Ghibah = Bergunjing

Saya sering membaca tipikal statement diatas dimana menurut saya sangat kaku, dan seperti sangat absolut, tidak bisa lagi berubah, pokoknya dosa wesss…, artinya siapa yang menjelek2kan pemimpinnya maka dia pasti berdosa dan pemimpin tersebut mendapat transfer pahala, yakin sesederhana itu? dan apakah hanya itu satu-satunya jalan keluarnya?

Menurut saya jika sesederhana itu konsepnya tentunya akan menjadi cacat bahkan kontradiktif dengan hukum-hukum islam lainnya.

Sebelum di lanjutkan, pertama-tama, pegang dulu statement saya bahwa saya sangat percaya dan 100 persen benar untuk hadits:

Ghibah/bergunjing dapat membuat pahala seseorang berpindah kepada orang lain yang ia gunjingkan Rasulullah saw bertanya,

“Tahukah kalian siapakan orang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab,” Orang bangkrut menurut kami adalah orang yang tidak punya uang dan tidak punya harta sama sekali.” Bersabda Beliau saw,” Orang yang bangkrut di kalangan umatku adalah orang yang datang di
hari Kiamat nanti dengan membawa shalat, puasa dan zakat. Tetapi ia pun datang dengan membawa dosa mencaci si anu, menuduh si anu, makan harta si anu, menumpahkan darah si anu, memukul si anu. Akibatnya, diambillah kebaikan-kebaikan yang sudah ia lakukan dan
diberikan kepada mereka yang ia zalimi. Jika kebaikannya sudah habis padahal belum selesai pembayaran kepada mereka maka dosa – dosa mereka lah yang akan dicampakkan kepadanya lalu ia pun kemudian dilemparkan ke neraka.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra).

Kita lihat bentar hadits diatas, “mencaci si anu”, “menuduh si anu” artinya yg kena caci itu sifatnya korban.
Trus “Akibatnya, diambillah kebaikan-kebaikan yang sudah ia lakukan dan diberikan kepada mereka yang ia zalimi”, artinya yg kena ghibah sifatnya kena zalimi, artinya yang kena ghibah tidak ada salah terhadap si penggibhah…

Misalnya saya tiap hari makan nasi campur garam, lalu tetangga mengejek saya karena miskin, cacat otak tidak mampu mencari rezeki, saya yakin juga tetangga saya akan mentransfer pahala kepada saya.
Jadi saya sangat percaya 100 persen dalam kasus seperti ini si penggibah akan mentransfer pahala kepada si korban, tidak ada keraguan sedikitpun dalam hal ini.

Tapi saya tidak percaya, permasalahan sekarang yang sering kita lihat, misalnya seseorang mencaci pemerintah atau pejabat lalu ia 100 persen berdosa dan si pejabat mendapat pahala.

Misalnya ada statement, “enaknya jadi pejabat/pemerintah yg kena ghibah oleh rakyatnya, udah hidup enak didunia, lalu di akhirat nanti dia akan mendapat perhitungan transfer pahala dari rakyatnya”.

Ini seperti ada semacam keuntungan pasti akibat menjadi pejabat korup, seolah semakin korup dia maka semakin banyak yang mencacinya, maka si pejabat semakin panen pahalanya..
Tentu hal ini sangat kaku dan terlihat terlalu absolut harus seperti itu hukumnya…

Coba kita pikirkan, kita ini mahluk sosial dan terlebih kita di indonesia, toleransi orang indonesia umumnya begitu tinggi….jarang-jarang ada pejabat yang melakukan kesalahan kecil lalu seantero indonesia mencacinya.
Umumnya karena kesalahan fatal, kebijakan fatal yang berpengaruh pada nasib orang banyak…lalu mencaci mereka dimana kita merasa dirugikan lalu kita otomatis mentransfer pahala ke pejabat? Luar biasa fantastis…

Bagaimana jika si pencaci itu korban (rakyat) atas kebijakan yang pemerintah buat? Yakin sekonyong2nya si pencaci mentransfer pahala ke pejabat?

Apakah karena dia pemimpin dalam suatu sistem yang dinamakan pejabat atau pemerintah yang sudah pasti salah (misalnya) di caci maki rakyat tidak boleh 100%?

Yang saya percaya benar adalah, jika ada seseorang yang mengeluarkan statement,
“bersabarlah dengan pemerintah/seseorang yang zalim, jika engkau bisa bersabar dan tetap beribadah maka surga telah menanti”.

Saya sangat yakin jika ada orang yang sabar dalam setiap cobaan, dia selalu sabar apalagi bisa memaafkan….menurut saya inilah manusia the best of the best of the best, yang tidak saya ragukan lagi..

Terlebih banyak hadits atau al-quran yang menjelaskan kebaikan dari suatu kesabaran.
Misalnya, “Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
mereka kerjakan”. [An-Nahl : 96]
Misalnya lagi, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. [Az-Zumar : 10]

Tapi apakah salah jika saya mencaci pemerintah, misalnya suatu saat saya di tuduh mencuri padahal saya tidak mencuri dan tidak terbukti tapi saya keburu di tembak (bahkan jika hanya menghabiskan waktu saya) dalam suatu pengejaran yang membuat saya cacat seumur hidup?
Saya yakin jika saya sabar, apalagi memaafkan tentunya itu lebih baik….tapi tidak juga saya berdosa jika saya mencaci pemerintah atas dasar kesalahan ini karena cacat dalam terapan kebijakannya.

Contoh yang saya alami dan tipikal kejadian ini sering sekali saya alami, saya import barang seharga 20an jt, lalu dihitung pemerintah (BEA CUKAI) saya harus bayar pajak masuk 30an juta (hampir 40jt) karena kesalahan perhitungan, dimana seharusnya saya membayar hanya paling banyak 5jt sd 7jt, tapi hasil perhitungan akhir saya harus bayar tetap di 30an jt..

Setelah apa yang saya alami, apakah saya berdosa mencaci pemerintah?
Saya yakin saya tidak berdosa karena dalam kasus ini saya korban juga keterbatasan saya sebagai manusia biasa, yang terkena dampak dari kesalahan sistem yang mereka buat, dan memang iya jika saya bisa sabar, apalagi bisa memaafkan saja kejadian tersebut, tentunya saya termasuk manusia the best of the best of the best, yang tidak perlu di ragukan lagi 🙂

Contoh lagi, yang lagi marak dalam beberapa hari terakhir, kasus keterlambatan pelepasan barang import (terjadi Red Line) yang terjadi
karena ada perubahan kebijakan oleh pemerintah, sehingga biasanya barang sudah dirilis dalam waktu 1-3 hari sekarang bisa bermiggu-minggu…

Kebayangkan kesulitan yg dialami rakyat? Misalnya jatuh tempo dia punya hutang dan menanggung kerugian yang besar, barang punya/titipan konsumen jadi telat membuat konsumen tidak percaya lagi, atau bahkan kena cancel oleh konsumen.

Apakah berdosa jika seseorang itu mengejek pemerintah karena kelakuan mereka tersebut?
Apalagi permasalahan ini bisa memicu efek domino dimana bisa saja terjadi pada rakyat yang sama sekali mereka bukan importir, misalnya mengalami kelangkaan sesuatu yang dibutuhkan orang banyak.

Saya yakin importir tidak berdosa jika ia mencaci pemerintah, karena dalam kasus ini importir korban dari kesalahan sistem yang mereka buat, dan memang iya jika importir bisa sabar, apalagi bisa memaafkan saja kejadian tersebut, tentunya importir termasuk manusia the best
of the best of the best, yang tidak perlu di ragukan lagi 🙂

Lalu ada sebagian orang berkata mengkritik pemerintah harus secara diam-diam, apakah memang harus atau absolut seperti ini yang di benarkan?

Lalu apa solusi nya jika tidak bisa diam dimana pernah saya lakukan?

Apakah saya harus sabar?

Bagaimana jika saya tidak sabar lalu mencoba memblow-up permasalahan supaya terdengar pemerintah di tempat umum?

Yang saya lakukan bukan memberontak…apa yang mau saya berontakkan…hehehe, contoh kasusnya dibawah ini:

Pemerintah (PLN) “katanya” mendukung konsep green energy salah satunya dengan tenaga matahari, lalu saya
mencoba peralatan murah dulu sebagai tester, namanya controller harganya 4jt-an, dan setelah di test bekerja dengan sempurna!
Setelah tau bekerja sempurna, saya langsung membeli 2 controller baru (karena saya memakai 2 meteran) untuk mengganti alat test yang kecil tadi dengan harga total controller 70an juta.

Sebelum alat datang, eeh tau-tau pln lokal mengganti meteran yang hasilnya tidak mendukung seperti meteran yang lama.
Saya minta ganti dengan pejabat PLN secara diam-diam, tidak menggerutu apalagi memberontak yang mendukung controller….tapi tetap tidak ditanggapi, akhirnya saya mempublish video di youtube dan kompas mengenai KEKEsalan saya pada pemerintah (PLN).
Akhirnya Dirut PLN (sekarang tersangka maling oleh KPK) menghubungi saya, dan akan memberikan meteran yang mendukung peralatan yang baru. Tapi setelah komunikasi, tetap saja janji tinggal janji…controller yang saya beli hanya menjadi sampah.

Jadi apakah saya berdosa mencaci-caci pln dengan mempublish video di youtube?
Sekali lagi, Saya yakin saya tidak berdosa jika saya mencaci pemerintah, jika menurut saya…saya adalah korban dan memang iya tidak saya ragukan jika saya bisa sabar, apalagi bisa memaafkan saja kejadian tersebut, tentunya saya termasuk manusia the best of the best of  the best!

Apakah yakin kita akan selalu sabar dalam suatu cobaan yang besar misalnya dalam carut marut ekonomi saat ini, tidak sekalipun mencela pemerintah karena itu berdosa….?

Malah kenyataan yang paling saya temui adalah ibaratnya saya sering sekali bertemu dengan seseorang yang ngakunya Pembalap Formula 1, tapi masa dalam kesehariannya bawa mobil layak jalan raya umum saja tidak bisa.

Tepatnya saya sering ketemu mulai dari orang biasa saja, bukan alim ulama…mencetuskan suatu statement yang luar biasa, misalnya selalu berkoar-koar memafkan pemimpin…pokoknya yg fantastis bombastis deh…
Bahkan seseorang yang alim yang juga mencetuskan statement yg mirip-mirip seperti itu, seolah super bijak, super pemaaf, super sabar dalam ikrar nya pada suatu kasus yang besar yang menyangkut perut orang banyak tapi tidak menyangkut perut dia….

Pokoknya semua harus dimaafkan, kalo dicaci berdosa…. 🙂

Eeeeh nanti pas dalam keseharian saya temui dia lagi mengalami suatu permasalahan yang sepele seperti kesalahan hitung dari penjual atau kesalahan2 yg tidak bombastis yang umumnya terjadi dalam keseharian kita deh….tapi pada waktu terjadi padanya, dia ngotot menuntut haknya…atau dia lagi mengurus suatu surat di kantor pemerintah, lalu lama, diacuhkan, di ping pong…lalu dia mulai ngoceh sana ngoceh sini…

Demi allah, saya tidak mengatakan ia salah berlaku seperti itu, apalagi menganggapnya munafik selagi ia menuntut kebenaran…tentu hak nya dia.

Tapi yaa itu tadi tidak konsisten dengan statement yang yang super bijak pada kasus besar yang tidak bersangkutan dengan dia…mirip pembalap formula 1 tadi…

Bukan juga artinya tidak ada orang yang sabar dalam kasus yang sangat besar, itu pasti ada…seperti orang tua yang memaafkan si pembunuh anaknya..dll dll…

Jadi bagi saya mencaci, menggunjingkan orang lain itu memang benar berdosa jika kita mencaci kepada seseorang yang tidak bersalah kepada kita atau tidak ada keterkaitan dengan kita dimana kita lakukan hanya sekedar memuaskan penyakit hati kita misalnya…tentu saja kita akan bangkrut di akherat…

Apalagi kita hanya membalas kesalahan yang menurut kita belum sepadan dengan kerugian yang kita alami…tentu menurut saya pribadi sah-sah saja…tentu jika kita mampu bersabar itu opsi terbaik dan lebih sempurna (kalau bisa).

 

Bukan berarti saya tidak setuju dengan orang yang sabar, justru saya mau saja bersabar selagi saya mampu bersabar…

Wassallaam

Iklan