Buya Hamka Mengamalkan Maulid dan Qunut Subuh Setelah Baca 1000 Kitab, ini judul asli dari yang saya kutip di http://www.suaranetizen.com/2016/01/buya-hamka-mengamalkan-maulid-dan-qunut-subuh-setelah-baca-1000-kitab.html

Tulisan ini sebetulnya cukup banyak ditemui di internet, dan isinya sama…hanya satu inilah…artinya semuanya COPY dan PASTE, bahkan dramatis dengan kata 1000 Kitab!

Isinya seperti dibawah ini dan mengandung keanehan yang sangat:

Sewaktu baru kepulangannya dari Timur Tengah, Prof. DR. Hamka, seorang pembesar Muhammadiyyah, menyatakan bahwa Maulidan haram dan bid’ah tidak ada petunjuk dari Nabi Saw., orang berdiri membaca shalawat saat Asyraqalan (Mahallul Qiyam) adalah bid’ah dan itu berlebih-lebihan tidak ada petunjuk dari Nabi Saw.

Tetapi ketika Buya Hamka sudah tua, beliau berkenan menghadiri acara Maulid Nabi Saw saat ada yang mengundangnya. Orang-orang sedang asyik membaca Maulid al-Barzanji dan bershalawat saat Mahallul Qiyam, Buya Hamka pun turut serta asyik dan khusyuk mengikutinya.

Lantas para muridnya bertanya: “Buya Hamka, dulu sewaktu Anda masih muda begitu keras menentang acara-acara seperti itu namun setelah tua kok berubah?”

Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya, dulu sewaktu saya muda kitabnya baru satu. Namun setelah saya mempelajari banyak kitab, saya sadar ternyata ilmu Islam itu sangat luas.”

Di riwayat yang lain menceritakan bahwa, dulu sewaktu mudanya Buya Hamka dengan tegas menyatakan bahwa Qunut dalam shalat Shubuh termasuk bid’ah! Tidak ada tuntunannya dari Rasulullah Saw. Sehingga Buya Hamka tidak pernah melakukan Qunut dalam shalat Shubuhnya.

Namun setelah Buya Hamka menginjak usia tua, beliau tiba-tiba membaca doa Qunut dalam shalat Shubuhnya. Selesai shalat, jamaahnya pun bertanya heran: “Buya Hamka, sebelum ini tak pernah terlihat satu kalipun Anda mengamalkan Qunut dalam shalat Shubuh. Namun mengapa sekarang justru Anda mengamalkannya?”
Dijawab oleh Buya Hamka: “Iya. Dulu saya baru baca satu kitab. Namun sekarang saya sudah baca seribu kitab.”

Gus Anam (KH. Zuhrul Anam) mendengar dari gurunya, Prof. DR. As-Sayyid Al-Habib Muhammad bin Alwi al- Maliki Al-Hasani, dari gurunya Al-Imam Asy-Syaikh Said Al-Yamani yang mengatakan: “Idzaa zaada nadzrurrajuli waktasa’a fikruhuu qalla inkaaruhuu ‘alannaasi.” (Jikalau seseorang bertambah ilmunya dan luas cakrawala pemikiran serta sudut
pandangnya, maka ia akan sedikit menyalahkan orang lain).

—————-

Yang paling Aneh dari cerita diatas ini adalah, kenapa alm Buya Hamka tidak merevisi panutan yang ia berikan yang telah lalu?

Apalagi ini masalah ibadah daalam beragama, tentulah jika ia tidak segera merevisinya maka ia akan menanggung dosanya jika panutannya yang telah lalu itu salah….

Berikut dibawah ini ada klarifikasi dari situs http://sangpencerah.com/2015/11/meluruskan-fitnah-terhadap-buya-hamka-soal-tahlilan-dan-dibaiat-abah-anom.html

Berjudul: Meluruskan Fitnah Terhadap Buya Hamka Soal Tahlilan dan Dibaiat Abah Anom

Perbedaan yang ada, seperti dalam masalah furu’iyyah (cabang agama), metode dakwah, cakupan, dan sebagainya justru akan membuat ormas-ormas tersebut akan saling menguatkan dan menopang dakwah. Menjadi sarana berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana yang telah diperintahkan dalam Al Qur’an surat Al-Baqarah ayat 148. Hanya saja, memang tidak bisa dipungkiri, adanya sebagian oknum yang picik pandangan, saling sikut dengan sesama saudaranya, bahkan saling hujat, hanya karena berbeda organisasi dan bendera dakwah. Orang-orang seperti ini harus segera disadarkan. Karena sadar atau tidak sadar dia telah melakukan kemungkaran besar, yang bukan saja akan berimbas pada dirinya, tetapi mudharatnya bisa menimpa jama’ah kaum muslimin pada umumnya.
Buya Hamka seorang Tokoh Muhammadiyah yang sangat berpengaruh dalam perjalanan sejarah Islam dan bangsa di Indonesiasikap teguh dalam memegang prinsip namun di sisi lain mengormati pandangan yang berbeda dengannya. Contohnya ketika Buya Hamka memaafkan dan tetap mensholatkan Presiden Soekarno yang pernah memenjarakannya serta kisah KH Idham Cholid dan Buya Hamka saat memimpin sholat shubuh masing – masing saling bertoleransi.
Namun akhir – akhir ini di media sosial ada kelompok yang menshare tentang Buya Hamka dikatakan di masa akhir hidupnya Buya Hamka dibaiat oleh Abah Anom dan menjadi pengikutnya kemudian Buya Hamka juga disebutkan melakukan tahlilan di usia tuanya bahkan banyak yang menulis seolah olah kutipan dari Buya Hamka bahwa ” dulu saya tidak tahlilan karena cuma membaca satu kitab, setelah membaca ribuan kitab saya akhirnya melakukan tahlilan “
Benarkah informasi yg tersebar di media – media online tersebut? hasil penelusuran tidak ada literatur dan data yang diberikan untuk menguatkan klaim mereka selama ini yang dishare hanya foto  yang disebutkan ketika Buya Hamka memberi salam kepada abah anom, lalu apa dengan foto itu saja bisa diterjemahkan buya hamka telah dibaiat?. tentu ini sebuah klaim asal – asalan saja dan tak berdasar mengingat Buya Hamka adalah sosok yang sangat menghormati ulama – ulama laennya meskipun memiliki perbedaan dengan dirinya.
Kemudian soal klaim bahwa di usia tuanya Buya Hamka akhirnya membolehkan upacara tahlilan, lagi – lagi tidak ada data yang valid diberikan dan 100 persen hanya klaim saja. Justru kami mendapat kesaksian dari santri – santri Al Azhar salah satunya Ustadz Harun Abdi bahwa selama belajar dengan Buya Hamka sampai wafatnya Buya Hamka tidak pernah menganjurkan untuk melakukan upacara tahlilan bahkan ketika istri Buya Hamka meninggalpun tidak ada upacara tahlilan.
Ustadz Harun Abdi mengisahkan Buya Hamka adalah sosok yang sangat menghormati ulama ulama laen dari manapun meskipun demikian Buya Hamka adalah orang yang sangat teguh memegang prinsip oleh karena itu kiranya ummat tidak mudah percaya dengan cerita – cerita yang dikarang soal Buya Hamka untuk mendukung amalan tertentu.
Seperti yang kami tulis diatas janganlah perbedaan ini kemudian menyulut upaya menghalalkan segala cara termasuk kisah palsu Ulama/Tokoh terdahulu hanya untuk mendapat legitimasi soal amalan yang dilakukan sungguh itu perbuatan yang tidak berguna dan justru semakin membuat orang antipati. (redaksi)
Iklan