“Adalah satu hal yang sangat tidak bisa diterima akal; mengaku diri Islam, mengikut perintah Allah dalam hal sembahyang (shalat) tetapi mengikuti teori manusia dalam pemerintahan…” demikian ujar Buya Hamka.

Sayangnya kita banyak yang bangga, senang, menjadi harapan kerja yang ga ada beda sama sekali dengan rampok seperti ini…..mereka tidak sadar, begitu mendapat kerja di bagian rampok ini seolah-olah itulah penyelamat hidup mereka…
Mereka bisa menghidupi keluarganya, makan uang rampokan dari rakyat, menyekolahkan anak dari kerja memeras rakyat, seoalah hidupnya akan aman…menyelenggarakan kebutuhan dunia bahkan untuk akhirat dengan mengandalkan hasil rampokan…
Benar-benar tidak masuk di akal sehat, jika mereka memang berpikir (orang islam) dalam beragama islam, kecuali mereka berpikir yang orientasinya tidak jauh pemaksaan kehendak dari ketiadaan kemampuan atau lemah dalam berpikir bertahan hidup di dunia ini…

Mereka jadi keblinger, tersesat seolah-olah yang mereka lakukan itu benar, tentunya memang benar, tapi mereka tidak berpikir yang membenarkannya hanyalah segelintir manusia…
Jika yang membenarkannya seluruh manusia di dunia ini, masih juga tidak bisa menolak hukum allah yang sudah di tetapkan..

Juga saya belum pernah melihat orang senang/bergembira layaknya bersedakah sewaktu ia membayar pajak.

Sangat tidak masuk akal, suatu negara dikatakan kaya hasil alamnya, tapi masih menarik pajak dari rakyatnya, sama saja pemerintahnya tidak punya kemampuan jika alamnya kaya tapi masih membetot uang rakyatnya…

Tukang pungut pajak ini ibarat preman yang berseragam….di legalkan secara hukum negara.

Saya pernah meng-import mesin laser printer seharga 30an juta, pajaknya kena 20an juta, bagaimana mungkin saya senang…bertahun-tahun memiliki mesin tersebut, sampai sekarangpun untuk balik modal saja jauh gara-gara dikenakan pajak begitu besar (bea masuk).

Pada agustus 2016 saya ada beli kawat aluminium untuk pengetesan pengelasan, berat 3kg sd 4kg, harga di kisaran 400 sd 600rb-an, dianggap bea cukai 4jt-an, lalu dimintai bea cukai kepada saya 1.7jt.

Bahkan ada orang yang service jam android peeble, karena rusak terpaksa dikirim ke luar negeri, biaya nol rupiah dari peeble, tetap saja dipaksa bayar bea masuk seharga jam tersebut….

Itu sebabnya, saya bisa katakan mereka yang bekerja memungut pajak tak lain hanyalah perampok yang berseragam….

Saya pernah mengirim barang (perangkat elektronik pengatur tenaga surya) dimana di amerika harganya hampir 3000 usd, kebetulan saya kirim ke alamat teman di amerika (penduduk amerika).

Sewaktu barang sampai di alamatnya, saya tanyakan kepadanya, berapa usd kena bea masuk…?
Saya sungguh terkejut karena ia berkata tidak kena pajak sama sekali.

Saya yakin di amerika pasti juga ada pajak, tetapi ternyata barang yang saya kirim belum terkena pajak sewaktu sampai di amerika, kalo disini…jangan harap barang hampir 40jt ga kena pajak….
Barang saya masukkan saja dibawah 15juta (laser cnc kecil), dengan seenaknya cukai menetapkan pajak untuk saya hampir 40jt….

Kalau disini, barang apa saja…SEMENJAK harganya mulai diatas 50 usd, maka penduduk indonesia akan dikenakan pajak.

Tapi karena kita hidup di indonesia (luar biasa banyak muslimnya), dengan terpaksalah tentunya kita bayarkan pajak….

Wahai saudaraku jika anda islam, maka berhentilah bekerja memungut uang haram (pajak, bea masuk dsb), sebab akan ada perhitungan dari allah di hari akhir nanti.

Sebab akhirat adalah tujuan akhir, dan umur kita sewaktu di dunia ini hanyalah beberapa jam dibading waktu akhirat….jangan terperdaya dengan dunia…
Terlebih urusan rezeki allah sudah menjaminnya bahkan menjamin ke seluruh umat, bukan orang islam saja.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda.

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّا س زَمَانٌ لاَيُبَاليَّ الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ أَ منْ حَلاَل أَم منْ حَرَام

“Sungguh akan datang kepada manusia suatu zaman saat manusia tidak peduli dari mana mereka mendapatkan harta, dari yang halalkah atau yang haram” [HR Bukhari kitab Al-Buyu : 7]

 

Adapun dalil secara umum, semisal firman Allah.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil….”[An-Nisa : 29]

Dalam sebuah hadits yang shahih Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ

“Tidak halal harta seseorang muslim kecuali dengan kerelaan dari pemiliknya” [6]

Adapun dalil secara khusus, ada beberapa hadits yang menjelaskan keharaman pajak dan ancaman bagi para penariknya, di antaranya bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ صَاحِبَ الْمَكسِ فِيْ النَّارِ

“Sesungguhnya pelaku/pemungut pajak (diadzab) di neraka” [HR Ahmad 4/109, Abu Dawud kitab Al-Imarah : 7]

Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dan beliau berkata :”Sanadnya bagus, para perawinya adalah perawi (yang dipakai oleh) Bukhari-Muslim, kecuali Ibnu Lahi’ah ; kendati demikian, hadits ini shahih karena yang meriwayatkan dari Abu Lahi’ah adalah Qutaibah bin Sa’id Al-Mishri”.

Dan hadits tersebut dikuatkan oleh hadits lain, seperti.

عَنْ أَبِيْ الْخَيْرِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ عَرَضَ مَسْلَمَةُ بْنُ مَخْلَّدٍ وَكَانَ أَمِيرًا عَلَى مِصْرَرُوَ ُيْفِعِ بْنِ ثَابِتٍ رَضِيَ اللَّهُ أَنْ يُوَلِّيَهُ الْعُشُوْرَ فَقَالَ إِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِنَّ صَاحِبَ الْمَكْسِ فِيْ النَّارِ

“Dari Abu Khair Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata ; “Maslamah bin Makhlad (gubernur di negeri Mesir saat itu) menawarkankan tugas penarikan pajak kepada Ruwafi bin Tsabit Radhiyallahu ‘anhu, maka ia berkata : ‘Sesungguhnya para penarik/pemungut pajak (diadzab) di neraka”[HR Ahmad 4/143, Abu Dawud 2930]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَهْلاً يَا خَالِدُ فَوَ الَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا وَدُفِنَتْ

“Pelan-pelan, wahai Khalid. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh dia telah bertaubat dengan taubat yang apabila penarik/pemungut pajak mau bertaubat (sepertinya) pasti diampuni. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan (untuk disiapkan jenazahnya), maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menshalatinya, lalu dikuburkan” [HR Muslim 20/5 no. 1695, Ahmad 5/348 no. 16605, Abu Dawud 4442, Baihaqi 4/18, 8/218, 221, Lihat Silsilah Ash-Shahihah hal. 715-716]
Sumber: https://almanhaj.or.id/2437-pajak-dalam-islam.html