Saya sendiri tidak memanjangkan jenggot…jenggot panjang saya cukur…karena saya tidak terbiasa, namun saya tahu itu sunnah…
Nah mereka yang mentok dijelasin suatu bid’ah tersinggung lalu “mengambil oleh” untuk suatu yang tidak ada hubungannya sama sekali bahkan yang sudah pasti sunnah yang pasti dilakukan nabi dan sahabat mereka selisihi…luar biasa…

Seperti gambar dibawah ini:

jenggot bidah jadi fitnah
jenggot bidah jadi fitnah

Bahkan untuk masalah aurat yang sudah pasti pada laki-laki itu batas pusar sampai bawah lutut…mereka selisih juga…Luar biasa…bahkan super….
Muslim atau bukan jadinya kalo sudah begini?

olah raga muslim
olah raga muslim

Ah ga juga harus seragam dalam ibadah, orang kita banyak yang pinter-pinter dalam ilmu dunia.
Memang banyak, tapi jauh lebih banyak lagi orang pinter dari negeri penjajah saat ini.

Kita tidak seberapa persennya dibanding negara-negara penjajah, terlebih lagi dengan yahudi, apalagi pada al-quran sudah jelas, bahwa mereka memang lebih pintar.  Celakanya selain pintar mereka juga jahil…

Penduduk singapore yang sangat sedikit, bahkan sering dikatakan negara super kecil, memegang Hak Paten sebanyak 8996 jumlah patent, India yang sering dikatakan negara yang setara dengan kita paling tidak, memegang hak paten sebanyak 14450. Malaysia dimana kita sering menganggapnya terkebelakang daripada indonesia, memegang hak paten sebanyak 2423 hak paten, bahkan philipina memegang hak paten sebanyak 574 hak paten, tapi kita negara yang besar (ukurannya….) dan banyak penduduknya hanya memegang hak paten sebanyak 312, hehehe fakta!

Jika ada orang pintar apalagi pintar plus kaya ingin menaklukkan preman kampung, mereka tidak akan mengajaknya berkelahi….tidak jamannya lagi…mereka akan menawarkan segudang paket trik jitu agar preman preman tunduk padanya, bahkan bisa mengadu domba para preman tersebut.

Mereka tinggal cari tahu kelemahan preman-preman tersebut, apa kekurangannya? Lapar? Tinggal tawarkan ransum….Ingin mabuk tapi ga ada uang, yaa dibelikan….Haus birahi? Tawarkan perempuan…atau apa saja keperluannya….pelajari kelemahannya, setelah cukup “menaman modal” ke preman-preman tersebut lalu giliran orang pintar dan kaya balik memakan mereka secara perlahan….

Bahkan kita berkali-lipat kalah soal patent dibanding dengan negara tetangga.
Coba kita lihat daftar pemilik paten diseluruh dunia dibawah ini:

Daftar Peringkat Paten se Dunia
Daftar Peringkat Paten se Dunia

Atau link nya disini

Namun allah maha adil, hanya dengan kemurnian agama islam lah, semua tipu muslihat bisa dibungkam…

Yaa…muslim miskin memang disengaja allah, orang islam pasti tertinggal, dll.

Saya tidak habis pikir, justru kata-kata diatas bertolak belakang dengan prinsip-prinsip islam. Bagaimana mungkin orang-orang tua, paham salah seperti statement diatas bisa terjadi?
Apakah sudah terlalu panjang mengalami masa adu domba sehingga kita terlihat menyerah…terlihat memang seharusnya seperti itu…padahal bertolak belakang dari prinsip prinsip islam…
Bagaimana mungkin kaum atau bangsa islam, dapat menjaga negaranya, dapat memakmurkan rakyatnya, dapat saling menolong bahkan menolong bangsa lain, dapat bisa lebih menonjolkan diri, jika tidak mempunyai kemampuan akal yang tinggi dalam bidang ilmu dunia?

Sebagian kita juga anehnya terkena penyakit mudah beranggap kita superior, kita banyak yang pintar-pintar daripada negara penjajah, disitulah letak kelemahan kita, kita semakin terhanyut oleh khayalan, supremasi semu…bahkan sebagian kita masih mengagungkan, bermimpi-mimpi dengan sejarah super kuno yang sampai sekarang tidak ada fakta kongkritnya…

Yang sudah pasti benar itu, alam kita yang kaya tapi kita masih jauh tertinggal bahkan terkunci oleh sistem penjajah….

Jika kita orang yang pintar atau banyak uang saja disuatu dusun atau tanah, sedangkan tanah itu bisa mendatangkan suatu profit bagi kita apakah mungkin kita menggunakan orang lain untuk mengelolanya? Hanya satu kemungkinan jika orang lain mengelolanya, kita tidak pintar atau tidak punya uang, artinya tidak ada kekuatan sama sekali pada kita saat itu.
Inilah fakta sederhana.

Jika tidak percaya, lihat saja daftar PATENT, baik yang berbayar ataupun yang gratis, siapakah yang memilikinya?
Atau jika tidak percaya, lihat saja saja di youtube, mulai dari sekedar olahraga, cangkul, sampai robot, pendaratan ke mars semua ada pada negara penjajah, supremasi mereka yang pegang.

Karena mereka lebih pintar bahkan pintar dalam kelicikan dan juga karena kemakmuran sudah tercapai jadi semua saling melengkapi untuk era penjajahan zaman modern.
Tepatnya standard negara penjajah itu mereka sudah tidak memikirkan urusan perut, mereka sudah pada tahap hari ini mau coba bikin anu dan itu.

Ada satu tulisan yang pernah saya baca di facebook, tulisan ini justru penjebak dahsyat, keblinger…jelas tulisan dibawah ini sampah perusak…atau yang menulisnya kemungkinan bukan orang islam atau bahkan atheis.

anak muda teriak kafir
anak muda teriak kafir

Si penulis ini justru tidak mengerti hidup manusia itu berawal dari aturan agama.
Si penulis tidak sadar, dia dari mana, sedang dimana dan mau kemana?

Apalagi jika ada muslim yang benar-benar muslim ISLAM adalah diatas segalanya…
Karena Agama islam sederhana, yang cukup dengan aturan yang sangat tidak memberatkan, jika aturan islam diterapkan oleh penyelenggara negara, dijamin semua orang akan makmur, bahkan orang diluar islam.
Jika penulis tulisan diatas tidak percaya, jelas dia bukanlah orang islam, atau jika muslim artinya muslim KTP.
Seperti yang saya tulis diatas, semua orang islam itu disarankan untuk saling menasehati, karena muslim seharusnya sangat percaya kehidupan setelah mati.

Apalah artinya hidup di dunia ini 100, 200, 300 tahun? Lalu?

Mimpi bukan hanya ada di dalam tidur, tetapi sesungguhnya hidup di dunia ini bagai mimpi. Dan kita belum bangun, hingga kematian menjemput.
Saat kematian datang, tak ada lagi hijab dan pandangan kita menjadi sangat jelas bahwa dunia ini hanya sesaat saja. “Allah bertanya lagi (kepada mereka yang kafir itu): “Berapa tahun lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: kami tinggal (di dunia) selama sehari atau sebahagian dari sehari; maka bertanyalah kepada golongan (malaikat) yang menjaga urusan menghitung, Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di dunia) melainkan sedikit masa saja, kalau kamu dahulu mengetahui hal ini (tentulah kamu bersiap sedia).” (surah Al-Mukmunun:112-114)

Bahkan pada surah diatas, bahkan kita TIDAK TINGGAL, artinya hanya singgah sebentar…hehehe…

Demikianlah ini hanya berbagi pandangan, juga tiada maksud lain yaitu saling menasehati sesuai seruan surah al-asr untuk saling menasehati dalam kebenaran. Jika dirasa salah, tentulah lewati saja nasehat ini, karena saat ini pun saya tetap saja hanya mencoba belajar dan belajar, sampai ajal datang menjemput…

Wassalaam…

Kumpulan Terjemahan AL-Quran dan Hadist yang sangat mudah untuk di eksplorasi.

Catatan-catatan bid’ah dari hadist web

Bid’ah dan Kesesatan

1. Barangsiapa menimbulkan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita yang bukan dari ajarannya maka tertolak. (HR. Bukhari)

2. Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah Kitabullah, dan sebaik-baik jalan hidup ialah jalan hidup Muhammad, sedangkan seburuk-buruk urusan agama ialah yang diada-adakan. Tiap-tiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan tiap bid’ah adalah sesat, dan tiap kesesatan (menjurus) ke neraka. (HR. Muslim)

3. Dua golongan dari umatku yang tidak punya bagian dalam Islam adalah kaum Jabariyah dan kaum Kadariyah. (HR. Ahmad)

4. Apabila kamu melihat orang-orang yang ragu dalam agamanya dan ahli bid’ah sesudah aku (Rasulullah Saw) tiada maka tunjukkanlah sikap menjauh (bebas) dari mereka. Perbanyaklah lontaran cerca dan kata tentang mereka dan kasusnya. Dustakanlah mereka agar mereka tidak makin merusak (citra) Islam. Waspadai pula orang-orang yang dikhawatirkan meniru-niru bid’ah mereka. Dengan demikian Allah akan mencatat bagimu pahala dan akan meningkatkan derajat kamu di akhirat. (HR. Ath-Thahawi)

5. Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu ikut memasukinya. Para sahabat lantas bertanya, “Siapa ‘mereka’ yang baginda maksudkan itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang-orang Yahudi dan Nasrani.” (HR. Bukhari)

6. Tiga perkara yang aku takuti akan menimpa umatku setelah aku tiada: kesesatan sesudah memperoleh pengetahuan, fitnah-fitnah yang menyesatkan, dan syahwat perut serta seks. (Ar-Ridha)

7. Barangsiapa menipu umatku maka baginya laknat Allah, para malaikat dan seluruh manusia. Ditanyakan, “Ya Rasulullah, apakah pengertian tipuan umatmu itu?” Beliau menjawab, “Mengada-adakan amalan bid’ah, lalu melibatkan orang-orang kepadanya.” (HR. Daruquthin dari Anas).

Ibnu Mas’ud berkata, “Mencukupkan diri dengan berpegang pada sunnah, lebih baik daripada berijtihad dalam bid’ah.”

Keharusan amal ibadah hanya ditujukan untuk Allah SWT, yaitu sebagaimana di deskripsikan oleh hadits, “Sesungguhnya keabsahan segala amal ibadah ditentukan oleh niat.” Dan, keharusan amal ibadah sesuai dengan tuntunan Sunnah adalah seperti dideskripsikan oleh hadits, “Siapa yang menciptakan hal baru dalam ajaran agama kami (Islam) yang bukan merupakan bagian darinya, maka perbuatannya itu tertolak.

Dengan demikian, perbuatan bid’ah hanya terjadi dalam bidang agama. Oleh karena itu, salah besar orang yang menyangka bahwa perbuatan bid’ah juga dapat terjadi dalam perkara-perkara adat kebiasaan sehari-hari. Karena, hal-hal yang biasa kita jalani dalam keseharian kita, tidak termasuk dalam medan operasional bid’ah. Sehingga, tidak mungkin dikatakan “masalah ini (salah satu masalah kehidupan sehari-hari) adalah bid’ah karena kaum salaf dari kalangan sahabat dan tabi’in tidak melakukannya”. Bisa jadi hal itu adalah sesuatu yang baru, namun tidak dapat dinilai sebagai bid’ah dalam agama. Karena jika tidak demikian, niscaya kita akan memasukkan banyak sekali hal-hal baru yang kita pergunakan sekarang ini sebagai bid’ah: seperti mikropon, karpet, meja, dan bangku yang kalian duduki, semua itu tidak dilakukan oleh oleh generasi Islam yang pertama, juga tidak dilakukan oleh sahabat, apakah hal itu dapat dinilai sebagai bid’ah?

Oleh karena itu, ada orang yang bersikap salah dalam masalah ini sehingga jika melihat ada mimbar yang anak tangganya lebih dari tiga tingkat, niscaya dia akan berkata, “ini adalah bid’ah”. Tidak, bid’ah tidak termasuk dalam masalah seperti itu. Rasulullah saw. pertama kali berkhotbah di atas pokok pohon kurma, kemudian ketika manusia bertambah banyak, ada yang mengusulkan, “Tidakkah sebaiknya kami membuat tempat berdiri yang tinggi bagi baginda sehingga orang-orang yang hadir dapat melihat baginda?” Setelah itu, didatangkan seorang tukang kayu, ada yang mengatakan ia adalah tukang yang berasal dari Romawi. Selanjutnya, si tukang kayu membuat mimbar dengan tiga tingkat. Seandainya dibutuhkan mimbar yang lebih dari tiga tingkat, niscaya ia akan membuatnya. Masalah ini tidak termasuk dalam lingkup medan operasional bid’ah.

Oleh karena itu, sangat penting sekali kita mengetahui apa yang dimaksud dengan sunnah? Dan, apa yang dimaksud dengan bid’ah? Juga ada kesalahan sikap dalam memandang perbuatan-perbuatan Rasulullah saw.. Sebagian orang ada yang menyangka bahwa seluruh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. adalah sunnah. Padahal, para ulama berkata bahwa perbuatan-perbuatan Nabi saw. yang termasuk sebagai sunnah hanyalah perbuatan yang ditujukan oleh beliau sebagai perbuatan ibadah.

Di antara contohnya, Nabi saw.–pada beberapa kesempatan–melakukan shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh. Setelah itu, beliau berbaring dengan memiringkan tubuhnya ke samping kanan.
Dari sini, ada sebagian ulama–diantaranya Ibnu Hazm–yang menyimpulkan bahwa setelah melakukan shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh kita harus berbaring miring di sisi kanan tubuh kita. Padahal, Aisyah r.a. berkata, “Nabi saw. berbaring seperti itu bukan untuk mencontohkan perbuatan sunnah, namun semata karena beliau lelah setelah sepanjang malam beribadah sehingga beliau perlu beristirahat sejenak.