Cari

Zulkarnain

The world is composed of givers and takers. The takers eat better, and the givers sleep better…

Kategori

Kiamat

Sesuatu yang pasti terjadi dan tiba-tiba…

Iklan tv zionis perusak moral

Tipikal iklan zionism….kalo ga bisa dirusak 100 persen secara langsung, yaa kalo bisa dirusak sedikit2….nanti di tahun2 kedepan orang mulai aneh melihat dimana di tahun-tahun sebelumnya benar tapi pada waktu zaman sekarang terjadi itu hal yang aneh atau salah telah terjadi….

Judul iklan: COCA-COLA #MomenPalingDitunggu Ep 2: Buka Puasa di Rumah

Iklan sampah, banyak pesan moral sampah disini…
Perasaan saya kecil ga gitu2 amat kalo kecium bau2 minyak bawaan orang tua seperti minyak kayu putih….lah cewek di iklan ini  penyakitan…masa bau segitu aja berefek dahsyat….tanpa tutup hidung rasa-rasanya ga bikin kamu sesak nafas bukan…?
Trus kata emaknya: MAKANYA cari pacar, hehehe….ajaran luar biasa…memang ada yaa orang tua nyaranin anaknya nyari pacar…
Tipikal iklan zionism….ga bisa dirusak 100 persen, yaa kalo bisa rusak sedikit2….nanti di tahun2 kedepan orang mulai aneh melihat yang benar pada waktu itu….

Iklan

Dunia Akhir Zaman – yang benar jadi salah dan yang salah jadi benar.

Ada baiknya tonton dahulu video dibawah ini, sebelum membaca tulisannya.

*Video di terjemahkan secara ikhlas oleh Lampu Islam aka Arceus  Zeldfer

teh-end

Dunia Akhir Zaman.

 

Seruan bagi kamu mukmin.

 

Nubuat Nabi Muhammad Tentang Irak, Suriah, dan Mesir.

 

Mengislamkan Dunia dan cara Anti Islam.

 

MISTERI SETAN 18 DIBALIK PERANG – zionisme – illuminati – 666 dll.

 

Yang Manakah Teroris itu?

 

Pertempuran Khurasan

 

Inikah Hasil Demokrasi?

 

Dalam beberapa tahun terakhir ini saya melihat sesuatu yang nampaknya baik, namun sepertinya hal tersebut justru menjadi degradasi moral umat islam.

Jika dianalogikan dalam angka jika angka 1 s/d 5 nilai buruk, nilai 6-10 itu nilai baik, orang-orang islam menjadi terbiasa cukup mencapai nilai 5.5 misalnya.

Padahal mereka sangat mampu untuk mencapai nilai 6 atau 7.

Nah fenomena ini semakin hari semakin merosot bahkan dicari-cari bagaimana caranya mendapatkan nilai yang baik saja…yang penting bukan nilai buruk dengan usaha yang mudah…

Bagaimana degradasi ini jika dalam kurun waktu 10-20 tahun kedepan?

 

Kenapa hasilnya lebih besar, kenapa dosanya besar? kenapa pahalanya besar?

Karena Allah memberikan semua cobaan, hasil, pahala, dosa, dll semua penuh dengan logika dan rasa keadilan.

Tidak ada usaha atau perjuangan yang besar membuahkan hasil yang kecil, dan sebaliknya.

Ini berlaku dalam segala hal.

Saya saat ini berumur 42 tahun, fenomena yang akan saya sebutkan dibawah ini rasa-rasanya tidak ada pada waktu umur saya masih 20 tahun lalu, dan saya khawatir orang-orang islam akan semakin latah, berlaku seadanya, bahkan sedikitpun tidak ada lagi pembelaan atau justru menjadi terbalik, yaitu yang salah menjadi benar, dan yang benar menjadi salah.

Contonya seperti dulu orang latah menyebut “sedekah alfatihah”, “kegiatan meng-aminkan untuk gaza (palestina),

Takutnya justru membuat masyarakat latah dalam berbagai golongan bersedekah dengan alfatihah saja…dan menjadi senjata pamungkas bagi sebagian orang yang kikir…

Setahu saya, jika ada fakir miskin, sedekah materi jelaslah memberi manfaat langsung ke mereka dan lebih pasti.

Apa iya ini lebih rasional dan mendapatkan pahala yang besar jika ada pengemis lalu kita belum mau memberikan uang secukupnya lalu kita sedekahkan saja mereka alfatihah?

Lebih masuk akal yang seperti ini!

Setahu saya, orang yang miskin akan sangat berterima kasih jika ada orang yang lebih mampu memberinya sedekah dalam bentuk materi, orang yang miskin tersebut akan berterima-kasih, dan jika orang miskin tersebut cukup tahu mengenai agama, maka dia mungkin saja mendoakan, memberikan alfatihah kepada yang memberi sedekah.

Rasa-rasanya, kakek, nenek, orang tua saya belum pernah menyebutkan permasalahan sedekah alfatihah ini…sekalipun dalam perbincangan khalayak ramai belum terdengar desas desus mengenai sedekah alfatihah ini…

Sekarang saya ada pertanyaan sederhana.

  • Apakah dari sejak kecil anda bisa membaca alfatihah?

Iya.

  • Apakah banyak orang muslim yang bisa membaca alfatihah?

Banyak

  • Apakah ada muslim yang tidak bisa membaca alfatihah?

Ada, mungkin banyak juga.

  • Apakah sulit menghapal surah alfatihah?

Mudah, karena hanya terdiri dari 7 ayat.

  • Mudahkah bagi anda hanya bermodal sedekah al-fatihah?

Sangat mudah sekali…

Pertanyaan sederhana lanjutan.

  • Apakah dari sejak kecil anda bisa mencari uang?

Tidak, karena diperlukan ilmu dahulu dimana pencapaiannya seperti belajar berhitung, sekolah yang memerlukan biaya dari orang tua, jika tidak sekolah juga bisa, namun hasilnya kemungkinan besar pas-pasan saja…

  • Jadi, setelah akhirnya dewasa, bagaimana rasanya bisa mencari nafkah untuk keluarga?

Alhamdulillah, cukup berat terlebih lagi kebutuhan materi semakin hari semakin meningkat, jaman berubah menjadi jaman serba materi, kapitalisme, rata-rata orang hanya bisa menghidupi keluarganya secara cukup saja.

  • Jadi bagaimana menurut anda, rasa pengorbanan manakah yang lebih besar, bersedekah materi atau bersedekah alfatiha?

Bersedekah materi.

Yaa, tentulah sedekah materi, allah maha tahu dan maha adil saya yakin sangat jauh jauh sekali pahalanya jika kita mampu bersedekah secara materi, karena realitasnya pertolongannya sangat jelas, cepat bermanfaat.

Saya kadang lucu atau mereka sekedar malu lalu tidak mengakui logika yang sangat rasional, misalnya selepas melihat video perjuangan orang islam yang berjihad membela agama, bagaimana orang-orang tersebut dari berbagai negara berangkat ke palestina, afganistan, lalu pada akhirnya saya tanyakan pertanyaan sederhana: maukah anda berangkat berjihad seperti mereka?

Jawab mereka “mencari nafkah untuk keluarga saya juga termasuk ibadah dan jihad”!, atau “harta saya belum cukup untuk meninggalkan anak istri saya”

Loh apa dulu anda hidup dari kecil sampai bisa jadi sekarang, berakal, belajar, bekerja, mempunyai harta, akhirnya mempunya keluarga, apakah tidak ada pelajaran dari kehidupan ini?

Apa iya pahala-nya sama jika kita melihat orang-orang dari berbagai penjuru dunia berjihad dan mencari syahid untuk membela agama allah dibandingkan dengan jihad misalnya mencari nafkah untuk keluarga lalu meninggal kecelakaan atau gara-gara dirampok itu sama pahalanya?

Dimana mereka logikanya dalam sehari-hari dalam bisnis, perniagaan semua logikanya normal, jika mendapat pertanyaan seperti ini logikanya memble?

Saya pribadi jika ditanya pertanyaan serupa tidak pernah memberikan argumentasi “mencari nafkah untuk keluarga saya juga termasuk ibadah dan jihad”!

Terus terang hati kecil saya tidak menerimanya jika saya jawab dengan hal seperti itu…

Mencari nafkah memang jihad, namun janganlah pandangan kita sampai kabur, jihad itupun mempunyai tingkatan begitupun syahid.

Jika ada orang yang bertanya mengenai berjihad untuk memerangi orang yang ingin menghancurkan agama allah, jawaban saya simple, saya belum berani seperti mereka, saya masih lebih mencintai duniawi, keimanan saya belum setinggi mereka…

Sejauh ini, yang saya juga yakin…..jika kita terenyuh, prihatin tentulah ada balasannya…allah maha tahu…

Namun lebih bagus lagi jika kita mampu memberikan bantuan yang “NYATA”, seperti mengorbankan harta….

Pada level berikutnya tentulah mengorbankan “jiwa” tentulah menjadi level yang lebih tinggi…

Saat ini, bukannya mereka membantu dengan sesuatu yang nyata jika melihat mereka akan berjuang jika kita belum ada kemampuan mental untuk berangkat kesana, jika ada orang yang mau berangkat ke palestina, afgan dll mereka, media justru menyudutkan orang tersebut, padahal orang tersebut jelas-jelas untuk membela agama islam.

Saya yakin, membela dan memerangi orang yang ingin menghancurkan agama allah dan mereka berperang langsung seperti di Palestina, Afganistan jelas bukan terorist.

Bahkan sebagian penduduk israel-pun (yahudi) gerah dengan keputusan pemerintahnya (zionis).

Yang namanya teroris, membunuhi orang yang tak bersalah, walaupun agamanya bukan islam.

Arti jihad, semakin kabur, dan seolah semua menjadi sama…jihad yah jihad…setiap orang bisa berjihad…

 

Namun, kuatkan lagi logika…dibawah ini ada pertanyaan, dan saya yakin andapun akan mempunyai jawaban yang sama.

  • Bekerja untuk keluarga ini jihad bukan?

Betul.

  • Apakah ini kejadian luar biasa?

Biasa saja.

  • Apakah sedikit orang yang mampu melakukannya?

Hampir semua orang mampu melakukannya bahkan mudah dilakukan, bahkan pemulung sampahpun dengan bermodal wadah dipunggungnya dengan mencari sampah bisa menghidupi keluarganya.

Setiap kepala keluarga tentunya mencari nafkah untuk keluarganya, SEMUA ORANG!

Lalu pertanyaan selanjutnya,

  • Berangkat berperang untuk menegakkan ajaran allah jihad bukan?

Jelas Berjihad.

  • Apakah ini termasuk kejadian luar biasa?

Luarbiasa, memerlukan keberanian, mengorbankan keinginan duniawi dan banyak pertimbangan yang harus dilewati, karena taruhannya adalah nyawa.

  • Apakah banyak orang yang berani melakukannya?

Mungkin diantara 1 juta orang saja belum tentu 1 yang berani, termasuk saya.

Dengan melihat pertanyaan yang sedikit diatas saja hati nurani, akal dan logika kita tentu jawabannya.

Apa jadinya jika tidak ada orang-orang yang berani berjuang menegakkan ajaran islam secara langsung tersebut?

 

16 Kelebihan Orang Yang Mati Syahid Sebagai Syuhada.

Dan kematian para Syuhada ini sedemikian istimewanya, apakah ada logika yang salah dengan keistimewaan ini?
Tidak bro…karena kematian level para syuhada ini tidak setiap orang bisa mendapatkannya, karena butuh pengorbanan yang sedemikian tinggi, keberanian yang tinggi, keyakinan yang tinggi.

1: Para Syuhada di cabut ruhnya langsung oleh Allah swt, sedangkan para Nabi dan Rasul dicabut Ruhnya oleh Malaikat Maut (Izrail)

2: Para Syuhada jenazahnya tidak perlu di mandikan sedangkan jenazah para Nabi dan Rasul di mandikan. Diriwayatkan dari Jabir bin ‘Abdullah bahwasanya Rasulullah saw mengumpulkan setiap dua orang para shahabat yang gugur di medan Uhud pada sebuah kain kafan. Lalu beliau saw bersabda, “Siapa saja diantara mereka yang paling banyak hafal al-Quran kuburkanlah terlebih dahulu.” Jika ada dua orang menyatakan bahwa si fulan lebih banyak hafal al-Qurannya, beliau memasukkannya lebih dulu ke liang lahat. Selanjutnya beliau bersabda, “Saya bersaksi atas mereka kelak di hari akhir.” Setelah itu, Rasulullah saw memerintahkan para shahabat untuk menguburkan mereka, tanpa dimandikan terlebih dahulu, dan juga tidak disholatkan.”[HR. Bukhari] Imam Malik di dalam kitab al-Mudawwanah mengatakan, “Siapa saja yang gugur di medan peperangan, ia tidak dimandikan, tidak dikafani, dan tidak disholatkan. Ia dikafani dengan baju yang dikenakannya…Tersebut di dalam hadits riwayat Jabir, “Selanjutnya Rasulullah saw memerintahkan untuk menguburkan mereka, tanpa dimandikan dan juga tidak disholatkan.”

3: Para Syuhada jenazahnya di makamkan di pemakaman muslim layaknya orang muslim lainnya, sedangkan jenazah para Nabi dan Rasul di makamkan di mana mereka di cabut nyawanya.

4: Para syuhada di berikan keleluasaan memberikan syafaat (pertolongan) di setiap harinya untuk saudara kerabatnya, sedangkan para Nabi dan Rasul memberikan syafaat pada hari Kiamat.

5: Para Syuhada jika meninggal ia dikatakan hidup, sedangkan para nabi dan Rasul jika telah meninggal maka ia dikatakan meninggal. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki. mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)

6: Akan diampuni dengan serta merta dosanya serta diperlihatkan tempat duduknya disurga (kecuali mereka yang masih ada urusan hutang).

7: Diselamatkan dari siksa kubur.

8: Jasadnya utuh di dalam kuburnya seperti sebelum ia di kuburkan.

9: Aman dari ketakutan yang teramat besar dan dahsyat pada hari kiamat.

10: Dinikahkan dengan bidadari (semiskin – miskin ialah 49 bidadari).

11: Dapat memberi syafaat kepada 70 orang keluarganya. Riwayat oleh Termizi, Ahamd dan Ibnu Majah.

12: Bau darahnya seperti aroma misk “Demi dzat yang jiwaku ditanganNya! Tidaklah seseorang dilukai dijalan Allah-dan Allah lebih tahu siapa yang dilukai dijalanNya-melainkan dia akan datang pada hari kiamat : berwarna merah darah sedangkan baunya bau misk” (HR. Ahmad dan Muslim) Dr. Abdullah Azzam menyampaikan, “Subhanallah ! Sungguh kita telah menyaksikan hal ini pada kebanyakan orang yang mati syahid sebagai suhada. Bau darahnya seperti aroma misk (minyak kasturi). Dan sungguh disakuku ada sepucuk surat-diatasnya ada tetesan darah Abdul wahid dan telah tinggal selama 2 bulan, sedangkan baunya wangi seperti misk.”

13: Tetesan darahnya merupakan salahsatu tetesan yang paling dicintai Allah. “Tidak ada sesuatu yang dicintai Allah dari pada dua macam tetesan atau dua macam bekas : tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah dijalan Allah; dan adapun bekas itu adalah bekas (berjihad) dijalan Allah dan bekas penunaian kewajiban dari kewajiban-kewajiban Allah” (HR. At Tirmidzi – hadits hasan)

14: Ditempatkan disurga firdaus yang tertinggi

15: Arwah Syuhada ditempatkan ditembolok burung hijau

16: Syuhada itu tidak merasakan sakitnya pembunuhan “Orang yang mati syahid sebagai Syuhada itu tidak merasakan (kesakitan) pembunuhan kecuali sebagaiman seorang diantara kalian merasakan (sakitnya) cubitan.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i – hadits hasan) Dr. Abdullah Azzam menceritakan, ” Kami melihat hal ini pada saudara kami, Khalid al-kurdie dari madinah al Munawwaroh ketika ranjau meledak mengenainya, sehingga terbang kakinya, terbelah perutnya, keluar ususnya dan terkena luka ringan pada tangan luarnya. Datanglah Dr. Shalih al-Laibie mengumpulkan ususnya dan mengembalikan kedalam perutnya seraya menangislah Dr. Shalih. Maka bertanyalah Khalid al-Kurdie kepadanya : “Mengapa engkau menangis, dokter? Ini adalah luka ringan pada tanganku.” dan tinggalah dia berbincang-bincang dengan mereka selama 2 jam hingga akhirnya ia menjumpai Allah. Dia tidak merasakan bahwasanya kakinya telah terpotong dan perutnya terbuka.

Ingat, para Zionis dan kawan-kawannya ingin menghancurkan islam itu secara perlahan

Sungguh skenarionanya sangat halus, bahkan diluar jangkauan kita sebagai orang awam, mengubahnya sedikit demi sedikit, lalu mulailah terjadi perubahan pandangan, bahkan pada akhirnya yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar.

Dibawah ini analogi bagaiman para zionis pada akhirnya memutar balikkan fakta, yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar.

Tulisan yang berjudul Beginilah Mereka Menghancurkan Kita, Sumber : http://www.Arrahmah.com

 

Zionist, merusak moral secara perlahan.
Zionist, merusak moral secara perlahan.

Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

*****

Ini semua adalah fenomena Ghazwul Fikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam.

Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.
Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

Salam

Joel

Naskah Laut Mati atau Dead Sea Scrolls

Naskah ini sangatlah kontroversial, dan bagi kelompok tertentu naskah ini tidak boleh diketahui oleh public,
banyak cerita-cerita dibalik penemuan naskah laut mati ini (Dead Sea Scrolls)
Salah satu cerita seperti dibawah ini….

——————————-

Siapakah Dibalik Misteri Raibnya Naskah Laut Mati

Bagian 1

Penemuan tulisan-tulisan tangan berbahasa Ibrani dan Aramaik kuno di propinsi Qumran, paska Perang Dunia II telah memicu antusiasme para Ahli Sejarah Kitab Suci untuk mendapatkan informasi tentang naskah-naskah tersebut yang diharapkan dapat memberikan jawaban atas misteri dari periode penting dalam sejarah umat manusia. Hal itu tentu saja sangat beralasan mengingat bahwa naskah berbahasa Ibrani paling kuno yang ada saat ini dari Kitab-kitab Perjanjian Lama berasal dari abad ke-10 M. Selain bahwa naskah-naskah tersebut menyimpan perbedaan-perbedaan cukup besar jika dihadapkan dengan naskah-naskah septuagintal Yunani yang berhasil diterjemahkan di Aleksandria pada abad ke-13 SM. Manakah di antara kedua naskah yang paling sahih dalam hal terjadinya perbedaan? Manakah di antara keduanya yang paling dapat diandalkan? Tidak hanya terbatas pada Jemaat-Jemaat Yitzrael, bahkan Gereja-Gereja Kristen Yunani, mengakui Perjanjian Lama sebagai bagian dari Kitab Suci mereka. Sementara umat Kristen hingga abad ke-10 M, mengandalkan naskah Septuaginta (naskah Yunani, pent) dan setelah itu mereka beralih – kecuali Gereja Yunani Timur- ke naskah Ibrani pada awal abad yang sama.

Sebagaimana sumber-sumber yang sampai kepada kita tentang al-Masih, semuanya berasal dari tulisan-tulisan yang disusun pada setengah abad semenjak waktu yang ditentukan sebagai saat wafatnya Yesus. Dan tidak terdapat satu naskahpun – meskipun sedikit – dari sumber-sumber sejarah masa kini yang menyebutkan secara pasti periode yang dikatakan bahwa Yesus pernah hidup di masa itu.

Bahkan sebaliknya, Kitab-kitab Perjanjian Baru sendiri – sebagai rujukan satu-satunya tetang kehidupan Yesus­memberikan kepada kita inforamsi yang kontradiktif berkenaan dengan kehidupan dan kematian Yesus. Injil Matius menyebutkan bahwa Yesus dilahirkan pada masa pemerintahan Kaisar Herodus, yang mangkat pada tahun ke-4 SM. Sedangkan Injil Lukas menetapkan kelahiran al-Masih pada masa sensus penduduk oleh Romawi, yakni tahun ke-enam kelahiran al-Masih. Perbedaan juga muncul berkenaan dengan masa berakhirya kehidupan al-Masih di bumi. Berdasarkan keterangan-keterangan yang didapat dari kitab-kitab Injil, ada yang menetapkan pada tahun ke­30, tahun ke-33 dan ada pula yang menetapkannya pada tahun ke-36.

Sementara keyakinan terdahulu menegaskan bahwa para penulis Injil itu adalah para murid dan sahabat yang hidup semasa al-Masih, dan mereka menjadi saksi hidup atas maklumat yang mereka tulis. Akan tetapi, saat sekarang ini menjadi jelas bahwa tidak seorangpun dari para penulis Injil itu yang pernah bertemu Yesus. Para penulis itu tanpa terkecuali bersandar pada riwayat-riwayat yang mereka dengar dari orang lain atau dari penafsiran-penafsiran mereka terhadap tulisan-tulisan kuno.

Berdasarkan pada kenyataan ini, maka penemuan tulisan-tulisan kuno yang mendahului atau semasa dengan zaman kehidupan Yesus di kawasan yang hanya berjarak beberapa kilometer dari kota Jerusalem, yang disebut-sebut sebagai kota tempat meninggalnya al-Masih, telah membangkitkan kembali harapan untuk menemukan sumber-sumber pengetahuan untuk menyingkap tabir misteri dan hakikat persoalan dalam sejarah institusi agama Kristen dan keterkaitannya dengan jemaat-jemaat Yahudi yang ada pada masa itu.

Antusiasme menjadi bertambah besar semenjak dipublikasikannya bagian­bagian awal manuskrip pada tahun enam puluhan. Maka jelaslah bahwa tulisan-tulisan tangan itu berkaitan erat dengan kelompok Judeo-Kristen yang dikenal sebagai Kaum Esenes, yang memiliki seorang guru bijak dengan sifat dan karakter yang tidak berbeda dengan al-Masih. Namun sayang bahwa antusiasme yang muncul di kalangan para ilmuan sejarah kitab suci dan para pembaca awam justru menimbulkan rasa cemas dan khawatir dari pihak otoritas agama dan institusi-institusi Yahudi maupun Kristen. Alasan kecemasan itu tidak berhubungan dengan rasa takut bahwa informasi yang berhasil diketemukan akan menguatkan keimanan orang-orang muslim, sebab sejatinya bahwa tulisan-tulisan itu merupakan tulisan keagamaan kuno.

Namun kecemasan itu lebih mengarah pada kekhawatiran akan terjadinya penyelewengan dan perubahan yang tidak saja berkenaan dengan hakikat sejarah, tetapi juga meyangkut penafsiran teks-teks keagamaan berikut maknanya.

Berdasarkan alasan demikian ini, maka semenjak pemerintah Israel menduduki kota Jerusalem Lama paska Perang Juni 1967, usaha-usaha penerbitan masuskrip Laut Mati secara praktis terhenti. Sementara di sana masih tersisa lebih dari separoh yang belum sempat diterbitkan.

Bahkan lebih dari itu, pemerintah Israel berupaya untuk membungkam suara-suara yang datang dari segala penjuru -yang paling lantang justru dari para ilmuan Israel sendiri-. Untuk berkelit dari desakan terus­ menerus itu, pemerintah Israel merencanakan sebuah aksi simbolis. Pihak berwenang di Depertemen Arkeologi Israel mengirimkan gambar-gambar potografi yang diklaim sebagai telah mewakili seluruh naskah yang ada di musium Rockefeller di Jerusalem, kepada Universitas Oxford di Inggris dan kepada sebuah universitas di Amerika Serikat. Selanjutnya pemerintah Israel berpura-pura seolah-olah geram dan melancarkan aksi protes ketika universitas yang dimaksud menerjemahkan dan mempublikasikan gambar-gambar photografi manuskrip tersebut tanpa izin resmi dari pemerintah Israel.

Drama simbolis pemerintah Israel ini, agaknya dimaksudkan untuk memberi kesan seolah-olah semua naskah manuskrip telah diterjemahkan dan dipublikasikan, sehingga dengan demikian tidak akan ada lagi alasan pihak manapun untuk mendesak pemerintah Israel agar memperlihatkan semua naskah kuno yang ada di tangannya.

Bisa dipastikan bahwa di sana masih ada sejumlah naskah yang potongan­potongannya masih belum terpublikasikan, dan oleh pihak-pihak tertentu sengaja dirahasikan keberadaannya, agar dengan demikian ia akan dilupakan kembali oleh sejarah. Akan tetapi, bagian yang telah dipublikasikan sebelumnya, cukup untuk memberikan penjelasan kepada kita apa sejatinya misteri yang oleh pihak tertentu sengaja ditutup-tutupi. Inilah yang hendak kita coba untuk mengungkapnya pada bahasan-bahasan berikut.

Manuskrip Laut Mati yang dimaksud adalah sekumpulan tulisan tangan kuno yang berhasil diketemukan antara tahun 1947 – 1956 di dalam gua­-gua tersembunyi di pegunungan yang terletak di sebelah barat Laut Mati, antara lain kawasan Qumran, Muraba’at, Khirbat, Mrd, Ein Jeda dan Masada.

Penemuan tersebut, khususnya yang berasal dari wilayah Qumran atau Umran, wilayah Tepi Barat Jordan yang berjarak hanya beberapa kilometer selatan kota Yerikho (Areeha), semenjak setengah abad yang lalu, telah membawa dampak sangat dalam pada pola pikir peneliti-peneliti Yahudi dan Kristen di seluruh dunia. Selanjutnya penemuan-penemuan spektakuler itu, secara pasti, telah mengakibatkan terjadinya perubahan pada banyak struktur kepercayaan yang selama ini diyakini di Palestina. Meski demikian, kita masih berada di awal langkah sehingga belum bisa diharapkan untuk mendapatkan hasil-hasil yang sempurna, kecuali apabila seluruh naskah yang ada berhasil dipublikasikan dan difahami maknanya oleh para peneliti.

Ketika Perang Dunia II hampir reda, tepatnya pada bulan Pebruari tahun 1947, ditemukan gua pertama dekat Laut Mati. Ketika itu Palestina di bawah perwalian Inggris dan Jerusalem masih dalam genggaman rakyat Palestina. Awalnya, Muhammad Ad-Dib, seorang anak gembala kehilangan seekor domba miliknya. Ia berasal dari suku Ta’amirah yang mendiami wilayah yang membentang dari Jerusalem hingga tepian Laut Mati. Dalam usaha menemukan dombanya yang tersesat, anak gembala itu naik ke sebuah batu cadas.

Dari tempat itu ia melihat celah sempit dari sebuah tebing yang berhadapan dengan lereng gunung. Dipungutnya sebuah batu, ia lemparkan batu itu ke dalam gua dan sekonyong­-konyong terdengar beturan batu yang dilemparkannya dengan benda-benda yang tampaknya terbuat dari bahan tembikar. Gembala kecil itu kemudian menaiki lereng gunung dan mengintip dari atas. Dalam suasana remang-remang, Muhammad menyaksikan sejumlah perabot dari tembikar yang tersusun rapi di lantai gua. Esok paginya, Muhammad kembali ke gua diikuti beberapa orang kawan. Dan benar, di dalam gua itu mereka menemukan seperangkat perabot dari tembikar dan tujuh gulungan tulisan tangan.

Dalam waktu singkat, naskah manuskrip tulisan tangan itu telah dipamerkan untuk dijual oleh pedagang barang antik di Jerusalem, bernama Kando. Ia membeli barang itu dari seorang penduduk Ta’amirah. Athanasius Samuel, Kepala Biara Katolik Saint Markus di Swiss yang pada saat itu sedang berada di Jerusalem membeli 4 buah manuskrip, sedangkan 3 buah lainnya dibeli oleh Profesor Eliezer Sukenik dari University of Hebrew di Jerusalem.

Ketika Perang Arab – Israel berkecamuk, menyusul proklamasi berdirinya Negara Israel pada tanggal 15 Mei 1948, Atanasius khawatir akan nasib naskah-naskah kuno yang dibelinya. Ia berniat mengirimkan ke-empat naskah itu ke Amerika Serikat untuk dijual di sana. Namun akhirnya naskah-naskah itu dibeli oleh Yigael Yadin -anak Profesor Sukenik­dengan harga seperempat juta US dollar atas nama Hebrew University di Jerusalem. Dengan demikian, tujuh naskah temuan pertama itu berada dalam kepemilikan Hebrew University di Israel.

Ketika dicapai kesepakatan damai Arab-Israel pada 7 Nopember 1949, kawasan Qumran dan sepertiga bagian utara wilayah Laut Mati menjadi wilayah teritorial Kerajaan Hashemit Jordania, sehingga dengan demikian pihak berwenang di Jordan dapat dengan leluasa melancarkan rangkaian ekspedisi arkeologis guna melacak keberadaan manuskrip kuno yang masih tersisa. Meskipun di pihak lain warga Ta’amirah merahasiakan keberadaan gua­gua misterius itu, namun pada akhirnya pihak berwenang Jordan berhasil menemukannya pada akhir bulan Januari 1949.

Menyusul penemuan lokasi gua-gua Qumran, pihak berwenang Jordan segera melancarkan ekspedisi pencarian di dalam gua-gua tersebut. Di bawah pengawasan G.L. Harding, seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris yang yang menjabat sebagai Direktur Departemen Arkeologi Jordan bersama Pendeta Roland de Vaux direktur French Dominican I’Ecole Biblique, di Jerusalem Timur, ekspedisi itu berhasil menemukan ratusan potongan-potongan kecil di dalam gua berikut benda-benda kuno dari tembikar, kain dan benda-benda dari kayu. Benda-benda antik tersebut tentu sangat membantu upaya menentukan masa sejarah tulisan-tulisan tangan dari zaman kuno itu.

Namun sayangnya, ekspedisi kali ini tidak dilanjutkan hingga mencakup wilayah Khirbat – dataran di bawah lokasi gua- kecuali pada bulan Nopember 1951, di mana diketemukan puing-puing perkampungan kuno yang didiami oleh para pengikut sekte Esenes, di dalamnya juga diketemukan benda­benda kuno romawi antara lain; kepingan uang logam, yang dari masa pembuatannya mengindikasikan bahwa gua-gua tersebut dihuni oleh orang-orang tertentu hingga berkobarnya gerakan pemberontakan Yahudi melawan penguasa Romawi antara tahun 66 – 70 M, yang berakhir dengan pembumihangusan kota Jerusalem dan diusirnya bangsa Yahudi dari kota tersebut dan wilayah-wilayah lain di sekitar Jerusalem.

Karena tamak untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan materi, penduduk Ta’amirah menjelajahi hampir seluruh kawasan tepi Laut Mati guna menemukan manuskrip-manuskrip lain yang diperkirakan masih tersembunyi di gua-gua wilayah pegunungan. Pada bulan Nopember 1952, seorang warga Badui Ta’amirah berhasil menemukan gua lain yang tersimpan di dalamnya sejumlah besar gulungan manuskrip yang telah lapuk dan menjadi potongan­potongan kecil. Ia kemudian menjualnya kepada pihak berwenang di Jordan. Cara pencarian yang dilakukan oleh penduduk Ta’amirah itu kemudian ditiru oleh pemerintah Jordan untuk melakukan eksplorasi di gua­gua Laut Mati dalam upaya menemukan naskah­naskah yang masih tersisia. Puncaknya, pada tahun 1965, ditemukan sekumpulan gua yang terdiri dari dua belas buah, juga di wilayah Qumran. Gua-gua baru yang berhasil ditemukan itu selanjutnya diberi nomor sesuai urutan penemuan. Warga Ta’amirah menemukan gua nomor 1, 4, dan 6, sedangkan tujuh gua laiinnya ditemukan oleh pihak berwenang Jordan.
Di pihak lain, Athanasius -setelah melakukan tes kelayakan arkeologis naskah-naskah Laut Mati­telah memberil
Pater De Voux, selanjutnya ditunjuk menjadi Penanggung jawab Ekspedisi Arkeologis Jordan dalam upaya menemukan naskah-naskah kuno di Qumran, merangkap Penanggung Jawab proyek penyiapan dan penerjemahan Naskah. Oleh de Foux, potongan­potongan naskah yang berhasil diketemukan di Gua Nomor-1 diserahkan kepada Dominique Partolemi dan Millick, keduanya patner kerja de Foux di French Dominican I’Ecole Biblique. Penerbitan naskah terjemahan dilakukan oleh Oxford University pada tahun 1955. Namun sebelum itu, pemerintah Jordan telah terlebih dahulu membentuk I

Menyusul sesudah itu, pada tahun 1961, terjemahan manuskrip yang diketemukan di gua kawasan Muraba’at, arah selatan Qumran, oleh Josef T. Milik, telah dipublikasikan pula. Bagian keempat dari manuskrip Muraba’at yang berisikan kitab-kitab Mazmur yang berasal dari temuan di gua nomor 11 itu dipublikasikan pada tahun 1965. Sedangkan bagian kelima yang merupakan potongan-potongan yang berasal dari gua nomor 4 diterbitkan pada tahun 1968.

Pada perkembangan berikutnya, diketemukan pula manuskrip-manuskrip kuno di gua-gua lain di luar kawasan Qumran, antara lain di wilayah Mird, arah barat daya Qumran, Muraba’at (arah tenggara Qumran) dan Masada, sebuah benteng kuno Yahudi di selatan Laut Mati yang dikuasai pemerintah Israel. Dalam usaha menemukan manuskrip-manuskrip kuno itu, penduduk Qumran tidak puas dengan pencarian di Qumran saja, mereka bahkan telah menjelajahi hampir seluruh kawasan pegunungan yang membentang sepanjang kawasan pantai Laut Mati. Pada bulan 0ktober tahun 1951 lagi-lagi seorang warga Badui Ta’amirah menemukan sejumlah manuskrip dalam bahasa Ibrani dan Yunani di sebuah gua di kawasan oase Muraba’at, kurang lebih 15 km selatan gua Qumran yang pertama, lalu ia menjual naskah temuan itu kepada pihak berwenang Jordan. Pada saat yang sama, sejumlah warga Ta’amirah lainnya menemukan sebagian tulisan-tulisan kristiani di wilayah Mird, dekat Qumran, di antaranya tertulis dalam bahasa Suryani. Sebuah tim ekspedisi yang beranggotakan para arkeolog Israel di bawah pimpinan Yigael Yadin, juga melakukan pencarian naskah kuno antara tahun 1963 – 1965, khususnya di bekas-bekas peninggalan di benteng Masada, dalam wilayah kekuasaan Israel, arah timur laut kota Arikha (AI-Khalil), dan berhasil menemukan beberapa buah naskah kuno. Namun yang menjadi sorotan kita di sini adalah tulisan-tulisan kuno yang berasal dari Qumran, yang diyakini merupakan peninggalan orang­orang sekte Esenes, bukan tulisan-tulisan Yudaisme dan Kristen yang ditemukan di luar Qumran.

Pecahnya Perang Arab – Israel tahun 1967 menyebabkan jatuhnya wilayah Tepi Barat ke dalam cengkeraman pemerintah pendudukan Israel, begitu juga museum Jerusalem, tempat di simpannya manuskrip-manuskrip kuno. Tidak ada yang terlepas Jari penguasaan pihak berwenang Israel selain sebuah manuskrip tembaga, sebab pada saat itu, naskah berada di Amman, Jordan. Dan semenjak saat itu, semua aktifitas publikasi naskah kuno praktis terhenti.
(Footnotes)
1. Pada saat bahasa Yunani menjadi bahasa yang umum dipakai di wilayah Mediteranian, Kitab Perjanjian lama-Bible berbahasa Ibrani- kurang komperhansif bagi sebagian besar masyarakat. Karena alasan ini, para sarjanaYahudi menerjemahkan Kitab Perjanjian Lama dari bermacam-macam teks Ibrani juga dari fragmen-fragmen berbahasa Aramaik, ke dalam bahasa Latin, inilah yang disebut “SEPTUAGINT”, lihat Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition 2004 CD-Room (penerjemah)

Sumber

Dibawah ini video penjelasan singkat Dr Laurence Brown mengenai Naskah Laut Mati.
Dr Laurence Brown, seorang dokter dari Rumah Sakit terkenal di USA dan memeluk islam setelah banyak belajar tentang Islam.

 

Saat-saat Wafatnya Nabi Muhammad S.A.W (1)

Ada beberapa point yang penting menurut saya pada ucapan Rasullallah untuk selamat hidup di dunia dan akhirat….

Menit 6.58 >

Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah dikalanganmu.

 

40 Hadits Terpenting Tentang Hari Kiamat

Hanya Gambaran mengenai kehancuran yang dahsyat
Hanya Gambaran mengenai kehancuran yang dahsyat

 Hadits Pertama:

JANGAN MUDAH MENYALAHKAN ORANG LAIN

Dari Abu Hurairah Ra., bahwasanya  Rasullullah SAW bersabda: “Jika ada seseorang berkata, “orang banyak  (sekarang ini) sudah rusak, maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak di antara mereka.” (HR. Muslim)

Keterangan:

Imam Nawawi ketika menulis Hadits ini dalam kitab Riyadus-Solihin, beliau memberikan penjelasan seperti berikut: “Larangan seperti di atas tadi  (larangan mengatakan orang banyak telah rusak) adalah untuk orang yang mengatakan sedemikian rupa dengan tujuan rasa bangga pada diri sendiri, sebab dirinya tidak ru sak, dengan tujuan merendahkan orang lain dan merasa dirinya lebih mulia dari pada mereka. Maka yang demikian ini adalah haram. Adapun orang yang berkata seperti ini karena ia melihat kurangnya perhatian orang banyak terhadap agama mereka serta didorong oleh perasaan sedih melihat nasib yang dialami oleh mereka dan timbul dari perasaan cemburu terhadap agama, maka perkataan itu tidak ada salahnya.

Hadits ini sengaja diletakkan di permulaan buku ini supaya menjadi suatu peringatan kepada Umat Islam apabila menerangkan Hadits-hadits akhir zaman seperti apa yang dituliskan di sini yang banyak menyingkap tentang kemunduran umat Islam dan kerusakan moral mereka. Oleh karena itu, kita coba mengaitkan hadits-hadits tersebut dengan realiti umat Islam dewasa ini, maka janganlah kita merasa bangga dan ‘ujub dengan diri sendiri, bahkan hendaklah kita menegur diri kita masing-masing dan jangan senang menuding jari ke arah orang lain. Walaupun kerosakan moral umat Islam dewasa ini perlu dibicarakan untuk tujuan memulihkan, namun penyingkapannya itu perlu dalam bentuk yang sehat dan dengan perasaan yang penuh kasih sayang serta dengan rasa cemburu terhadap agama, bukan dengan perasaan bangga diri dan memandang rendah kepada orang lain.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan limpah karuniaNya mencucuri kita rahmat, taufiq dan hidayah.

Lanjutkan membaca “40 Hadits Terpenting Tentang Hari Kiamat”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑